Al-Qur’ān Politik

Ahok, Hujatan dan Islam

Minggu-minggu belakangan ini, media massa diramaikan dengan isu penistaan yang disebut-sebut dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta, , terkait Al Qur’an surah Al Maidah ayat 51. Berbagai tanggapan keras bermunculan, pelaporan kepada pihak berwajib dilakukan, fatwa-fatwa bertebaran, bahkan besar-besaranpun digelar.

Rasanya begitu miris melihat kenyataan ini. Disatu sisi melihat potensi kecintaan yang begitu besar terhadap Islam dari masyarakat muslim Indonesia tapi disisi lain, melihat betapa ajaran Islam dimaknai dan dipahami begitu dangkal oleh umatnya sendiri. “Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing” sabda Rosulullah saw 1400 tahun lalu seakan begitu terpampang nyata.

Berbagai dalil memang diungkapkan, namun terasa begitu gamang dan hambar, karena yang ditawarkan justru memperlihatkan sisi-sisi yang begitu mengerikan dan membuat gambaran menakutkan dari nama Islam. Sebagaimana yang diungkapkan wakil sekjen MUI dalam sebuah diskusi bahwa atas apa yang dilakukan Ahok, sanksi yang harus diberikan adalah dibunuh, disalib, dipotong kedua tangan dan kedua kakinya, atau diusir dari negerinya. Benarkah demikian? Bagaimana sebenarnya tuntunan Islam terhadap sebuah ?

Dalam buku Islam’s Response to Contemporary Issues, Khalifah ke IV Ahmadiyah, Hz. Mirza Tahir Ahmad, rhm menjelaskan dengan gamblang bahwa Islam selangkah lebih maju dibanding agama-agama lainnya dalam memberikan kemerdekaan berbicara dan menyatakan pendapat. Berdasarkan pertimbangan moral dan etika, tentu saja hujatan tidak bisa diterima, tetapi dalam Islam tidak ada hukuman phisik untuk mereka yang menghujat, sesuatu yang memang berbeda dengan pandangan umum dalam dunia kontemporer.

Tidak ada sepenggal ayat pun yang menyatakan bahwa hujatan adalah kejahatan yang dapat dihukum oleh manusia. Meskipun Al-Quran sangat tidak menyukai perilaku yang tidak sopan dan bicara yang tidak pantas atau pun melukai rasa kepekaan sesama manusia, dengan atau pun tanpa logika, namun Islam tidak menyuruh penghukuman mereka yang menghujat di dunia ini dan tidak juga memberikan kewenangan kepada siapa pun untuk melakukannya.

Al Qur’an mengemukakan mengenai hujatan sebanyak lima kali, yang menarik, tidak ada satupun yang menganjurkan hukuman fisik bagi pelakunya. Salah satunya:

Dan sesungguhnya telah Dia turunkan kepadamu di dalam Kitab ini bahwa apabila kamu dengar ayat-ayat Allah diingkari dan dicemoohkan maka janganlah kamu duduk bersama mereka sebelum mereka mulai masuk dalam percakapan lainnya. Jika kamu duduk sesungguhnya kamu ketika itu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan menghimpunkan orang-orang munafik dan orang-orang kafir semuanya dalam jahanam. (S.4 Al-Nisa : 141)

Hz. Mirza Tahir Ahmad menjelaskan bahwa tidak saja Islam melarang menghukum mereka yang menghujat malah menganjurkan mereka yang tidak suka akan hujatan tersebut untuk menyatakan ketidaksukaannya itu dengan cara meninggalkan kumpulan orang-orang yang sedang mencemoohkan nilai-nilai keagamaan. Tidak ada tindakan yang lebih keras yang disarankan Al-Quran, bahkan tidak juga ada suruhan pengucilan mereka yang menghujat itu. Al-Quran menegaskan bahwa boikot yang dilakukan hanya sebatas saat mereka menghujat saja.

Lebih lanjut diuraikan bahwa beberapa hujatan keji termaktub abadi di dalam Al Qur’an.  Diantaranya hujatan yang dilontarkan oleh kaum Yahudi terhadap Hz. Maryam sebagai perempuan tidak suci dan anggapan bahwa Hz. Isa as adalah anak haram, juga hujatan maha dahsyat yang dilontarkan kaum Kristen yang menyatakan bahwa Tuhan memiliki anak melalui seorang perempuan. Digambarkan bahwa hujatan tersebut sangat luar biasa. Namun tetap tidak ada ancaman hukuman phisik mengenai hal ini dan tidak juga ada pendelegasian kewenangan kepada manusia manapun untuk menghukum hujatan terhadap Tuhan.

Hal serupa dicontohkan oleh Hz. Rosulullah saw, berkaitan dengan Abdullah bin Ubay bin Salul yang pada suatu ketika selepas pulang dari suatu ekspedisi, ia menyatakan di hadapan orang banyak bahwa begitu mereka tiba kembali di Madinah, Wujud yang paling Suci (Rasulullah saw) akan mengusir orang-orang Madinah yang paling hina (QS. Al-Munafiqun : 9)

Semua orang pada waktu itu memahami cemoohan tersembunyi yang dilemparkan ke arah Rasulullah saw. Mendidih darah mereka sehingga jika diizinkan pastilah Abdullah bin Ubay mereka rajam dengan pedang. Menurut catatan sejarah saat itu dikemukakan bahwa amarah orang sedemikian tingginya sehingga bahkan putra Abdullah bin Ubay sendiri menghadap Rasulullahs.a.w. meminta izin guna membunuh bapaknya dengan tangannya sendiri.

Putranya itu mengemukakan alasan bahwa jika orang lain yang membunuh bapaknya, ia karena ketidaktahuan malah mungkin membalas dendam terhadap pelaku tersebut. Sepanjang sejarahnya, bangsa Arab terbiasa melakukan balas dendam atas ejekan yang dilontarkan pada mereka atau keluarganya tanpa melihat besar kecilnya cemoohan itu. Tradisi itulah yang dimaksudkan oleh putra tersebut.

Namun Rasulullah s.a.w. tidak mengabulkan permintaannya dan juga tidak memperkenankan yang lainnya untuk menghukum si munafik Abdullah bin Ubay tersebut dengan cara apa pun. (Diriwayatkan oleh Ibn Ishaq: Al-Siratun Nabawiyya, Ibn Hashim, bab III h.155).

Inilah tuntunan Islam mengenai hujatan. Bukankah begitu indah dan penuh kebijakan yang mendalam? Jadi apakah kita masih akan terus berpolemik mengenai hal ini?

Tentang Penulis

Rokhila Farida

Tinggalkan komentar