Facebook

Saya Ahmadi, lho!

AHMADIYAH tidak mengajarkan ”Bagaimana kita bisa terlihat sempurna dan benar di mata orang-orang?”, tetapi ”Bagaimana cara kita membawa orang-orang yang tidak tahu tentang kebenaran itu menjadi tahu.” (Adinda Firdhausya; 1271 kata-atau kurang)

Penulis: Adinda Firdhausya (tinggal Jawa Barat)
Judul: Saya , lho! (1271 kata-atau kurang)
Media: Facebook; rilis: «16 Januari 2011 at 18:26»; akses: «13:28 24-Okt-2013»

CATATAN: Tulisan ini telah melewati penyuntingan ulang oleh admin RajaPena.org.

 

masjid-ahmadiyah-manislor

DENGAN bangganya kata-kata itu meluncur dari mulut saya. Setiap terucap, saya merasa bahwa kata-kata yang saya ucapkan bukan sekedar kata-kata saja, tetapi saya baru saja memikul tanggung jawab baru. Sebuah pernyataan yang harus kita buktikan bahwa kita spesial, bahwa kita merupakan ”orang-orang terpilih”.

“Mengapa saya seorang Ahmadi?”

Saya lahir dan dibesarkan dalam keluarga Ahmadi. Sejak kecil batin saya dipenuhi rasa penasaran,”Kenapa saya dibilang orang Ahmadi? Apa bedanya dengan orang biasa?” Saya tak tahu banyak jawaban atas pertanyaan-pernyataan itu. Seiring dengan berjalannya waktu, saya mengerti akan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu.

Suatu waktu di kelas dua SMP sebuah percakapan mengagetkan saya.

“Hei teman-teman, tau tidak? Ada satu golongan yang menyimpang dari . Pokoknya merusak ajaran . Apa itu? Ahmadiyyah.”

DEG! Degup jantung saya langsung berdebar kencang. Saya menimbang-nimbang, bagaimana saya harus bersikap? Apa saya mengaku mengenai indentitas saya? Tapi, apakah sikap saya selama ini sudah mencerminkan itu?

Ini pengalaman pertama saya menghadapi situasi yang menurut saya. Terasa sulit dan membingungkan. Saya perlu menjawab apa dan bagaimana. Saya diselubungi rasa ketakutan, bukan takut untuk diejek, tapi takut ada penjelasan saya yang rancu. Mungkin saya seharusnya diam, mendengar mereka mencaci keyakinan saya.

“Saya Ahmadiyyah,” ucap saya tegas. Teman-teman sekejap membeku, tercengang. Menatap saya tak percaya.

“Yang benar? Bohong ya kamu?”

“Benar! Saya Ahmadiyyah!”

***

SEJAK saat itu saya bisa menyampaikan apa itu Ahmadiyyah, walaupun saya merasa tak memahami benar, tapi mampu membuat mulut teman-teman saya berhenti untuk menyanggah semua penjelasan Ahmadiyyah.

Paska penyerangan terhadap markas Ahmadiyyah tahun 2005, teman-teman mulai menjelek-jelekan Ahmadiyyah. Saya gerah dengan ulah mereka yang terus-terusan terkesan menyudutkan. Beruntung ada dua orang teman sekelas juga yang Ahmadiyyah. Jaenudin dan Herman, mereka pernah tinggal di Panti Khazanah Kautsar, Tasikmalaya. Mereka juga turut membela dan menyanggah pernyataan-pernyataan teman kami tentang Ahmadiyyah, yang baru sebatas ”KATA ORANG-ORANG”.

Teman-teman laki-laki, terkesan menggunakan emosi. Mereka terus-terusan menyebut Ahmadiyyah bukan Islam, ”KAFIR!” Lama-lama, saya naik juga suara saya.

“Tunjukkan hadis mengenai tidak ada lagi nabi setelah Rasulullah saw., tanya sana sama ustad kamu. Saya tunggu jawabannya sekarang!”

“Sabar, ‘Din. Islam cinta . Diskusi baik-baik saja. Nanti malam saya tanya ustad saya. Besok sudah ada jawabannya.”

“Oke. Saya tunggu. Nah, kamu tau Islam itu cinta damai. Tapi, kenapa mereka (yang menyerang) sama sekali tidak mencerminkan akhlak Rasulullah saw.? Apa orang-orang yang merusak masjid, membakar, dan merusak Al-Qur’ān diajarkan oleh Rasulullah saw.?”

