Opini

8 Tips Membangun Masyarakat Harmonis Menurut QS. Al-Hujurat

masyarakat harmonis
Penulis Ammar Ahmad

Alquran adalah yang sangat spesifik dalam ajarannya. Allah ini menyentuh setiap segi manusia termasuk tata cara bermasyarakat. Untuk membangun yang dan damai memang senantiasa menjadi pekerjaan para Allah untuk melaksanakannya.

Pekerjaan mempersatukan umat, menciptakan saling cinta, dan kasih satu sama lain adalah senantiasa diemban oleh utusan Tuhan dan kitab Tuhan. Oleh karena itu, penulis akan menyampaikan beberapa aspek dari tata cara hidup bermasyarakat yang disampaikan oleh QS. Al-Hujurat ayat 11-14 yang dikenal dengan Ukhuwah Islamiyah yakni persaudaraan dalam Islam.

Ayat-ayat ini membicarakan mengenai bagaimana cara untuk membangun masyarakat yang serasi, harmonis, akrab, dan saling berkerja sama. Oleh karena itu, ayat-ayat ini menyampaikan beberapa penyakit rohani, berupa keburukan-keburukan yang berbahaya dan dapat menimbulkan pertentangan serta perselisihan dalam masyarakat lokal maupun internasional. Surat ini juga menyampaikan tips kepada kita guna menghindarinya. Berikut beberapa tips untuk hidup bermasyarakat sesuai ajaran Alquran Surat Al-Hujurat:

  • Menjaga perdamaian antara golongan

Allah Taala berfirman:

Sesungguhnya semua orang mukmin bersaudara. Maka damaikanlah di antara kedua saudaramu, dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu dikasihi.” (QS. Al-Hujurat: 11.)

Dalam kehidupan bermasyarakat sudah barang tentu kita hidup di tengah-tengah banyak golongan, komunitas, bahkan golongan berbeda agama. Hal ini sangat sensitif dan sering menimbulkan konflik. Islam mengajarkan bahwa setiap orang beriman adalah bersaudara terlepas dari apa kepercayaan mereka. Jadi, walaupun beda golongan baik Sunni, Syiah, Ahmadiyah, bahkan agama lain pun tetap semuanya bersaudara.

Bila terjadi konflik di antara mereka maka sudah menjadi kewajiban seorang mukmin untuk menciptakan perdamaian di antara mereka. Ketahuilah, kekuatan masyarakat muslim yang harmonis terletak pada persaudaraan yang ideal. Mencoba menimbulkan kerusuhan dan perpecahan apalagi penganiayaan sangat bertentangan dengan ajaran Alquran ini.

  • Setiap individu hendaknya mengamalkan takwa

Dari ayat yang sama terdapat frasa “bertakwalah kepada Allah supaya kamu dikasihi.” Jadi, sangat penting bagi setiap orang dalam masyarakat untuk berupaya mengamalkan kaidah takwa. Takwa adalah menjaga diri dari hal-hal yang merugikan dan memudaratkan. Dengan demikian, umat muslim berupaya melindungi lingkungan masyarakatnya dari hal-hal yang dapat merugikan apakah kerugian moral, material, atau yang lainnya.

  • Jangan mencemooh kaum lain

Kembali Alquran ingatkan bahwa perbedaan suku, kaum, bangsa dan lain-lain sangat berpotensi untuk menimbulkan konflik. Alquran memberikan tips agar terhindar dari itu semua yakni, “Janganlah suatu kaum mencemooh kaum yang lain, boleh jadi mereka yang dicemooh itu lebih baik dari mereka yang mencemooh, dan janganlah segolongan wanita mencemoohkan wanita yang lain, boleh jadi mereka yang dicemooh itu lebih baik dari mereka yang mencemooh.” (QS. Al-hujurat: 12.)

Alquran mengingatkan kepada kita betapa bahayanya lidah bila tidak kita jaga. Lidah adalah salah satu sumber dosa terbesar bagi seorang manusia bila tak mampu untuk menjaganya. Oleh karena itu, hendaknya kita jaga lidah kita jangan sampai mencemoohkan orang lain dalam masyarakat kita.

Secara khusus ayat ini menyinggung kaum hawa; tak dapat dielakkan lagi bahwa memang wanita lebih condong untuk mencemooh dan tidak berkuasa menahan lidahnya. Akar dari dosa semacam ini adalah kesombongan dan perasaan lebih unggul dari orang lain. Allah Taala menerangkan bahwa boleh jadi justru orang atau kaum yang selama ini kita comooh ternyata jauh lebih baik dari kita pada pandangan Allah.

  • Jangan mencela dan memanggil orang lain dengan julukan buruk

Allah Taala berfirman, “Dan janganlah kamu mencela satu sama lain. Dan jangan memanggil satu sama lain dengan nama-nama buruk. Dipanggil dengan nama buruk setelah beriman adalah hal yang seburuk-buruknya.” (QS. Al-Hujurat: 12.) Allah Taala kembali mengingatkan kita untuk menjaga lidah kita. Jadi janganlah kita mengejek orang lain baik pada perilaku atau fisiknya. Hal ini akan menimbulkan perasaan sakit hati yang kelak berujung pada renggangnya hubungan, perselisihan, bahkan pembunuhan.

