Akhlaq Faḍi'l-Lāh

Amarah

angry-face-clip-art

Sore itu, aku tidak tahu tenaga apa yang menggerakan tanganku di atas sebuah potongan batu, sambil menggerak-gerakan sebilah parang naik-turun. Sesekali tangan ini membasuh potongan batu itu yang terlihat terkikis mengeluarkan sedimen-sedimen, lalu kubasuh parang yang berceceran sedimen itu sambil sesekali kuusap dengan dua jariku, kusaksikan karat-karat yang mulai kandas terganti oleh warna mengkilat. Tangan kiriku mencobai perubahan tajam yang terjadi. Tapi, tetap aku tak mengerti apa yang sedang kulakukan.

Geram. Amarah. Sakit hati. Mungkin semua itu yang menggerakan jasadku yang sedang seperti mayat gentayangan. Hanya sebuah ancaman yang terucap, “Kubunuh kalian, kubunuh kalian, kubunuh kalian!” Sebuah kekuatan mengalir deras di setiap aliran darah. Jantungku seperti mau pecah, peluh membanjiri tiap pori-pori, otot-ototku mengeras seperti mendapat sebuah kekuatan baru. Tubuhku bergetar kencang membuat mulutku labil dan terdengar nyaring singgungan antar gigi-gigi, seperti menggigil.

Dengingan olok-olok serta caci maki mereka terus menyulut kekuatan bawah sadarku. Kalau hanya aku yang mereka olok-olok aku akan bersabar, tapi olok-olok dan caci maki itu tidak pantas di alamatkan kepada-“nya”. “Sesat… Kafir…” Label itu tiap hari aku dengar. Tiap melewati kumpulan si Rizik, aku kadang ingin berlari atau menutup seluruh telinga. Aku sudah bosan.

Pernah, si Rizik dengan suara nyaring berteriak saat aku sedang melewati kumpulannya, “Mirza kafir…matinya aja di WC. Hanya orang gila yang mau ngikutin…!!” Aku hanya bisa melaju deras melewati mereka. Hatiku gusar. Aku bertanya-tanya dalam hati, apakah aku pengecut? Aku begitu tak mampu menghentikan hinaan demi hinaan orang-orang keparat itu. Apakah aku terlalu takut menghadapi mereka? Selemah itukah keimananku?

Aku adalah Ahmadi pertama di desa Pasir Putih, mungkin juga di seluruh pulau Lembata hanya aku yang sudah beriman kepada Imam Mahdi. Tidak pernah terbayang olehku akan jadi seperti ini. Reaksi teman, kerabat serta masyarakat desa justru memusuhi, mengolok-olok bahkan memboikot. Aku bertanya-tanya, apa salahku? Apa salah Imam Mahdi? Bukankah dia turun untuk menyelamatkan umat manusia? Mengapa orang-orang tidak menyambutnya? Kadang aku bertarung sendiri dengan pertanyaan-pertanyaan itu yang membuatku mulai ragu.

Pak Manshur lah, mubaligh yang membuatku menyatakan iman kepada Imam Mahdi. Seorang pribadi yang murah bergaul dengan masyarakat, memiliki kemauan yang kuat untuk membangun masa depan desa, terutama pendidikan anak-anak. Juga, seorang pribadi yang tidak suka menasehati dengan ceramah, tapi perbuatan. Bukan mulutnya yang mengajari apa itu kerja keras, apa itu syukur, apa itu tolong-menolong, perbuatannya yang mengajari kami.

Aku tidak mengerti, bagiku Pak Manshur adalah pahlawanku. Ia yang telah menyelamatkan diriku dari lembah kenistaan. Aku adalah seorang pemabuk. Bagiku, teman rokok bukanlah kopi, tapi tuak. Tuak sudah menggantikan peran air. Tuak adalah kehidupanku. Aku kira, hanya kematianlah yang bisa menceraikanku dari tuak. Tapi, Pak Manshur tidak hanya menceraikan hubunganku dengan tuak, tapi membuatku membenci barang tersebut.

Tidak ada yang orang sekampung yang tidak mengenal Tahang, si insinyur tanpa ijazah. Urusan mabuk aku jagonya, apalagi urusan kelahi. Kalau sudah mabuk, siapa pun yang aku ajak kelahi seperti sebatang pohon pisang. Aku cukup disegani. Tapi, itulah adalah cerita masa lalu. Setelah bai’at, semua itu hanya masa lalu yang tak pernah kutuliskan meski dengan tinta hitam sekalipun. Bai’at adalah sebuah titik awalku menjalani hidup.