Mereka diam.

Yang lain hanya berkata, “Iya sudah, mungkin itu kepercayaan kalian. Kita masing-masing saja.”

“Iya. Dari awal juga saya, kan, bilang begitu. Tapi, kalian, kan, ngotot terus-terusan menyudutkan kami. Masa kami diam saja. Tau tidak, orang-orang yang mengaku Islam itu sudah merampok rumah-rumah saudara kami di Parung sana. Lagian, yang berhak menyatakan kafir apa tidaknya hanya Allah. Apa yang mereka bilang semuanya fitnah. Dari kecil sampai sekarang, kitab suci yang saya baca hanya Al-Qur’ān.”

Diskusi tentang hal itu berlangsung berhari-hari. Saya sering menceritakan pada ibu dan nenek. Saya mendapat pengetahuan baru.

Ketika saya menjelaskan kembali tentang pertanyaan-pertanyaan mereka, saya juga sering mendengar celetukan, ”Sudah, jangan pernah mau berbicara dengan orang Ahmadiyyah. Nanti bisa kesihir.”

Saya tersenyum mendengar pernyataan tersebut. Sempit sekali pemikiran mereka.

***

KULIAH. Saya masuk perguruan tinggi Universitas Siliwangi, Tasikamalaya jurusan Perhotelan. Suatu saat praktek waitres di Restoran Fakultas Pariwisata jatuh hari Jumat.

“Pak, saya izin mau jumatan.”

“Memang kamu suka jumatan? Aliran apa kamu?” Kata supervisor

“Saya Ahmadiyyah,” saya bangga ketika mengatakan itu. Sungguh.

“Oh, kamu Ahmadiyyah dari siapa? Ayah apa ibu?”

Alhamdu li′l-Lāh dari Bapak dan Ibu saya.”

Pembicaran itu terus berlanjut dari hari ke hari. Saya ingat, waktu itu saya dan teman-teman lainnya sedang duduk-duduk menunggu hujan reda di restoran.

Dosen saya kembali bertanya, “Eh Dinda, kamu suka jumatannya di masjid mana sih?”

“Mesjid saya dekat rumah, Pak. Di daerah Cicariang.”

Teman-teman antusias dan bergabung dalam topik pembicaraan meski sebatas pendengar.

“Oh, yang dekat jembatan. Kirain bapak kamu Ahmadiyyah Singaparna. Di sana banyak ‘kan?”

“Iya, Pak. Tapi di Kawalu juga banyak. Di Nagarawangi juga ada. Tadinya kalo saya enggak keburu jumatan di Kawalu, mau di Nagarawangi.”

“Bubarnya biasanya jam berapa?”

“Jam satuan, Pak.”

“Kok lama. Ngapain aja? Pengajian dulu?”

“Khotbahnya lebih panjang.”

“Di keluarga kamu perempuan wajib ya jumatan? ‘Gimana kalo ga ikutan?”

“Dari kecil saya sudah dididik demikian. Jadi, kalo ‘ga Jumatan rasanya ada yang kurang. Kalau ‘ga ikut, saya suka dimarahi ibu saya.”

“Oh, ya sudah. Enggak apa-apa kok. Kita juga ‘ngasih waktu buat itu.”

Sejak itu, saya selalu diberi izin sholat Jumat. Walaupun sering kesiangan, mereka—dosen dan teman-teman—sudah memahami. Enaknya kalau sudah jujur.

Bukan hanya dosen saya yang tertarik dengan hal itu, teman-teman saya pun bergantian bertanya. Saya punya teman akrab, namanya Efira. Dia seorang kristiani. Saya menceritakan berbagai pengalaman-pengalaman saya, tentang penyerangan Parung, penyerangan Cisalada, dan lainnya. Sejak kejadian penggembokkan Panti Khazanah Kautsar, teman saya sering menyatakan rasa simpati. Dia mengatakan tidak menyukai Front Pembela Islam (FPI). Saya ungkap semua kebusukan-kebusukan FPI.

Suatu hari, saya dan dia pulang berjalan kaki menuju perempatan menunggu angkutan. Ketika berjalan melewati Kantor Pengadilan Kota Tasikmalaya, saya melihat banyak orang bersorban dan polisi. Perasaan saya tak enak. Mereka gerombolan FPI dari Ciamis.

