Politik

Ahok Menistakan Islam?

ahok
Penulis Akhmad Reza

“Banyak orang hari ini, tampaknya lebih ingin menjadi benar dari pada penuh kasih.” — Karen Armstrong

Hiruk pikuk DKI menunjukkan ekskalasi yang mengkhawatirkan. Namun, alih-alih ikut latah mengomentari pernyataan tentang Al-Maidah 51, yang justru ingin saya bahas di artikel ini adalah pernyataan Wasekjen , Tengku Zulkarnaen.

Sebagai ulama yang mewakili lembaga terhormat semacam Majelis Ulama Indonesia, pernyataan Tengku Zulkarnaen pada acara ILC (Indonesian Lawyer Club) 11 Oktober 2016 lalu membuat saya bergegas mencari dalil atau riwayat yang mendukung pernyataan Sang Tengku. Ada dua point yang menjadi titik perhatian saya.

Pertama, tuduhan serta merta kepada pribadi Ahok sebagai penista agama . Kedua, seseorang yang menistai agama wajib hukumnya dibunuh, dipotong tangan dan kakinya, demikianlah kira-kira kata-kata dari pria yang sering tampil bersorban dan berjubah putih ini.

Benarkah demikian? Benarkah Ahok menistai Agama Islam? Benarkah seorang yang terbukti menistai Islam wajib hukumnya dibunuh ? Inikah ajaran Islam sesungguhnya ? Untuk point pertama, jawaban dari Nusron Wahid dalam acara ILC cukup menjadi hujjah yang meyakinkan untuk mementahkan tuduhan Sang Tengku. Sudahkah MUI, dalam hal ini Tengku Zulkarnaen melakukan “Tabayyun.”

Tabayyun adalah tuntutan Al-Qur’an, seperti termaktub dalam surat al-Hujurat ayat 6. Tabayyunadalah proses cek dan ricek. Secara bahasa memiliki arti mencari kejelasan tentang sesuatu hingga jelas benar keadaaannya. Secara istilah adalah meneliti dan menyeleksi berita, tidak tergesa-gesa dalam memutuskan masalah baik dalam hal hukum, kebijakan dan sebagainya.

Proses ini harus dikedepankan untuk mencegah prasangka seperti yang diwanti-wanti dalam surat yang sama, yakni al-Hujurat ayat 12.

Sudahkah Tabayyun?

Jadi, benarlah yang diungkapkan Nusron. Sudahkah MUI menemui Ahok? Atau sudahkah MUI melakukan tabayyun terhadap pernyataan Ahok di Pulau Seribu?

Bagaimana sebuah tuduhan penistaan dialamatkan hanya berdasarkan bukti script yang – seperti diakui Buni Yani si penyebar script video- bahwa dirinya menghilangkan sebuah kata-kata di dalamnya. Padahal, penghilangan satu kata tersebut tidak bisa dianggap remeh karena merubah makna kalimatnya secara utuh. Sekali lagi ini perlu digarisbawahi, sudahkah MUI tabayyun?

Sikap negarawan Ahok ditunjukkan dalam kasus ini. Meski, belum tentu bersalah, Ia meminta maaf kepada umat Islam jika kata-katanya di Pulau Seribu tersebut menyakiti dan menyinggung mereka. Sebagai ulama, apalagi sebagai Wasekjen MUI, seharusnya ketika Ahok mengucapkan permohonan maaf maka kasusnya bisa dianggap selesai. Tidak perlu mencari-cari alasan bahwa perkataan Ahok tersebut hanya untuk meredam kemarahan umat.

Tidak perlu berprasangka bahwa pernyataan Ahok tidaklah tulus. Siapakah yang tahu hati seseorang? Tidakkah riwayat Usamah bin Zaid r.a. menjadi pelajaran?

Dalam sebuah peperangan, Usamah bin Zaid r.a. berduel dengan seseorang. Usamah berhasil mendesaknya hingga terjerembab ke tanah. Sesaat kemudian, orang tersebut mengucapkan kalimat, “Laa Ilaaha Illa Allah” namun Usamah tak menghiraukan ucapan tersebut dan tetap menusukkan tombaknya hingga membuat orang tersebut terbunuh. Cerita tersebut sampai kepada Rasulullah Saw.

