Opini

Amalan yang Diterima Allah Taala

amalan baik

Beramal merupakan salah satu perbuatan terpuji yang disukai oleh Allah Taala dan dapat mendatangkan manfaat bagi diri kita dan orang lain. Bulan Ramadhan merupakan momen yang pas dimana pada bulan yang berberkat ini, segala yang kita lakukan akan mendatangkan berkah, khususnya yang bersifat rohani. Terlepas dari hal itu, kita selalu berpikir bahwa segala macam yang kita lakukan bersifat baik.

Berbicara mengenai amalan, tentu pikiran kita akan langsung tertuju pada jenis-jenis dan contoh-contoh amalan, seperti shalat, tilawat Al-Qur’an, sedekah, dan lain-lain. Tetapi kali ini kita akan membahas tentang cara dari amalan yang kita lakukan, yakni dengan cara menampakkannya atau menyembunyikannya.

Allah Ta’ala berfirman:

Jika kamu bersedekah secara terang-terangan, maka hal itu baik, tetapi jika kamu menyembunyikannya dan kamu memberikannya kepada orang fakir maka hal itu lebih baik bagimu, dan Dia akan menghapuskan darimu sebagian kesalahanmu, dan Allah Maha Teliti atas apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah : 271)

Dari ayat di atas, Allah Taala telah menerangkan bahwa terdapat dua cara pengamalan perbuatan kita, yakni dengan cara menampakkan dan menyembunyikan. Kedua cara tersebut memiliki tingkatan yang sama, yaitu baik bagi kita. Tetapi jika kita perdalam lagi, akan ada sedikit perbedaan. Apakah yang membedakannya?

Sebagai contoh, ketika kita menampakkan amal baik kita kepada orang lain, tidak sedikit dari mereka yang akan memuji-muji kita. Tentu hal ini akan membuat kita cenderung merasa senang. Kecenderungan inilah yang merupakan bibit-bibit dari riya’.

Akan tetapi, semua itu kembali kepada diri kita masing-masing. Jika kita menampakkannya untuk memberikan dorongan atau motivasi kepada orang lain untuk ikut beramal, hal tersebut juga baik bagi kita dan orang lain, serta tidak akan merusak kita.

Sesuai dengan sabda Rasulullahsaw sebagai berikut:

“Barangsiapa yang memulai mengamalkan suatu amal shalih dan manusia mencontohnya, maka dia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya sampai hari Kiamat. Jika tidak terpenuhi syarat tersebut di atas, maka sikap menyembunyikan amal itu lebih utama.” (Az-Zawajir : 1/118).

Namun jika kita memang dari awal sudah terlena dengan pujian orang lain, maka kita sudah masuk ke dalam kategori riya’, dan amalan kita akan menjadi sia-sia serta dapat merusak pahala yang telah kita dapat.

Berbeda halnya jika kita menyembunyikan amal baik kita. Kita meniatkan beramal semata-mata karena keikhlasan dan mencari ridha dan karunia-Nya.  Tentu hal ini adalah lebih baik di mata Allah Ta’ala dan amalan kita tidak akan sia-sia.

Berkenaan hal ini, Rasulullahsaw bersabda:

“Perbuatan-perbuatan kebajikan dapat menangkal serangan keburukan, sedekah secara sembunyi-sembunyi dapat memadamkan kemurkaan Allah, dan silaturrahim dapat menambah umur.” (HR. Abu Umamahra)

Kita mungkin pernah mendengar orang berdoa dengan suara nyaring, atau mungkin menggunakan mikrofon masjid, agar doa tersebut di dengar semua orang. Dari pernyataan ini kita sudah dapat menyimpulkan bahwa orang tersebut telah melakukan amal baik, hanya saja cara pengamalannya kurang tepat.

Allah Ta’ala berfirman:

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan merendahkan diri dan suara rendah, sesungguhnya Dia tidak mencintai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-A’raf : 55)

Dan ingatlah Tuhan engkau di dalam hati engkau dengan merendahkan diri, rasa takut, dan tanpa suara keras, pada waktu pagi dan petang, dan janganlah engkau termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf : 205)

Kedua ayat di atas menerangkan bahwa hendaknya kita tidak mengeraskan suara ketika berdoa, dan justru harus memelankannya. Kita dapat mengibaratkan bahwa kita itu seperti pemohon, doa itu seperti keinginan/hajat kita, dan Allah Taala itu seperti orang yang sedang kita mintai permohonan.

Sebagai pemohon, tentu saja kita akan bersikap hormat dan sopan kepada orang yang kita minta. Disamping itu, kita akan memohon kepadanya dengan suara pelan dan halus agar dia mengabulkan keinginan kita.

Sama halnya dengan berdoa. Kita berdoa menghadap kepada Allah Taala, Tuhan semesta alam. Sudah sepantasnya kita tunduk ke hadapan-Nya. Bahkan dalam shalat pun, kita biasa memohon doa dalam keadaan bersujud. Tak jarang pula kita meneteskan air mata dalam doa kita. Seperti inilah bentuk permohonan doa yang telah dijelaskan dari ayat di atas.

Maka, bagaimanapun cara pengamalannya, baik itu ditampakkan atau disembunyikan, keduanya memiliki tingkatan yang baik di sisi Allah Taala. Selama dalam pengamalannya tidak terdapat unsur yang dapat mendatangkan riya’ atau ingin memberikan dorongan kepada orang lain, kita bisa menampakkan amalan kita. Namun jika tidak mampu melaksanakannya, lebih baik menyembunyikan amalan karena hal itu lebih baik bagi kita. Semoga Allah Ta’ala selalu merahmati kita dan menerima segala amal baik kita. Aamiin.

Tentang Penulis

Sandi Ahmad Razi