Terorisme

Apakah Agama Sumber Masalah?

Agama kembali dipertanyakan. (ilustrasi: economist.com) | Apakah Agama Sumber Masalah - Reza - economist
Penulis Akhmad Reza

BAHKAN setan pun mengutip kitab suci demi kepentingannya. —William Shakespeare

RENTETAN aksi teror seperti di Brussel, Paris, Turki dan yang paling terakhir di Lahore Pakistan baru-baru ini adalah mimpi buruk kemanusiaan. Agama kembali dipertanyakan, apakah ia solusi atas permasalahan umat manusia atau justru sumber masalah?

Mimpi buruk tersebut besar kemungkinan masih berlanjut dan kita belum sungguh-sungguh terbangun. Aksi-aksi teror berikutnya seakan menunggu antrian untuk meletus, entah giliran wilayah mana selanjutnya?

Tidak ada satu sudut pun di dunia ini yang dapat mengklaim kedaulatannya tak tersentuh oleh ancaman . “Korban mengerikan akibat fanatisme agama yang destruktif tidak lagi memiliki batas yang dapat diprediksi atau batas geografis tertentu,” ujar Kimball (2013:41).

Semenjak Negeri Paman Sam mencetuskan “perang melawan terorisme” setelah peristiwa 9/11 ratusan aktor terorisme di pelbagai sudut dunia dimusnahkan, diburu dan ribuan lainnya telah dijebloskan ke dalam penjara dengan pengamanan ekstra ketat seperti di Guantanamo. Lantas, apakah dunia menjadi semakin aman?

Kondisi yang tidak jauh berbeda terjadi di tanah air. Semenjak Bom Bali pada 2002 lalu, Indonesia serius menangani terorisme. Densus 88 begitu digdaya memberangus sel-sel teroris kelompok Azhari, Noordin M.Top; tapi, apakah terorisme berakhir?

Lalu, bagaimana dengan aksi-aksi mutakhir seperti pengeboman di Sarinah atau kemunculan kelompok Santoso? Semakin banyak teroris yang musnah, namun tak menghentikan diaspora terorisme dan di dunia ini.

Dalam dunia pewayangan, terorisme ibarat gelembung Rahwana. Diceritakan, meski tubuh Sang Raja Alengka ini telah dijepit oleh dua gunung, Rahwana masih sempat mengeluarkan kutukan, “Jasadku boleh jadi lenyap sesudah ini, tetapi jisimku akan tetap hidup, menyusup ke dalam jiwa setiap manusia sepanjang abad….” Ia mengangakan mulutnya, dan semenjak itu beterbanganlah gelembung Rahwana ke seluruh dunia. Konon, gelembung inilah yang menjadi biang kejahatan umat manusia.

Dengan kata lain, terorisme tidak akan pernah mati, kecuali akar atau inangnya dimatikan. Akarnya tersebut berada dalam klaim-klaim agama yang sudah mengerak menjadi ideologi. Dan ideologi adalah cara memandang segala sesuatu.

Masalahnya, “cara memandang” ini bisa jadi merupakan respon terhadap apa yang terjadi. Ketika lingkungan membuatnya tidak berdaya, dan rendah diri maka sebagian orang berusaha untuk berpijak pada fondasi yang memberikannya rasa aman.

Ketidakberdayaan, kerendahdirian, di tengah arus modernisasi sekarang inilah yang—menurut Karen Armstrong—menjadi peretas jalan bagi gerakan-gerakan ad fontes (radikalisme). Gerakan ini seringkali ujung-ujungnya bersifat destruktif dan serba zero sum game (kalah menjadi abu, menang menjadi arang). Ia dapat hadir di setiap budaya dan agama manapun, tak terkecuali .

Jika sudah begini, teks-teks dalam kitab suci berbicara menurut kepentingan penafsirnya. Ia ibarat dua sisi mata uang. Di satu sisi, ia bisa mencetuskan dan melahirkan sosok-sosok humanis seperti Bunda Theresa atau Muhammad Yunus. Tetapi di sisi lain, ia bisa meletuskan aksi teror paling keji di luar akal sehat, seperti yang dipertontonkan , Boko Haram, atau Taliban.

Kedua tindakan yang berseberangan secara diametral ini sama-sama mengklaim agamalah sebagai motifnya. Agama menjadi “manual book” yang mengabsahkan tindakan mereka. “Sebagai institusi manusia, semua agama sangat rentan untuk diselewengkan,” tulis Kimball dalam When Religion Becomes Evil.

Kelompok-kelompok garis keras “membajak” agama sesuai dengan penafsiran mereka. Dan mereka mengklaim penafsiran merekalah satu-satunya yang–menurut istilah Khaled Abou El Fadl–merupakan “Keinginan Tuhan” (The Will of the Divine).

Solusi untuk menghapus terorisme adalah menghapus ideologi di belakangnya. Tepatlah seperti dikatakan A.M. Hendropriyono, mantan Kepala BIN, bahwa untuk menghancurkan terorisme kita harus menghancurkan juga habitat tempatnya hidup. Tentu, bukan berarti kita lantas setuju kepada seruan Nietsche dalam Zarathustra-nya bahwa agama telah mati!

Terorisme, meski mengaitkan dirinya dengan agama, namun bukanlah ajaran otentik agama bersangkutan. Doktrin agama yang diselewengkan bukan satu-satunya faktor. Louise Richardson dalam bukunya, What Terorist Want, menyatakan gagasan “lethal cocktail” (campuran mematikan) terkait 3 faktor yang mendorong orang terlibat dalam terorisme: individu yang termarjinalkan, kelompok yang memfasilitasi, dan ideologi yang membenarkan.

Terkait ideologi yang membenarkan. Sudah saatnya kaum yang moderat harus menjelaskan atau menafsir ulang ayat-ayat dalam kitab suci yang selama ini menjadi sandaran kelompok-kelompok teroris. Proyek deradikalisasi harus menjadi proyek bersama, bukan sekadar tugas , namun segenap umat yang merasa agamanya telah dibajak!

Praktik-praktik intoleransi yang marak di negeri ini adalah bibit terorisme. “Intoleransi adalah awal mula dari terorisme dan terorisme adalah puncak dari intoleransi,” ujar Wakil Ketua Setara Institute, Bonar Tigor Naipospos.

 

Dimuat di Qureta.com

Tentang Penulis

Akhmad Reza

Tinggalkan komentar