Orang-orang kampung tidak percaya kalau aku rajin shalat lima waktu. Mereka juga tidak yakin kalau diriku sudah tidak minum tuak lagi. Perubahan baik ini malah dianggap keanehan bagi mereka. Aku malah jadi bingung. Sebagai pemabuk dan tukang berantem, aku sering diolok-olok bahkan tak jarang yang menasehati untuk meninggalkannya. Setelah aku meninggalkan semua itu, olok-olokan mereka bukan berkurang malah bertambah deras.

Mereka heran, saat aku hanya menunjukkan reaksi damai ketika mereka mengolok-olokku dengan berbagai caci maki. “Woiii…juragan tuak sudah tobat..!!” atau “Si pendekar sudah gantung pedang..!!” Semua olok-olok itu bagiku tidak berarti apa-apa. Tapi, ada seorang yang dianggap alim dan taat beribadah di kampung, namanya Rizik. Dia yang menambah bumbu-bumbu olok-olok itu sehingga terasa pedas sekali. Dia mulai menghasut orang-orang kampung untuk memusuhiku dan Pak Manshur.

Aku tidak mengerti, apakah si Rizik mempunyai dendam kepadaku? Apakah aku pernah menyakitinya? Padahal, hubungan kami selama ini baik-baik saja. Pernah aku bertanya kepada Pak Manshur, “Pak, itu si Rizik kok doyan sekali menghasut warga untuk memusuhi kita pak? Padahal, itu orang kan kerjaannya di mesjid terus.”

Pak Manshur tersenyum dan berkomentar sedikit, “Tahang, untuk menjadi buruk, tidak perlu kamu datangi itu keburukan, dia akan menghampirimu. Tapi, saat kamu mau melangkah menuju kebaikan, kamu harus berupaya keras melangkah. Yang namanya kebaikan itu butuh upaya, butuh kerja keras, butuh kemauan tinggi karena semakin kamu kuat berupaya, semakin kuat pula rintangan yang kamu hadapi. Rizik adalah satu rintangan yang Allah sudah karuniakan kepadamu. Jadi, tidak perlu takut dengan semua itu, karena memang begitulah hukum alamnya.”

“Iya pak betul, tapi kan dia orang yang suka shalat. Masa begitu kelakuannya.”

“Ingat Tahang, rajin beribadah belum tentu mendekatkan kamu ke Allah. Teroris pun ibadahnya kuat. Biarpun jidatmu gosong karena lamanya sujud, tapi shalatmu hampa dari keridhoan Allah, jadinya yah seperti itu.”

Meski Pak Manshur sering menasehatiku, tapi jiwa kelammu kadang muncul. Amarahku kadang ingin tumpah. Naluri pendekarku kadang tidak terima. Pernah Pak Manshur bercerita kepadaku saat aku mulai emosi menghadapi olok-olok si Rizik dan para pengikutnya.

“Tahang, Rasulullah saw pernah bersabda, ‘Laisa al-syadiidu bil qura’ati, innamaa al-syadiidu alladzi yamliku nafsahu ‘inda al-ghadhab.’ Kamu tahu artinya Tahang?”

“Tidak pak.”

“Artinya, ‘Orang kuat itu bukan yang jago bergulat, tapi orang yang kuat itu adalah yang mampu menahan amarahnya pada saat dia marah.’ Marah itu alami Tahang. Setiap orang punya ini. Setiap orang bisa meluapkan ini. Tapi ingat, orang marah seperti orang mabuk. Ia tidak sedang berpikir. Ia seperti mayat hidup yang dikendalikan syaitan. Kalau kamu menuruti hawa nafsumu, berarti kamu kalah oleh syaitan. Tapi kalau kamu bertahan, syaitan yang kalah. Oleh karena itu, sabda Rasul tadi memang benar. Bergulat itu mudah. Kamu tidak perlu belajar silat juga bisa. Tapi yang namanya menahan marah ini, seperti kamu melawan ribuan manusia di medan perang.”

