Peristiwa Satria Utama Solidaritas Palestina Terjemahan

AKSI mogok makan para perempuan Yahudi untuk solidaritas Gaza (2/2)

Penggalan pertama | Penggalan Kedua

 

 

AKSI mogok makan para perempuan Yahudi untuk solidaritas Gaza. (FORWARD.com)

AKSI mogok makan para untuk solidaritas . (FORWARD.com)

SAYA menyimak dan berpikir bagaimana puluhan tahun kekerasan seolah menghentikan waktu, bagaimana pembunuhan bisa mengganggu tatanan kehidupan di alam ini. Cucu yang berusia lebih tua dari kakeknya yang terbunuh 50 tahun sebelum dia lahir. Ibu yang menjalani kehidupan dengan bayangan kengerian dan mimpi buruk anaknya. Ayah yang meratapi kematian anak perempuannya, dan duduk di tenda pengunjuk rasa perempuan, berbicara tentang kursi kosong yang tak kunjung terisi.

Hari pun berjalan, bayangan tenda menyusut, dan kami menarik kursi kami lebih merapat satu sama lain agar bisa berlindung dalam bayangan tenda yang makin menyempit. Hawa udara semakin panas, bahkan lantai terasa membakar. Seorang ibu muda, dengan bayinya bernama Mor (Cahaya), tidur dibalut kain sekeliling dadanya, mampir dan duduk bersama kami dan bercerita bahwa dia selalu berusaha menyempatkan untuk mampir setiap hari. Sambil membujuk bayinya untuk kembali tertidur, dia berkata, ”Apa yang lebih penting dari hal ini?” Saat Mor terbangun, kami bergantian menggendongnya hingga akhirnya tiba waktunya untuk dia dibawa pulang. Lalu tiba-tiba saja cahaya matahari menghilang, dan malam yang dingin di kota Yerusalem merayap dari arah jalan menuju tenda kami.

Setiap pukul 10 malam, berdasarkan aturan kota, tenda harus dibongkar. Arnon menepikan van hijau kecilnya untuk mengumpulkan perlengkapan yang perlu disimpan di suatu tempat. Setiap pagi, pukul 8, dia kembali untuk memasang tendanya lagi. Dia memberikan dukungan pada para perempuan yang melakukan aksi mogok makan tanpa banyak bicara dan dengan kepercayaan penuh, seolah itu adalah aksi unjuk rasanya sendiri.

Pagi berikutnya, saat waktu mogok kami akan segera berakhir, empat anak laki-laki mendatangi tenda kami. Salah satu diantaranya yang mengenakan kaos hitam, jelas-jelas menujukkan sikap mencari keributan dan meneriaki kami “Pengkhianat”. Bagi kami berempat yang berasal dari Galilea, anak-anak ini terlihat sebaya dengan anak-anak kami. Tenaga kami sudah lemah pada saat itu, tapi kami bangkit dari kursi untuk berbicara dengan mereka. Si kaos hitam hanya ingin beradu mulut, dengan meneriakkan dan mengutip ayat-ayat kitab suci pada kami. Namun di sebelahnya, seorang anak berambut gelap berkaos merah, terlihat bersikap lain, dia berusaha menyimak penjelasan dari kami tentang kemungkinan perdamaian.

Si kaos hitam berteriak bahwa si kaos merah kehilangan kakanya dalam peperangan musim panas yang lalu, karena itu menyebutkan bahwa tujuan aksi unjuk rasa kami adalah salah berdasarkan kisah menyedihkan tersebut. Kami semua menatap anak berkaos merah dan menanyakan namanya, Naom jawabnya. Temanku yang bernama Merav berkata bahwa anaknya bernama Naom pula, lalu keduanya berjalan ke sisi lain tenda dan berbincang berdua. Sayapun melangkanh menjauh, saat tiba-tiba saja terngiang ungkapan tentang Darchei Noam: ajaran agama kami menyenangkan, demikian kami senantiasa diajarkan, dan “Setiap langkah yang ditempuh adalah jalan damai”. Noam muda yang menguburkan kakaknya setahun yang lalu sedang mencari kedamaian itu, pikirku, begitu pula kami semua.

 

TIDAK ada solusi dalam kekerasan dan peperangan, jalan damailah satu-satunya solusi terbaik untuk semua pertikaian yang terjadi.

Khalifah dan Imam Jamaah Islam Ḥaḍrat Khalifatul Masih V atba. dalam suratnya kepada Perdana Menteri , Benyamin Netanyahu, terkait rencana serangan ke Irak, memperingatkan tentang bahaya yang dihadapi oleh dunia jika peperangan terus berlanjut, yaitu perang dunia. Perang dunia ini tidak hanya terjadi antara dua negara tetapi antara dua blok yang niscaya akan mengarah kepada perang nuklir.

Lebih jauh lagi Huzur juga mengutip, dalam surat tersebut, beberapa ayat dari kitab Zabur dan Taurat tentang “tanah yang dijanjikan” yang akan diberikan Tuhan bagi umatnya yang bersabar dan senantiasa beruasah berada di jalan-Nya. Namun janji tersebut akan dicabut jika umat tersebut malah melakukan kejahatan dan mengingkari Tuhan.

Adalah tugas semua kepala negara dan pimpinan pemerintahan untuk menghentikan semua tindak kekerasan dan penindasan pada kaum yang lemah agar tercipta kedamaian dan keadilan.

 

FORWARD | REVIEW RELIGIONS

Penerjamah: Satria Utama | Minor editor: Yadly R.

Tentang Penulis

masq@mkaindonesia.org

Majelis Anṣār Sulṭānu'l-Qalām Indonesia