Facebook

Ahmadi Generasi Keempat

NAMA saya Muflihah Firdaus Ilyas, panggil saya LIA. Saya Ahmadi. Tidak aktif. Bukan pengurus , bukan pula—seperti adik—seorang waqf-e-nou, anak yang diniatkan mengabdi hidupnya pada Ahmadiyyah.

Delapanbelas tahun plus sembilan bulan saya jadi seorang Ahmadi. Saya cicit Abu Bakar Ayyub, bagian tiga serangkai—bersama Zaini Dahlan dan Ahmad Nuruddin—pelopor masuknya Ahmadiyyah di .

ahmadiyah-tiga-serangkaiDari pihak ayah, saya cicit Bagindo Zakaria, pengusaha Minang, penyokong dana Ahmadiyyah di masa awal. Salah satunya adalah waqaf tanah dan rumah cikal mesjid Ahmadiyyah kota Padang. Padang merupakan kota besar pertama dalam sejarah masuknya Ahmadiyyah di Indonesia.

Bangga, senang, kagum, termotivasi, lebih tepatnya tertekan—mengingat betapa jauh perbedaan dari empat generasi ini. “Hal apa yang saya miliki sehingga layak untuk menjadi keturunan mereka?”

Yang Abu Bakar Ayyub dan Bagindo Zakaria wariskan pada saya ialah keyakinan, kepercayaan hadirnya banyak kemungkinan. Optimisme membuat saya semakin baik dari hari ke harinya.

 

NASIRAT Ceria. Hari-hari sebagai seorang nasirat menyenangkan. Sesekali ikut wisata tarbiyat dan mengikuti beberapa kali lomba. Senang mengenal teman-teman baru di luar sekolah, nasirat satu cabang dan cabang lainnya. Saling menyemangati saat akan berlomba. kemenangan memberikan kepuasan! Kalau kalah? Masih ada kesempatan lain!

‘Nasirat’ merupakan sebutan Ahmadi perempuan umur 7—15 tahun, anak laki-laki disebut ‘atfal’. Lepas ‘nasirat’ kami disebut ‘lajnah imaillah’. Sementara, laki-laki 16—40 tahun akan disebut ‘khuddam’, dan ‘ansar’ untuk laki-laki paska ‘khuddam’. Masing-masing memiliki organisasi sayap bagi kaderisasi dan pendidikan.

Saat khalifah keempat Hadrat Mirza Tahir Ahmad atba. datang ke Indonesia saya masih berumur delapan tahun, sekolah kelas tiga SD. Biasanya saya tidak betah dalam tenda jalsah salanah, pertemuan tahunan nasional para Ahmadi. Saat itu berbeda, saya sering duduk dan mendengarkan. Menanti-nanti giliran melihat khalifah, saya ingin bersalaman secara langsung.

Khalifah sosok yang hanya sesekali saya lihat melalui Television (MTA.tv), sosok teladan sekaligus pemimpin bagi jamaah Ahmadiyyah. Beruntung, saya dapat dua kali foto bersama khalifah, sekali di pihak keluarga ayah, lalu ibu. Betapa beruntungnya.

Buat saya, bersalaman dengan khalifah tak terbandingkan rasanya walau dengan: Irfan Bachdim!

Sayang, kenangan manis ini tak tahan lama. Beberapa tahun kemudian, terjadi serangan pada acara jalsah salanah di Parung, Bogor. Waktu itu, Kakek Haji Anis Ahmad Ayyub berceramah. Kondisi panas dan terkantuk-kantuk. Tiba-tiba menjadi keruh dan heboh, suasana mencekam, ramai membangunkan anak dan berteriak kebingungan. Saya tidak mengerti apa penyebabnya. Nampaknya ada orang yang menyusup ke wilayah perempuan. Kegiatan dihentikan. Di luar sudah rusuh.

Timbul perasaan takut bahkan kesal. Mereka tidak punya hak mengganggu kedamaian pertemuan kami. Dalam perasaan campur aduk, saya menulis sebuah doa yang sangat inginkan saya panjatkan. Kemudian, saya kirim ke nenek dan keluarga besar, “Ya Allah, mohon ampun bagi kami semua dan mereka. Saya tahu mereka melaksanakannya semata-mata karena belum mendapat hidayah dari-Mu. Berikan mereka petunjuk-Mu dan lindungilah selalu jamaah Ahmadiyyah di Indonesia.”

Ingatan itu mendorong saya mencari cara berkomunikasi dengan Khalifah. Dengan modal komputer di rumah dan bahasa inggris yang pas-pasan, saya mengirim surat. Surat pertama saat kelas 1 SMP. Dalam surat-surat itu saya minta doa untuk kelancaran ujian dan kebebasan beribadah bagi Ahmadiyyah di Indonesia.

