Akhlaq Faḍi'l-Lāh

Agama Islam itu Fitrah | Hakikat Agama Islam (3/4)

Penulis Abdul Rozaq

SETIAP ajaran agama Islam itu bisa dipahami dan dinalar oleh akalAJARAN agama itu berguna apabila diimani dan diamalkan.[1] Guna mengimani agama Islam, itu diperlukan keyakinan[2] dan keyakinan itu bisa diperoleh melalui atau makrifat.

Ilmu atau makrifat agama Islam itu terdapat dalam kitab suci Alquran dan untuk mendapat isi kandungan makrifat Alquran itu, hati harus mendapat anugerah kesucian dari .[3]

Pendek kata, keyakinan akan kebenaran agama Islam itu sangat dibutuhkan untuk mendatangkan kekuatan dalam mengamalkannya. Sehingga, antara iman dan amal menjadi terpadu dalam diri orang Islam.

bersabda:

لَا يُقْبَلُ إِيْمَانٌ بِلَا عَمَلٍ وَ لَا عَمَلٌ بِلَا إِيْمَانٍ

“«Lā yuqbalu īmānum-bilā ‘amal[in], wa lā ‘amalum-bilā īmān[in]». Iman tidak diterima tanpa amal dan amal tidak diterima tanpa iman.”[4]

اَلْإِيْمَانُ وَ الْعَمَلُ أَخَوَانِ شَرِيْكَانِ فِيْ قَرَنٍ لَا يَقْبَلُ اللهُ أَحَدَهُمَا إِلَّا بِصَاحِبِهِ

“«Al-īmānu wa’l-‘amalu akhwāni syarīkāni fī qaranil-lā yaqbalu’l-Lāhu ahadahumā illā bishāhibih[i]». Iman dana mal itu bagaikan dua bersaudara dalam berteman. Allāh tidak akan menerima satu dari keduanya, kecuali dengan kawannya.”[5]

Berdasarkan kedua hadits di atas, setiap ajaran agama Islam itu bisa dipahami dan dinalar oleh akal; sehingga tiada tekanan yang dipaksakan kepada akal untuk menerimanya.

Ajaran Islam yang demikian inilah yang mampu mendatangkan keyakinan yang benar dan mampu menumbuhkan kekuatan untuk mengamalkannya. Dengan demikian agama Islam mampu melahirkan iman dalam hati. Iman yang demikian itu merupakan landasan bagi perbuatan orang Islam.

Jadi, dalam agama Islam itu tidak ada ajaran yang dogmatis, yaitu suatu ajaran yang harus diterima walaupun bertentangan dengan akal. Apalagi memaksakan kehendak, itu bertentangan dengan Islam.

Rasulullah saw. bersabda:

دِيْنُ الْمَرْءِ عَقْلُهُ وَ مَنْ لَا عَقْلَ لَهُ لَا دِيْنَ لَهُ

“«Dīnu’l-mar’i ‘aqluhu wa man lā ‘aqla lahu lā dīna lah[u]». Agama seseorang tergantung akalnya, dan siapa yang tidak memiliki akal, ia tidak mempunyai agama.”[6]

Sehubungan dengan masalah iman ini, Rasulullah saw. menegaskan bahwa “Iman itu adalah keyakinan.”[7] Keyakinan itu diperoleh berdasarkan ilmu dan ilmu itu berkaitan dengan akal dan hati manusia. Inilah iman yang sejati atau yang sempurna, yaitu iman yang dihiasi dengan rasa malu kepada Allāh jika berbuat buruk atau meninggalkan kewajiban, dalam menunaikan tugas senantiasa menggunakan , artinya ia selalu berhati-hati agar tidak melakukan kesalahan dan senantiasa membekali diri dengan ilmu untuk menyokong tegarnya iman dan menambah wawasan yang lebih luas.

Rasulullah saw. bersabda:

طُوْبٰى لِمَنْ أَدْرَكَنِيْ وَ اٰمَنَ بِيْ وَ طُوْبٰى لِمَنْ لَمْ يُدْرِكْنِيْ ثُمَّ اٰمَنَ بِيْ

“«Thūbā liman adraknī wa āmana bī wa thūbā liman lam yudriknī tsumma āmana bī». Berbahagialah bagi orang yang tidak bertemu aku, kemudian dia mengimani aku.”[8]

 

Penulis: Abdul Rozaq; editor: Raam DMX

 

Bagian 4 | Bagian 1 | Bagian 2 | Bagian 3

[1] Juz I, hadis nomor 260.

[2] Kanzu’l-‘Umal Juz III, hadis nomor 7331.

[3] QS Al-Wāqi‘ah (61): 80.

[4] HR Ath-Thabrānī dalam “Mu‘jam al-Kabīr”, dari Hadhrat Ibnu Umar r.a.; Kanzu’l-‘Umal Juz I, hadis nomor 260.

[5] HR Ibnu Syāhīn dalam “As-”, dari Hadhrat Ali r.a.; Kanzu’l-‘Umal Juz I, hadis nomor 59.

[6] HR Abu Asy-Syaikh dalam “Ats-Tsawāb” dan HR Ibnu An-Najjar, dari sahabi Jabir–r.a.; Kanzu’l-‘Umal Juz III, hadis nomor 7033.

[7] Kanzu’l-‘Umal Juz III, hadis nomor 7331.

[8] HR Ibnu An-Najjar dari Hadhrat Abu Hurairah r.a.; Kanzu’l-‘Umal Juz I, hadis nomor 248.

Tentang Penulis

Abdul Rozaq