Opini

Al-Quran Dikorupsi Bukan Menista Agama?

korupsi al quran

Mantan anggota Komisi VIII Zulkarnaen Djabar menyebut seluruh anggota Komisi VIII DPR menerima aliran uang korupsi pengadaan Alquran dan laboratorium Kementerian (). Dia menyebut uang Rp 4 miliar dibagikan ke 46 anggota Komisi VIII melalui perwakilan fraksi. “Pertama angka Rp 4 miliar dari Rp 100 miliar itu 4 persen, (hasil) kesepakatan pimpinan Komisi VIII dan banggar,” kata Zulkarnaen saat bersaksi untuk Fahd El Fouz alias Fahd A Rafiq di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Kamis (20/7/2017).  (https://news.detik.com/berita/d-3567761/saksi-seluruh-anggota-komisi-viii-terima-uang-korupsi-alquran)

Kutipan berita di atas yang didapatkan dari kolom berita news detik. Meskipun sudah bukan berita viral lagi namun tetap menggelitik saya untuk kembali menyinggungnya. Pertama, korupsi terkait pengadaan Al Qur’an ini kenapa tidak dimasukkan ke dalam kategori agama sedangkan kasus yang hanya keseleo mengutip ayat Qur’an saja mengundang berjilid-jilid demo? Kedua, kasus korupsi Al Qur’an ini mengapa tidak menjadi bahasan dalam dewan Rakyat untuk dicarikan solusinya agar tidak lagi tejadi korupsi Al-Qur’an berikutnya? Ketiga, Apakah para pelaku korupsi yang tersebut sebelumnya dimana juga melibatkan banyak politikus partai sudah diadili dengan seadil-adilnya di meja hijau dan apakah partai-partai politik  pemain korupsi Al Quran ini mendapatkan sangsi dari pemerintah, karena jelas parpol mendapatkan bantuan dana partai dari uang rakyat?

Ayat Al qur’an dengan jelas memberitakan perilaku orang-orang yang menjual belikan ayat-ayat Al Quran

اشْتَرَوْا بِآيَاتِ اللهِ ثَمَنًا قَلِيلاً فَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِهِ إِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُون

Mereka menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan. (QS at-Taubah [9]: 9).

Dari isi ayat di atas, dengan kentara mengutuk begitu buruknya orang-orang yang menjualbelikan Ayat Qur’an dengan menyebutkan bahwa mereka juga tengah menghalangi manusia dari jalan Allah.

Kaitannya dengan para pelaku korupsi pengadaaan Al-Quran, apakah mereka bisa dikategorikan penjual ayat Qur’an? Dalam pandangan saya “ya”. Bagaimana tidak, bukannya mereka yang notabenenya orang juga menditribusikan Al Qur’an untuk dibaca banyak orang justru dimanfaatkan dengan bagi-bagi porsi project dengan menggelembungkan dananya terlebih dahulu. Dengan cara licik ini pula para pelaku korupsi Al-Quran tengah menghalangi manusia lain dalam perolehan Al Qur’an yang terjangkau harganya.

Tapi adakah dari golongan yang mengaku pembela Islam muncul dan berkoar mengutuk korupsi Al Qur’an ini? Tidak!! Kontras dengan kebencian mereka terhadap ucapan Ahok.

Meski hukuman penjara sudah dijatuhkan kepada para pelaku korupsi Al Quran  di Kementerian Agama, namun beberapa pelakunya masih menjabat di ormasnya, seperti Fadh masih menjabat sebagai Ketua Umum Gerakan Muda (Gema) Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR) dan Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Organisasi Kemasyarakatan MKGR periode 2015-2020.  Zulkarnaen dan  Dendy Prasetya juga merupakan kader MKGR. (https://nasional.tempo.co/read/870575/kasus-korupsi-al-quran-fahd-el-fouz-diperiksa-sebagai-tersangka)

Bila kita amati apakah ada tindakan pemerintah terhadap parpol yang korupsi? Meski  ada kesepakatan tertulis dalam undang-undang Pasal 40 ayat 3 UU Parpol yang menyebutkan bahwa partai politik dilarang menerima sumbangan dari pihak tertentu, baik dari pihak asing, orang, maupun badan usaha yang tidak jelas asal-usulnya. Parpol juga dilarang menerima sumbangan melebihi batas  atas sumbangan dari BUMN/ BUMD dan fraksi di parlemen. Nyatanya penegakkan hukum terhadap pelaku korupsi kalangan berdasi, politikus anggota parpol nyata tumpul ditembus.

Sumber Gambar: https://www.shutterstock.com/video/clip-11210612-stock-footage-al-quran-in-black-background-loop.html

Tentang Penulis

Iin Qurrotul Ain

Tinggalkan komentar