Politik

Ahok dan Ancaman Demokrasi Indonesia

menghargai dan menghormati

Saya menulis di sela-sela subuh ini bukan untuk membela dan menyalahkan umat Islam. Tentu saja saya menghargai pendapat dari kawan-kawan muslim lain yang berpendapat bahwa bersalah. Pendapat itu sangat saya .  Akan tetapi ada sebuah besar bagi kita jika persoalan ini berlarut-larut.

Semenjak didirikannya bangsa ini,  semua pendiri bangsa bersepakat bahwa negeri ini didasarkan pada semangat demokrasi.  Negeri ini bukan negeri suatu agama,  suatu etnis dan ras tertentu.  Semua kalangan bangsa pada waktu itu bersepakat akan hal ini.  Dari kalangan Muslim, kelompok agama lain, dan kalangan ideologis seperti nasionalis dan sosialis.

Dalam perkembangan demokrasi di , kita telah mengalami banyak sekali jatuh bangun. Kita telah mengalami tiga masa: Orde lama,  orde baru dan masa reformasi.  Pasca reformasi, perkembangan demokrasi kian pesat.  Meski hingga saat ini belum dapat sebuah formula yang sempurna dari demokrasi.  Alhasil,  makna demokrasi pancasila dipakai sebagi sebuah kata untuk mewakili konsep demokrasi yang sedang mengalami proses kemenjadian.  Inti dari demokrasi pancasila ini secara prinsip sama dengan bentuk demokrasi lainnya. Yaitu, menjunjung tinggi kedaulatan individu sebagai bagian dari pemilik bangsa ini.

Momen pilkada DKI sebetulnya bisa menjadi titik tolak peningkatan demokrasi Indonesia  atau malah penurunan kualitas demokrasi. Mungkin pada pilpres 2014 kemarin tak sepanas yang terjadi hari ini di pilgub DKI.  Memang, hal ini terjadi karena salah satu kontestan pilgub berasal dari kaum minoritas.

Kontestasi politik pilgub telah membawa ekskalasi atmosfir sosiopolitik Indonesia menjadi panas.  Ditambah dengan beberapa peristiwa kesalahan politik (political incorrect) yang dilakukan oleh Ahok,  atmosfir panas bak bola api yang kapan saja bisa meledak.

Kembali pada tema yang saya angkat,  mengenai Ahok dan ancaman demokrasi Indonesia. Saya sebutkan di atas momentum pilgub DKI ini bisa menjadi peningkatan atau penurunan kualitas demokrasi Indonesia. Sebuah indikasi negara memiliki demokrasi yang sehat adalah tak ada lagi isu-isu primordialisme sebagai alat kampanye politik.  Isu primordial contohnya adalah suku,  agama,  ras dan lainnya yang berkenaan dengan identitas seseorang. Kondisi demokrasi yang sehat ditandai dengan argumentasi-argumentasi rasional yang digunakan sebagai alat kampanye.  Artinya kampanye didasarkan pada fakta dan data dari kapasitas dan kapabilitas seorang cagub.

Yang terjadi hari ini seperti apa? Faktanya masih banyak parpol-parpol lain yang menggunakan agama sebagai alat kampanye politik. Contohnya banyak dari parpol islam yang menolak ahok karena ia non muslim. Bagi saya ini adalah upaya pemunduran kualitas demokrasi.  Memang namanya juga parpol islam,  akan tetapi  banyak kasus diamana parpol islam justeru mendukung kepala daerah non muslim. Ditambah dengan masyarakat akar rumput yang termakan dari isu-isu yang di bawa parpol islam tersebut.  Implikasnya adalah, khutbah jumat,  ceramah pengajian majlis ta’lim ibu ibu,  membahas mengenai isu ini. Dan apa yang dilakukan ahok menurut saya (anda boleh tak sependapat dengan saya) adalah supaya masyarakat tidak temakan oleh isu-isu sampingan seperti ini. Bagi saya, apa yang dilakukan oleh Ahok murni sebagai political incorrect. Bukan sebuah bentuk crime incorrect.

Saat ini yang dihadapi oleh bangsa ini adalah problema besar. Pesan saya,  hari ini proses hukum Ahok berjalan,  selanjutnya akan ada putusan dari proses hukum ini.  Hargai dan hormatilah segala putusan yang diambil oleh para penegak hukum, demi masa depan demokrasi kita.

SumberGambar:

https://www.google.co.id/search?q=ancaman%20demokrasi&tbm=isch#tbm=isch&q=ahok+menghargai+dan+menghormati+&imgrc=ecigFKBaA9B7VM%3A

Tentang Penulis

Muhammad Ghifari Misbahuddin

1 komentar

Tinggalkan komentar