Rasul sangat marah kepada Usamah, “Apakah engkau tetap membunuhnya setelah Ia mengucapkan Laa ilaaha Illa Allah ? Apakah kamu sudah membelah dadanya ?” Pertanyaan Rasul itu diulang-ulang hingga membuat Usamah sangat menyesal dan berpikir seandainya Ia baru masuk Islam hari itu juga.

Teguran keras Rasul Saw kepada Usamah dijelaskan beberapa ulama Islam. Imam An-Nawawi berkata,“Sesungguhnya engkau hanya diperintahkan untuk beramal sesuai kondisi lahiriah dan ucapan lisan. Adapun urusan hati, engkau tidak akan mampu mengetahuinya. Maka Nabi SAW mengingkari tindakan Usamah yang tidak bertindak atas dasar apa yang nampak dari ucapan lisan. Maka beliau SAW bersabda ‘Kenapa engkau tidak membelah dadanya?

Sehingga engkau mengetahui apakah hatinya mengucapkan Laa Ilaaha Illa Allah karena ikhlash dan yakin ataukah karena alasan lainnya? Maksudnya, jika engkau tidak mampu mengetahui isi hati orang itu, maka hendaklah engkau mencukupkan diri dengan menerima ucapan lisannya.” (Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, 12/203-204 dan Shahih Muslim bi-Syarh An-Nawawi, 2/137-138).

Riwayat ini, jika ditarik pada peristiwa Ahok ada benang merahnya. Ahok sudah meminta maaf secara lisan. Ucapannya ketika di Pulau Seribu bukan bermaksud menghina atau menistai ajaran Islam dan Al-Qur’an. That’s it ! Habis perkara. Soal tulus, ikhlas dan perasaan yang letaknya di dalam hati bukanlah urusan kita. Seperti peristiwa Usamah, umat Islam diajarkan untuk berprasangka baik.

Korban Tuduhan Penistaan Agama

Poin kedua adalah mengenai hukuman yang ditimpakan bagi penista agama (baca: Islam). Kita tentu mengetahui kasus Salman Rusdhie. Pada dekade 80-an ia menerbitkan novel kontroversialnya yang berjudul “Ayat-Ayat Setan” (The Satanic Verses). Ketika novel ini terbit, muncul kehebohan luar biasa di dunia Islam. Hal ini disinyalir karena isi dari novel Rusdhie menghina dan membuat citra yang jelek tentang sosok Nabi Saw dan keluarganya.

Demonstrasi, pembakaran patung Rusdhie dan yang paling menonjol adalah jatuhnya fatwa Mati bagi Rusdhie yang dikeluarkan Ayatollah Khomeini, Revolusi Iran pada 1989 lalu.

Namun kemudian, banyak yang tidak mendukung Fatwa Khomeini. Disebutkan bahwa Islam tidak mengajarkan hukuman mati bagi penista agama. Tetapi tetap saja dampak dari fatwa ini cukup luas. Pada Juli 1991, Profesor Hitoshi Igarashi penerjemah Ayat-Ayat Setan ke dalam bahasa Jepang ditemukan tewas  di sebelah lorong Universitas Tsukuba, 60 km di barat laut Tokyo.

Di bulan dan tahun yang sama, Etore Capriori penerjemah Ayat-Ayat Setan ke dalam bahasa Italia terluka parah ditikam di rumahnya di Milan. Sebelum menikam pisau ke leher, lengan, dan dada  Caprio, si pelaku menanyakan alamat rumah Salman Rusdhie (indonesiaindonesia.com).

Yang lebih mengenaskan menimpa Farag Fouda. Kritiknya yang sangat keras kepada sistem Khilafah dan kejujurannya mengungkap sejarah buram seputar kekuasaan dalam bukunya “al-Haqiqah al-Ghaibah” (kebenaran yang hilang) mengantarkannya pada gerbang kematian pada 8 Juni 1992. Ia ditembak pengikut kelompok radikal yang sebelumnya mengeluarkan fatwa kafir dan murtad kepada Fouda.

