Opini

Ahmadiyah dan Sumpah Pemuda

Perkuliahan hari ini telah selesai. Sudah seharian aku mendengarkan perkuliahan dari dosen dengan hadiah tugas yang menumpuk. Seperti biasanya, aku pulang menggunakan busway yang sudah menjadi kebiasaan aku. Senang rasanya ketika aku melihat pemandangan dari jendela busway.

Melihat jalanan dengan lampu dari kendaraan yang berterangan. Hal ini semakin dirasakan di kala hujan. Tapi, pemandangan hari ini cukup berbeda. Aku melihat demo yang dilakukan oleh mahasiswa. Banyak mahasiswa yang turun ke jalan untuk menuntut hak mereka.

Tercengang, miris, sedih, itulah yang aku rasakan sebagai mahasiswa. Dengan bangganya mereka menggunakan jaket almamater dan turun ke jalan. Aku sebagai mahasiswa cukup mengapresiasi aksi mereka. Dengan semangat yang membara mereka menyatukan suara mereka untuk melawan ketidakadilan yang terjadi.

Tetapi, aku juga sedih karena dengan turunnya mereka ke jalan menyebabkan permasalahan di mana-mana. Banyak masyarakat yang menganggap miring aksi mereka, karena menimbulkan kerusakan dan kemacetan yang kian bertambah di Ibukota. Aku sebagai mahasiswa dan masyarakat sangat merasakan kedua hal itu.

Ah, sudah cukup bagi kita melihat hal seperti itu. Sudah tiada habisnya lagi di zaman sekarang ini. Banyak yang tidak sadar karena pengaruh dari luar yang menurutku tidak masuk akal. Di mana kau wahai ? Kita selalu bermimpi dan mengharapkan masa depan yang tentram dan damai.

Tapi kita lihat sekarang di depan mata apa yang telah terjadi. Perpecahan telah timbul kembali di masyarakat dan membuat kegaduhan dan keresahan bagi kita. Sadar atau tidak, tapi inilah yang terjadi. Memang kita ingin perubahan, tapi apakah dengan cara seperti ini? Apakah kita akan membiarkan hal ini terus terjadi?

Kita telah diajarkan dari kecil tentang sebagai dasar negara. Terdapat 5 sila yang harus kita implementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Antara 1 sila dengan sila yang lainnya saling berterkaitan satu sama lain. Salah satu nya adalah pada kasus yang sudah dijelaskan. Di dalam sila ke 4 kita telah diajarkan dalam penyelesaian masalah harus dilakukan dengan musyawarah. Selain itu di dalam Al-Quran, Allah SWT telah berfirman dalam surah Ali Imran ayat 159:

 فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”

Kita juga telah diajarkan dari kecil tentang . telah disusun oleh pemuda dari berbagai suku, bangsa, ras dan agama untuk menyatukan suara sebagai pemuda pembawa perubahan. Tidak mudah untuk menyatukan pemuda, banyak pertimbangan dan pemikiran kritis yang telah disumbangkan untuk membawa perubahan.

Di dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi karangan Ir. Soekarno telah menekankan peranan penting pemuda bagi kemajuan bangsa. Ada satu peribahasa Belanda yang telah diputar 180 derajat oleh beliau, yaitu dari wie de jeugd heeft, heeft de toekomst menjadi wie de toekomst heeft, heeft de jeugd yang artinya siapa yang menggengam hari kemudian di dalam tangannya, dia lah yang digemari pemuda pada hari sekarang.

. Ya, kalian tidak salah baca. Apa yang kalian pikirkan tentang kata tersebut? Mungkin sebagian dari kita menggagap hal yang demikian. Tapi, darimana kalian mendapatkan informasi tersebut?

Dari perkataan orang yang belum tentu benar kebenarannya atau apa? Di dalam Islam selalu diajarkan untuk tabayyun, yaitu mencari kebenaran sumber berita. Jangan sampai kita hanyut dalam tipu muslihat yang telah diciptakan untuk membuat kehancuran kian membara.