Saya berkata kepada teman saya,”‘El, banyak FPI euy, jadi asa was-was gini. Banyak pisan. Kaget gini liatnya” Sambil mengirimkan pesan apa yang saya lihat ini kepada khuddam (pemuda ) yang berjaga di Panti.

“Iya. Saya juga takut lihat orang yang bersorban gitu. Omongan sama kelakuannya ‘ga cocok sama baju yang mereka pake. Apalagi, kalau sudah mengadakan razia, saya suka takut.”

“Iya, ‘El. Saya juga sebel banget liat mereka. Mereka sok make nama Islam. Padahal Islam ‘ga ‘ngajarin kaya gitu loh, ‘El. Agama kamu juga ‘gitu ‘kan?”

“Iya. Kamu banyak doa ‘aja yah!”

Pelajaran yang dapat saya petik berdasarkan pengalaman-pengalaman tersebut adalah Ahmadiyyah tidak mengajarkan “Bagaimana kita bisa terlihat sempurna dan benar di mata orang-orang?”, tetapi ”Bagaimana cara kita membawa orang-orang yang tidak tahu tentang kebenaran itu menjadi tahu.”

***

PERSAUDARAAN. Dalam Ahmadiyyah ketika kita berkumpul, raga kita bersatu, “WE ARE FAMILY, THE BIGGEST FAMILY IN THE WORLD.”

Saya merindukan suasana ‘jalsah’ yang khidmat dan ‘KPA’ yang ceria. Miss it so much! KPA pertama saya saat umur 7 tahun, dilaksanakan di Citeguh, Tenjowaringin. Sebuah lokasi Ahmadiyyah di perbatasan Tasikmalaya-Garut.

Bagi saya, KPA itu bukan hanya “Kursus Pendidikan Agama”, ajang pertemuan para anak Ahmadiyyah. Tetapi, pada saat KPA itulah, kami mempunyai banyak pengalaman-pengalaman yang lucu, unik, dan mengasyikkan. Baik kegiatan madrasah maupun permainan.

Di sana saya dituntut mandiri. Biasanya KPA dilakukan berhari-hari menginap di rumah-rumah anggota Ahmadiyyah. Saya belajar tidur, shalat, makan, belajar, menyiapkan makan bersama teman-teman, tanpa campur tangan orangtua. Saya belajar bertanggung jawab dan disiplin, belajar menghargai waktu.

Bagaimanapun ujian-ujian yang tak henti-henti kepada kita, membuat kita lebih cinta dan meyakinkan kita, bahwa inilah kebenaran!

Tempat yang biasanya kami gunakan untuk menjalankan ibadah digembok oleh pemerintah. Kami menentang habis-habisan penggembokkan, Kepala Satuan Intel Polisi harus merebut kunci gembok dari tangan Pak Ketua. Sepuluh anak Panti, satu mubaligh dan dua pengurus panti terkurung selama hampir beberapa minggu.

Kami diminta untuk sabar dan tidak melawan. Pengajian dan jumatan dilakukan secara kelompok. Hikmahnya, anggota yang hadir lebih banyak. Alhamdulillah acara-acara seperti rapat Anshar dan LI jadi dilaksanakan di rumah keluarga saya.

Banyak anggota Anshar dan Khuddam dari daerah lain yang datang untuk mempertahankan mesjid kami, tempat ibadah kami, rumah kami, SUBHĀNA′L-LĀH, what a happening touch! Dalam kegiatan memasak wanita atau lelaki, muda atau tua, semuanya berbaur. Saling membantu mencuci piring, membersihkan tempat shalat, memasak, memotong bahan masakan, sampai mengupas kelapa.

Subhāna′l-Lāh…! Indah sekali peristiwa ini.

Kita dapat saling mengenal pribadi saudara-saudara kita. Saya merasa pengorbanan saya tidak maksimal. Mereka ikhlas menjaga dan membela tempat ibadah kami, meskipun harus mengorbankan nyawa. Saya percaya hanya orang mempunyai keteguhan dan keikhlasan tinggi yang mampu merelakan jiwa dan raganya demi Jemaat yang kita cintai ini.

Saya bangga menjadi Ahmadiyyah. Saya harus bisa mempertanggungjawabkan apa yang sudah saya ucapkan.


Penulis Adinda Firdhausya, tinggal di Jawa Barat.

Tentang Penulis

Adinda Firdhausya Zakhra

8 komentar

Tinggalkan komentar