  • Jangan berprasangka buruk pada orang lain

Allah Taala berfirman, “Hindarilah banyak prasangka! Karena sebagian prasangka itu dosa.” (QS. Al-Hujurat: 13.) Perselisihan dalam masyarakat sering timbul akibat adanya prasangka-prasangka buruk terhadap kaum lain yang belum dibuktikan kebenarannya. Tuhan menyatakan bahwa sebagian prasangka adalah dosa. Prasangka buruk timbul akibat kurangnya berkomunikasi dan bermasyarakat.

Prasangka bukanlah sarana untuk menemukan kebenaran. Alih-alih berprasangka lebih baik kita menyelidiki dengan adil dan benar setiap informasi yang kita terima sesuai anjuran Tuhan: “jika datang kepadamu seorang durhaka dengan membawa suatu berita, maka selidikilah!” (QS. Al-Hujurat: 7.) Pada QS. Yunus: 37, Allah Taala berfirman, “Sesungguhnya dugaan itu tidak berguna terhadap kebenaran sedikit pun.”

  • Jangan memata-matai satu sama lain.

Allah Taala befirman, “Dan janganlah kamu memata-matai satu sama lain” (QS. Al-Hujurat: 13.) Ayat ini melarang kita untuk mencari-cari kelemahan dan kesalahan orang lain. Lihatlah orang lain dari sisi baiknya guna terjalin hubungan yang baik pula. Alih-alih mencari-cari kesalahan orang lain lebih baik kita intospeksi diri kita masing-masing dan memperbaiki kelemahan dan kesalahan kita.

  • Jangan membicarakan keburukan orang lain

Allah Taala berfirman, “dan jangan ada di antara kamu menggunjing sebagian yang lain. Apakah salah seorang di antaramu suka memakan daging saudaranya yang telah mati? Tentulah kamu merasa jijik kepadanya.” (QS. Al-Hujurat: 13.) Lagi-lagi Tuhan mengingatkan akan bahaya dari lidah yang tak terjaga.

Beberapa aspek untuk membangun masyarakat yang harmonis ternyata sangat berkaitan dengan penjagaan terhadap lidah tiap individu dalam masyarakat. Membicarakan keburukan orang lain akan menimbulkan rasa benci didalam hati tiap individu kepada orang yang tengah dibicarakan. Selain itu orang-orang yang tadinya menaruh rasa hormat kepada orang yang dibicarakan itu malah menjadi membencinya karena mengetahui keburukan dan kelemahannya.

Rasa benci ini akan menghancurkan kesatuan dalam masyarakat. Rasa benci akan menimbulkan permasalahan yang berkepanjangan. Apalagi bila dosa ini dilakukan di depan anak-anak yang masih suci. Mereka akan meniru orang tuanya yang suka ghibat itu dan menjadi tidak hormat kepada orang yang dibicarakan itu. Maka perselisihan akan mulai terjadi dan akan sangat sulit untuk memperbaikinya.  

  • Berupayalah untuk saling mengenal, menjalin hubungan yang baik dan saling memberikan manfaat

Allah Taala berfirman, “Kami telah menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling mengenal.” (QS. Al-Hujurat: 14.) Setelah ayat-ayat sebelumnya membicarakan tentang hidup bermasyarakat yang Islami. Ayat ini menyampakan dasar persaudaraan yang melingkupi dan meliputi seluruh umat manusia. Ayat ini adalah piagam persaudaraan dan perdamaian umat manusia. QS. Al-Hujurat ini mengajarkan bahwa manusia itu sama dalam pandangan Tuhan.

Hendaknya jangan timbul kesombongan dalam diri seorang individu atau bangsa karena semua hanya diciptakan dari seorang bapak dan ibu. Nilai suatu bangsa dan individu tidak terletak pada ras, keturunan, warna kulit, tempat asal, suku, bangsa, dan lain sebagainya melainkan oleh akhlak, perilaku, dan ketakwaannya. Allah Taala berfirman, “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 14.) Maksud dari diciptakannya kita berbangsa-bangsa adalah untuk mengenal, menjalin hubungan yang baik, serta saling memberikan manfaat.

Itulah beberapa tips yang disampaikan oleh QS. Al-Hujurat berkenaan dengan membangun masyarakat yang harmonis. Pada masa sekarang yang penuh dengan konflik ini, ayat-ayat ini benar-benar penting untuk diamalkan.

Dengan mengamalkannya maka insya Allah masyarakat internasional yang harmonis, serasi, dan akrab akan terwujud. Inilah salah satu keunggulan Alquran, di mana ajarannya benar-benar memperhatikan setiap aspek kehidupan manusia, termasuk bagaimana seharusnya manusia dalam menjalani hidup bermasyarakat.

REFERENSI:

Farid, Malik Ghulam. The Holy Qur’an English Translation & Commentary. Dewan Naskah JAI. 2014. cet.5. Neratja Press: Bogor.

Sumber Gambar: http://www.lander.edu/news/2017/05/23/helping-hands

Tentang Penulis

Ammar Ahmad