Ahmadiyah merupakan sebuah gerakan kebangkitan dalam Islam yang telah didirikan pada tahun 1889 oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. Ahmadiyah memliki konsep Khilafah yang hingga saat ini dipimpin oleh Khalifah ke V yaitu Hadhrat Mirza Masroor Ahmad dan ajarannya telah diterima oleh 210 negara.

Dalam penyebarannya, Ahmadiyah mengedepankan ajarannya untuk mengakhiri perang agama, menolak pertumpahan darah dan membangkitkan kembali moralitas, keadilan dan perdamaian.

Hadhrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, Khalifah Muslim Ahmadiyah ke II telah menekankan peran pemuda dalam pembawa perubahan. “Nations Cannot be Reformed without the Reformation of the Youth”, merupakan suatu pesan bagi para pemuda untuk membawa perubahan dengan menciptakan persatuan dan kesatuan. Reformasi pemuda merupakan suatu hal yang penting karena kita lah yang akan meneruskan perjuangan kaum pendahulu.

Kita sebagai pemuda merupakan penerus dari generasi sebelumnya. Kita tidak ingin masa depan hancur kembali. Sudah cukup kita mengalami masa suram dengan berbagai aksi demo yang tiada hentinya. Dari masa penjajahan, masa rezim orde baru hingga aksi yang tidak ada hentinya. Apa yang harus kita lakukan sekarang?

Setiap ada permasalahan yang timbul cobalah untuk tidak mudah terpancing emosi. Tidak semua permasalahan harus diselesaikan dengan cara kekerasan. Cobalah untuk bermusyawarah terlebih dahulu.

Membangun komunikasi dan mengklarifikasi kebenarannya merupakan hal penting. Dengan terjalinnya komunikasi yang baik, kita dapat menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan perpecahan.

Selanjutnya dengan toleransi antar agama. Banyak demo saat ini yang mengatasnamakan agama. Kita sering membaca Al-Quran, melaksanakan shalat 5 waktu, dan melaksanakan perintah agama sesuai keyakinan kita. Lantas, apakah kita telah mengamalkannya? Atau hanya sekedar membaca tanpa merefleksikannya dalam kehidupan?

Kita adalah makhluk ber-Tuhan. Tidak ada agama satupun yang mengajarkan kebencian. Penting bagi kita untuk membangun toleransi antar agama untuk menciptakan perdamaian.

Di dalam Ahmadiyah terdapat motto Love for All, Hatred for None. Motto ini disampaikan oleh Khalifah ke III Ahmadiyah yaitu Hadhrat Mirza Nasir Ahmad. Dalam menerangkan motto ini beliau mengatakan:

“Islam mengajarkan hidup saling mencintai dan kasih sayang serta penuh kerendahan hati.”

Selain itu, dari Khalifah Ahmadiyah saat ini, yaitu Hadhrat Mirza Masroor Ahmad mengatakan “Motto ini mengandung arti kita tidak memiliki permusuhan, tidak ada kedengkian, dan tidak ada dendam bagi siapapun di dalam hati kita.”

Kita ingin menciptakan masa depan yang lebih baik, kita ingin menciptakan perdamaian dunia di tengah kehancuran saat ini. Kita sebagai pemuda mempunyai peran penting sebagai penerus bangsa.

Perdamaian merupakan satu-satunya jalan untuk menghentikan perpecahan yang tiada hentinya. Marilah kita sadar dan melihat ke depan. Karena masa depan berada di tangan kita, Wahai Pemuda!

Sumber

  1. Soekarno, Ir. 1964. Dibawah Bendera Revolusi. Jilid Pertama, Cetakan Ketiga. Jakarta: Panitya Penerbit Dibawah Bendera Revolusi
  2. http://ahmadiyah.id/ahmadiyah
  3. http://www.indeksberita.com/files/photo/2016/10/pemuda.jpg

Tentang Penulis

Nabilah Hurul Aini

Tinggalkan komentar