Ulama dan pemikir Mesir seperti Ali Abdul Raziq pun tak luput dari kecaman. Melalui buku yang dipublikasikannya pada 1925, “al-Islam wa-Ushul al-Hukm” Sang Pengarang dianggap lancang karena menulis bahwa Islam tidak bersangkut paut dengan roda pemerintahan dan kekuasaan.

Menurutnya, syariat Islam semata-mata bercorak spiritual dan tidak berkaitan dengan hukum dan praktek duniawi. Akibat bukunya ini, Majelis Ulama Besar al-Azhar di bawah pimpinan Syekh al-Azhar Muhammad Abi al-Fadl secara ijma menyetujui keputusan pemecatan Ali Abd al-Raziq dari Korps Ulama al-Azhar dan dari semua jabatannya.

Jika kita menarik lebih jauh lagi dalam sejarah Islam kita akan menemukan tokoh-tokoh yang dihukumi karena dituduh menistakan agama. Salah satunya adalah Mansur Al-Hallaj, Seorang sufi kontroversial di abad 9 masehi. Ia kesana kemari berlari sambil berkata “Ana al-Haq ! Ana al-Haq!”Yang kurang lebih diartikan “Akulah Tuhan, Akulah Tuhan.” Masyarakat awam dan ulama konservatif tidak memahami konsep wahdatul wujud-nya Al-Hallaj.

Al-Hallaj bukan mengaku dirinya sebagai Tuhan, namun karena dia telah merasa tenggelam dan melebur dalam kecintaan kepada Tuhan, sehingga ia merasakan dirinya sudah tidak berjarak dengan-Nya.

Namun perilakunya yang aneh, dan tidak umum tersebut membuatnya dikenai tuduhan penistaan agama. Al-Hallaj kemudian diseret ke pengadilan. Atas perintah Khalifah Muqtadir Billah Ia dijatuhi hukuman mati. Ia kemudian disalib, tubuhnya dipatahkan dan kepalanya dipenggal. Ketika sudah mati pun, jasad Sang Sufi dianggap masih berbahaya sehingga masih perlu dibakar keesokan harinya.

Rasulullah Saw sebagai Uswah

Lantas, bagaimana dengan sikap Rasul Saw terhadap orang-orang yang menghina dan mencercanya. Rasulullah justru menunjukkan akhlak dan teladan yang sempurna. Sepanjang dakwahnya mengajak manusia ke pangkuan Islam, sering Rasulullah menemui permusuhan yang begitu keji.

Dengan sikap yang lemah lembut dan tidak memiliki rasa dendam terhadap musuh-musuhnya, beliau senantiasa berbuat baik terhadap mereka yang bisa dikatakan bukan saja musuh beliau, tapi kepada orang yang haus akan darah beliau dan darah para sahabat beliau.

Peristiwa Futuh Mekkah atau jatuhnya Mekkah adalah peristiwa bersejarah yang menunjukkan ketinggian akhlak Rasulullah Saw di mata dunia.

Beliau Saw mengampuni orang-orang yang dulunya melempari beliau dengan kotoran unta, menghalangi jalan beliau dengan duri-duri, menganiaya dan berusaha membunuh beliau serta para sahabatnya tapi yang dilakukan beliau saat itu adalah beliau bersabda kepada orang-orang kafir quraisy: “Wahai penduduk Makkah! Hari ini tidak ada pembalasan terhadap kalian, laa tatsriiba ‘alaikum hadzayaum.” Kalian semua bebas!

Dus, apa yang dicontohkan (uswah) Rasulullah Saw dengan yang dipertontonkan tokoh-tokoh yang menyebut diri mereka sebagai ulama hari ini “ibarat jauh panggang dari api.” Rasulullah Saw adalah sosok pemaaf, lembut terhadap siapapun apalagi terhadap musuh yang sudah meminta maaf dan menyesali perbuatannya. Tidakkah kita sudi memafkan Ahok?

Tentang Penulis

Akhmad Reza

Tinggalkan komentar