Doa membuat saya lebih tenang, seperti dalam menanti hasil ujian PTN.

 

SILENT Ahmadi. Masjid Ahmadiyyah terdekat dari rumah saya adalah masjid Al-Misbah di Jatibening, , ditempuh dua kali naik angkutan umum. Ketika kecil, saya sering menemani nenek dan kakek berangkat salat jumat. Setiap minggu kedua dan keempat, saya menghadiri pertemuan tarbiyat nasirat bersama adik menghadiri pertemuan atfal.

Saya tidak akfif dalam kegiatan Ahmadiyyah. Sebenarnya, saya enggan datang tarbiyat ke masjid. Sering hanya kami berdua yang datang, sesekali ditambah dua atau tiga anak kecil yang jauh lebih muda. Para pengajar tampak kurang siap dengan materi yang akan mereka berikan. Sempat terpikir memberi ide-ide tarbiyat yang lebih baik, rasa motivasi mereka kurang.

Sejak satu Agustus 2010 saya pindah ke Depok. Sekarang (2011), saya mahasiswi tingkat satu Universitas Indonesia, jurusan Kesehatan Masyarakat. Di jurusan ada senior seorang khuddam dari cabang yang sama. Ia begitu aktif, seorang pengurus di Ahmadiyyah cabang Bekasi. Saya bertanya tentang mata kuliah dan [keberadaan] Ahmadi lain yang ada di kampus; anehnya, ia tidak tertarik untuk mencari tahu. Saya harus cari tahu: teman-teman Ahmadi di UI.

Sekali ia antar saya ke mesjid Ahmadiyyah di Lenteng Agung, cabang Ahmadiyyah terdekat. Jadwal semester satu bentrok dengan salat Jumat, semester dua saya sengaja memilih jadwal, menyesuaikan agar bisa salat Jumat di Lenteng Agung.

 

MAKHLUK sosial. Awalnya, saya ingin masuk oganisasi kampus bidang sosial masyarakat, namun ditolak. Campur tangan politik sudah kelewatan di lembaga kampus. Pemilihan staf tak netral, hanya buat orang-orang yang ‘segolongan’ atau dekat ketua departemen. Senang ketika saya magang dalam penyuluhan kesehatan di sekitar Depok di bagian dari Simposium Kesehatan. Mengunjungi rumah belajar di kampung Depok-Limo, mengajarkan tentang hidup sehat dan bermain dengan anak-anak kecil di kampung.

Saya berencana mengajar di rumah belajar Sosmas BEM UI, juga menjadi anggota Green Community UI—sebuah komunitas pecinta alam. Di sana saya bertemu mahasiswi Ahmadi [dari] Tangerang. Kami memiliki banyak kesamaan minat di bidang sosial. Tanggal 25—27 bulan Januari 2011 ini, bersama tiga orang teman SMA, berinisiatif untuk menjadi motivator di satu sekolah sederhana di daerah Rangkasbitung.

Sesungguhnya, saya orang yang tidak menutup diri untuk suatu pertemanan. Berusaha terus berbagi ilmu dan pendapat dengan orang lain. tetapi tidak banyak yang satu pikiran. Saya lihat, sebagian besar pertemanan hanya pendamping saat ingin bersenang-senang, bermain, atau berkeluh kesah. Bagi saya teman lebih dari itu.

Hanya satu-dua teman terdekat yang mengetahui saya Ahmadi. Mereka yang bisa diajak berbagi cerita, beradu pendapat, dan terbuka pikirannya tentang keyakinan. Perbincangan saya di SMA tak sampai-sampai mengenai Ahmadiyyah karena keterbatasan ilmu.

Setelah saya masuk ke lingkungan kampus, saya harap ada peningkatan dalam mempelajari dan mendiskusikan tentang agama. saya mulai membaca seperti Tiga Masalah Penting, Jalan Menuju Keimanan, dan Tiga Serangkai (tentu saya keturunan mereka) agar saya bisa menjelaskan apa itu Ahmadiyyah. Dan, tentu, tidak hanya menjadi Ahmadi keturunan—generasi keempat—saja.

 

Penulis: Muflihah Firdaus Ilyas (asal dan tinggal di Bekasi, )
Judul: Ahmad Generasi Keempat (962 kata)
Sumber: Facebook; rilis: 26 Januari 2011, 19.03; akses: 6 November 2013, 12.45)

CATATAN: Tulisan ini telah melewati penyuntingan ulang oleh admin RajaPena.org.

Tentang Penulis

Muflihah Firdaus Ilyas