Aku hanya bisa mengangguk. Amarah memang mulai reda, tapi masih menyisakan ruang pelampiasan. Aku masih belum bisa menerima. Aku sering berperang dengan pertanyaan-pertanyaan ketidak-terimaan juga kekesalan. Apa orang-orang ini tidak pernah baca Quran sampai mereka tidak bosan-bosan mengolok-olok kami? Apa mereka tidak takut azab yang Allah akan timpakan kepada pada pendusta dan pengolok-olok nabi-Nya? Pertanyaan-pertanyaan ini malah membuatku menjadi semakin gusar.

Puncak kesabaranku, terjadi di pagi tadi. Pagi-pagi aku biasa ke kebun dan pasti melewati kumpulan mereka. Ternyata, si Rizik sudah mendesain sebuah skenario. Pagi itu, warga kampung sudah berkumpul di sekitar kantor desa tempat yang biasa aku lewati. Dari kejauhan aku sudah melihat kepadatan terjadi di sekitar kantor desa. Dan akupun mendengar suara Rizik dari pengeras suara yang masih buram. Perasaanku sudah tak enak.

Aku terus menapaki jalan yang berupa timbunan batu dan tanah yang masih becek terguyur hujan semalam. Tiap langkah aku bertanya-tanya tentang apa yang sedang terjadi. Terdengar samar tapi keras teriakan, “Ahmadiyah” lalu “Ghulam Ahmad” lalu “Nabi Palsu”. Tapi, rangkaian kalimat yang dia ucap masih samar. Meski demikian, aku langsung khawatir. Aku mulai menurunkan tempo jalanku. Memasang telinga dalam kondisi siap. Mencerna tiap kalimat-kalimat si Rizik yang masih kabur. Langkahku mulai gemetar.

Saat aku sudah sangat dekat dengan mereka, memang benar, si Rizik sedang menghasut orang-orang. Dan sasarannya adalah aku dan Pak Manshur. Dia sedang menyebarkan api kebencian atas orang-orang untuk kami berdua. Kepalaku tak kuasa menatap kerumunan orang-orang itu, telingaku mulai gatal mendengar caci-maki dan kedustaannya, dan yang kutakutkan pun kambuh kembali, emosiku mulai bangkit.

Saat si Rizik yang sedang berkoar-koar melihatku mendekat, ia langsung mengarahkan jari telunjuknya kepadaku sambil berteriak, “Itu dia si kafir, sesat juga menyesatkan. Pengikut si Mirza, si Nabi Palsu.” Kerumunan kepala itu sekonyong-konyong menatap ke arahku. Ada yang berteriak juga berbisik-bisik, “Ini dia orang kafirnya. Ini dia si pengikut Nabi Palsu. Nabi Palsu yang matinya di WC.” Suasana begitu gaduh saat aku melewati kerumunan mereka. Tapi, pendengaranku sudah tidak fokus, aku lebih fokus untuk segera meninggalkan orang-orang sialan itu.

Akhirnya, semua berakhir pada niatan menghabisi si Rizik dan gerombolannya. Itulah awal mula aku mengasah parangku. Saat parang sudah siap, juga sudah kumantapkan niat untuk menghabisi mereka, tiba-tiba seseorang datang mengetuk pintu rumah. Sambil tetap memegang parang yang sudah tajam itu, aku buka pintu. Ternyata Pak Manshur. Pak Manshur yang melihatku bahasa tubuhku yang tidak biasa, juga terlihat sebilah parang menempel di tangan, sontak bertanya, “Apa yang mau kamu lakukan Tahang?”

Aku berusaha menyembunyikan niatanku menghabisi si Rizik. Berkilah kesana-kemari. Tapi, Pak Manshur sudah membaca semuanya. Dengan amarah yang menjadi-jadi, aku protes, “Biarkan saya membunuh si Rizik sialan itu pak. Saya sudah tidak tahan dia menghina Imam Mahdi. Dia menyebarkan dusta dimana-dimana. Daripada orang-orang akan semakin disesatkan oleh kebohongannya, lebih baik saya bunuh dia supaya keburukan ini berhenti. Supaya dosa yang dia lakukan tidak terlalu banyak lagi.” Nafasku tersengal-sengal berusaha menyeimbangkan antara amarah yang menggelora dengan caraku mengungkapkannya.

