Opini

Ancaman Teroris dalam Aksi 411 dan 212

ancaman terorisme

Pelaku tunggal teror, atau yang biasa disebut , adalah para pelaku teroris yang bergerak berdasarkan keinginan sendiri. Mereka beraksi tanpa ada koordinasi dari siapapun. Bahayanya, aksi kejahatan ini sangat sulit untuk diprediksi.

Contohnya adalah kasus penyerangan di sebuah Pos Polisi, di Cikokol, Tangerang pada Kamis(20/10). Sultan Azianah, 22 tahun menyerang tiga polisi dengan senjata tajam. Polisi pun bereaksi dengan menembakan tiga butir timah panas ke bagian paha dan perut. Akibatnya, Sultan tewas dalam perjalanan ke rumah sakit.

Diduga, Sultan terinspirasi oleh propaganda Negara di Irak dan Suriah (ISIS) yang dia pelajari sendiri di Internet. Karena sebelum menyerang, Sultan menempelkan stiker ISIS di pos tersebut. Di dalam sebuah rekaman video, sebelum meninggal, Sultan pun dengan bangga menyebut bahwa petinggi ISIS Abu Bakr al-Baghdadi adalah pemimpinnya.

Karena itu aksi Sultan ini dinamakan sebagai serangan lone wolf.  “Pola yang digunakan adalah a lone wolf ,” kata Kepala Polri, Jenderal Tito Karnavian, mengomentari aksi tersebut, seperti dikutip Tempo.co, Jumat (21/10). Kepala Badan Nasional Penanggulangan (BNPT), Komisaris Jenderal Suhardi Alius, mengakui bahwa “pelaku tunggal” ini sulit untuk diprediksi. “Kita tidak bisa mengestimasi lone wolf atau pelaku tunggal aksi terorisme seperti ini,” kata Suhardi, dilansir VOA Indonesia.

Aksi masal yang perlu penuh provokasi dapat memunculkan para teroris lone wolf di berbagai daerah. Sebut saja aksi 411. Kapolri Jenderal Tito Kanavian mengungkap adanya rencana simpatisan ISIS ikut aksi 411. Setidaknya, ada dua kelompok yang berafiliasi dengan ISIS yang akan memanfaatkan situasi ini, yakni Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) (okezone.com). Bahkan, komandan lapangan aksi ini dalam sebuah rekaman video menghadiri baiat massal ISIS.

Selang beberapa hari saja setelah aksi 411, muncul aksi terorisme yang terjadi di Gereja Oikumene, Sengkotek, Samarinda Kalimantan Timur, Minggu (13/11) lalu. Lagi-lagi, para pelaku adalah simpatisan ISIS. Di lansir dari KBR.com, Kepolisian memastikan tujuh orang tersangka dalam kasus ledakan bom molotov tersebut merupakan pengikut ISIS.

Saya khawatir, apabila aksi 212 dilanjutkan berpotensi menginsipirasi para teroris lone wolf yang saat ini sedang diam. “Potensi itu selalu ada, makanya kita pantau terus,” ucap Kepala BNPT Suhardi Alius dilansir dari tribunews.com.

Mungkin hanya sedikit dari jutaan orang yang akan ikut aksi 212 yang juga simpatisan ISIS. Tetapi, dari sedikit saja adik kita Intan Olivia Banjarnahor, balita perempuan berusia dua tahun enam bulan itu harus menemui Tuhannya lebih cepat. Apakah pembaca mau aksi terorisme yang sama terulang?

Ibu, Penyelamat Bangsa Dari Teroris

Para pemuda memang rentan menjadi seorang radikalis. Banyak aksi teroris yang dilakukan oleh pemuda, contohnya mulai dari Bom Bali-1, Bom Gereja Kepunton, bom di JW Marriot dan Hotel Ritz-Carlton, hingga aksi bom bunuh diri Polres Solo dan Bom di Beji dan Tambora. Bahkan dua dari tujuh tersangka aksi bom Molotov di Samarinda masih berusia 15 dan 17 tahun.

Jika mereka mendapatkan pendidikan tentang terorisme sejak dini maka mereka akan terhindar dari ajakan-ajakan sesat kelompok teroris. Disinilah bagaimana mulianya peran seorang ibu dalam mendidik anak-anaknya.

Saya teringat hadist dari Rasulullah SAW, “Al-jannatu taḥta aqdāmi’l-ummahāt.” Surga berada dibawah telapak kaki ibu. Ya, Rasulullah SAW sangat mengagungkan peran ibu. Arti dari ucapan beliau SAW adalah, seorang ibu dapat mendidik anaknya menjadi ahli surga.

Karena itu, Pemimpin Islam Ahmadiyah Internasional, Hazrat Mirza Masroor Ahmad yang saat itu sedang di Saskatoon, Kanada, menyampaikan bahwa betapa pentingnya pendidikan bagi wanita untuk menangkal radikalisme di kalangan pemuda.

“Dan jika seorang perempuan tidak memiliki pendidikan yang baik maka dia tidak akan bisa mendidik anak-anaknya kelak. Jika anak-anak mereka tidak diajari dengan baik niscaya mereka akan menjadi penduduk yang tidak taat kepada hukum negaranya. Negara tidak akan mendapat manfaat apa-apa dari mereka.“

Sebaliknya, jika para ibu terdidik dengan baik, baik pendidikan agama maupun pendidikan sekuler, dan mereka memahami betul ancaman gerakan radikalisasi maka “mereka akan bisa menyelamatkan anak-anaknya” ujar beliau.

Sumber Gamber: http://sosialberita.net/2016/01/21/soal-ancaman-teror-bom-di-bali-polisi-belum-bisa-pastikan-pelakunya/13377

Tentang Penulis

Fariz Abdussalam