Keluarga Kemanusiaan Muhammad Nurdin Opini

AIDS buah cinta, tanda Tuhan sayang kita

AIDS buah cinta, tanda Tuhan sayang kita. (Kemenkes)

buah , tanda kita. (Gambar ilustrasi dari Kemenkes RI)

KEMARIN kita memperingati hari AIDS sedunia. Namanya juga peringatan, anggarannya cuma untuk setahun sekali. Tak cukup untuk mengedukasi generasi kita yang rentan terhadap penyakit ini. Kita, sebagai generasi yang selamat dari penyakit ini, selalu tak punya waktu untuk keselamatan generasi kita, meski itu anak kita sendiri. Bukankah tugas orang tua tak sekedar kasih makan-minum, uang jajan juga gadget?

AIDS memang mengerikan. Peringatan hari AIDS sepertinya lebih banyak tentang seberapa bahaya penyakit ini. Kadang dibumbui dengan kata-kata: Belum ditemukan obatnya. Seakan tak ada harapan kalau sudah terserang penyakit ini. Ini seperti kutukan yang Tuhan timpakan kepada kaum yang durjana.

AIDS memang mengerikan, tapi ia hanyalah akibat. Bukannya akibat selalu terlihat buram? Akibat hanyalah gambaran tentang masa depan yang kita takkan pernah tahu bentuknya sebelum kita menggenapkan “sebab”-nya.

Bukankah “putus” hanya sekedar akibat? Ia tak terlihat menyakitkan saat kita belum menggenapkan sebab-nya, yah pacaran. Saat Anda menggenapkannya, Anda akan merasakan bentuk dari perihnya putus. Saat itu terjadi, tak ada artinya lagi melihat ke belakang.

Ternyata, sebab AIDS adalah cinta. Tapi, cinta yang sudah berevolusi dari bentuknya yang amat suci. Bisa cinta yang salah kamar, bisa juga cinta yang berbayar. Tapi, ia tetaplah godaan yang kebanyakan orang tak tahan. Ia bagaikan rasa lapar yang Tuhan ciptakan. Bukankah lapar itu penting? Makanya tak jarang kita temukan obat penambah nafsu makan. Tapi, sebab lapar itu pula, kebanyakan kita menderita di rumah sakit.

Cinta sejati itu suci. Cinta yang mampu melihat jauh kedepan. Cinta yang memaksimalkan akal pikiran. Tapi, godaan syaitan pun datang. Mengkonversi cinta ke dalam rupa baru yang lebih buas, yang membuat manusia tak pernah puas. Itu nafsu. Nafsu ‘lah yang mengaburkan segala akibat yang mengatasnamakan cinta.

Salah kalau Anda mengira AIDS itu kutukan Tuhan, murka Tuhan, atau ‘adzab Tuhan. Bukankah rahmat-Nya mengalahkan murka-Nya? Kalau Tuhan kejam untuk apa Rasulullah saw. mengabarkan bahwa akan menyebar “fakhsya” (Arab: serba membolehkan) yang akan dilakukan secara terang-terangan? Dalam kabar ghaib itu diceritakan akan datang suatu penyakit yang tidak pernah dijumpai nenek moyang kita. Bukankah kabar ini tanda Tuhan cinta kita?

Seorang anak perlu dihukum juga supaya ia tak mengulangi kesalahannya. Apakah perlakuan itu tak didasari cinta? Apalagi sudah ada peringatan yang menduhuluinya. Bukankah hukuman harus setara dengan kejahatan yang dilakukannya? Saat laku “fakhsya” meningkat, hukuman pun dijatuhkan. Hukuman diberikan agar manusia menjadi jera atau menjadi pelajaran bagi generasi mendatang.

Kalau kasih Tuhan dalam bentuk AIDS ini tak menjelma di muka bumi, mungkin sudah tak terhitung jumlahnya kelahiran anak yang tak dimulai dengan doa dan harap. Yah, sebuah harapan untuk kehidupan yang lebih baik. Dengan sebuah tekad bersama ayah-ibu yang bermitra melestarikan garis keturunan ke arah kesempurnaan.

Kasih Tuhan takkan pernah membiarkan wanita selalu menjadi korban cinta, cinta yang beraromakan nafsu durjana. Bukankah tugas seorang ibu itu amat berat? Makanya ia tiga kali lebih mulia dibanding ayah. Mulianya ia tak ada artinya tanpa suami yang tulus mencintainya, bukan haus menikmatinya. Namun, Tuhan tahu bahwa manusia akan kalah. Meski kalah, Dia tak mau kalau ciptaan-Nya terperosok jauh lebih dalam.

Tidakkah kalian melihat kasih Tuhan ini wahai makhluk yang berpotensi dihukum-Nya? Hukuman itu tidak hanya berupa AIDS. Ia bisa berbentuk apa saja, diabetes, kolesterol, stroke, bahkan masuk angin sekalipun. Bukankah semua itu cuma peringatan sebab kita berlebihan?

Kita sebenarnya gagal yakin dengan semua akibat itu. “Fakhsya”, serba membolehkan, inilah yang membuat kita gagal yakin. Andai AIDS itu semisal ular berbisa mematikan dalam sebuah lubang, kita pasti berpikir ulang untuk masukkan tangan ke dalamnya. Atau AIDS itu semisal harimau di sebuah hutan, pasti kita akan berpikir ulang untuk masuk ke dalamnya. Mengapa kita menjadi setakut itu? Jawabannya, ada sebuah keyakinan yang terbentuk.

Rawatlah keyakinan tentang akibat-akibat yang akan menghancurkan kehidupan kita, meski godoannya “mana tahan”. Memang kesempatan kedua selalu ada dalam hidup. Tapi, saat ia datang, mungkin jatah hidup kita sudah berkurang.

Terakhir. Tuhan kita selalu cinta kita. Tapi—selalunya, kita yang berprasangka buruk tentangnya. Dengan prasangka itulah Tuhan menjelma menjadi versi-mu. Tuhan yang terlihat bengis dan sadis. Betapa bodohnya kita bukan? Maafkan hamba-Mu ini, ya Rabb.

 

Salam cinta
Muhammad Nurdin

Tentang Penulis

masq@mkaindonesia.org

Majelis Anṣār Sulṭānu'l-Qalām Indonesia

2 komentar

  • kurang setuju dengan tulisannya, seakan2 aids dikarenakan hanya permasalahan cinta saja, faktanya banyak ibu2 rumah tangga yang terpapar virus ini, ibu2 rumah tangga yang setiap terhadap pasangannya dan hanya menjalankan fungsinya sebagaimana mestinya

    belum lagi anak2 yang di lahirkan dan terpapar virus HIV, hal ini dikarenakan ibu nya yang positif, ibu yang positif belum tentu karena ibunya terlibat cinta terlarang

    kira2 gitu sih

Tinggalkan komentar