Kutarik nafas dalam-dalam, berupaya tenang meski tak kuasa. Kuceritakan apa yang sudah kualami tadi pagi kepada Pak Manshur. Semuanya. Sedetail-detailnya. Aku berupaya mendapatkan pengesahan untuk menghabisi si Rizik dan gerombolannya.

Lagi-lagi, Pak Manshur tidak menunjukkan reaksi marah atau kesal. Hanya sebilah senyum yang menggantung di bibirnya yang begitu menyejukkan. Rasanya, amarah yang meluap-luap ini sedikit padam. Lalu, Pak Manshur mulai berbicara.

“Tahang, kamu tahu siapa yang harus selalu kita contoh?”

“Iya pak, pasti Rasulullah saw.”

“Betul. Apapun masalah yang kita hadapi, jawaban dari semua itu ada di dalam pribadi Rasulullah saw. Jadi, masalah yang sedang kamu dan saya sedang hadapi, kembalikanlah kepada pribadi Rasulullah saw.”

Seperti ada air dingin yang mengguyuri diriku yang masih gemetar. Tapi ini masih awal, aku semakin ingin mendengar yang selanjutnya.

“Tahang, kamu tahu kisah Rasulullah saw saat di Ta’if?”

“Tidak pak.”

“Karena orang-orang Mekkah tidak mau mendengarkan seruan beliau, beliau memutuskan untuk bertabligh ke Ta’if. Ternyata, kabar buruk tentang Rasulullah saw sudah sampai di Ta’if. Dan ketika mereka sudah tahu bahwa Rasul akan pergi ke kota mereka, pimpinan mereka membuat sebuah rencana penyambutan. Penyambutannya bukan karpet merah ataupun taburan bunga. Tapi, gelandangan dan anak-anak nakal lah yang akan menyambut beliau dengan lemparan batu. Saat Rasul dan Zaid tiba di kota, mereka langsung menghujani beliau dengan batu. Akhirnya beliau mundur dan berlari menjauh. Tapi, orang-orang ini terus mengejar dan melempar batu-batu. Hingga pada jarak beberapa mil dari kota, baru orang-orang itu berhenti mengejar. Rasulullah saw bermandikan darah akibat lemparan batu itu. Rasulullah sangat bersedih hati atas perlakukan orang-orang Ta’if. Saat itu, seorang malaikat turun di hadapan beliau dan menawarkan agar seluruh penduduk Ta’if dibinasakan. Jawab Rasulullah, ‘Jangan. Aku berharap justru dari para penganiaya ini akan lahir orang-orang yang akan menyembah Tuhan Yang Maha Esa.’”

Pak Manshur melanjutkan, “Tahang, Rasul sudah mencotohkan untuk kita apa itu kesabaran. Kalau Rasul mau, seluruh penduduk Ta’if dapat dibinasakan. Tapi, beliau melihat jauh ke depan. Mungkin, anak-cucu dari para penganiaya ini akan masuk Islam. Amarah dan emosi tidak mampu melihat ke depan. Tapi, Rasul mampu mengjangkau masa depan karena cinta beliau kepada umatnya.”

Sekujur tubuhku mulai lemas. Amarahku tak berdaya. Sebilah parang yang terus tertanam dalam tangan akhir tumbang. Mata pun tak kuasa membendung derasnya air mata. Pipiku mulai berceceran. Aku seperti menjadi seorang bayi yang cengeng. Kupeluk Pak Manshur sambil merengek-rengek. Semua tumpah dalam sekejap. Aku menyesal sudah merasa sebagai pahlawan. Padahal, setanlah yang sudah menggerakanku.

“Tahang, doakan lah terus orang-orang itu. Perlihatkanlah terus akhlak mulia Rasulullah saw. Pada akhirnya, mereka sendiri akan lelah. Masih banyak orang yang rindu kebaikan dan kebenaran. Jangan kamu habiskan tenaga untuk mengurusi mereka tidak mau menerima kebenaran. Insyallah, satu persatu di antara mereka akan menerima Imam Mahdi.”

“Iya pak.” jawabku lemah sambil tetap mendekap Pak Manshur. Sambil tetap membanjiri punggungnya dengan air mata penyesalan. Sambil memulai menyusun tekad untuk terus belajar menghadapi caci-maki, hinaan dan olok-olok dengan senyum dan doa, dengan kesabaran, dan dengan kecintaan kepada sesama.

Tentang Penulis

Muhammad Nurdin