Peristiwa Solidaritas Palestina Terjemahan Yadly Rozali

Apakah Israel dan Hamas benar-benar berunding untuk mengakhiri pengepungan Gaza?

Apakah Israel dan Hamas benar-benar berunding untuk mengakhiri pengepungan Gaza Capture electroni intifada Palestina Gaza Rafah Mesir Egypt Monday Palestinians at the Rafah 2

Ilustrasi Palestina-. (Electronic Intifada)

PENASIHAT Perdana Menteri Turki Ahmet Davutoglu mengatakan, Israel dan organisasi perlawanan Palestina, Hamas, kemungkinan sudah dekat menuju gencatan senjata jangka panjang untuk Gaza.

Meski kabar atau desas-desus dari kesepakatan tersebut telah muncul di media selama berbulan-bulan, pernyataan resmi dari pihak terkait akan menguatkan desas-desus tersebut.

Dalam sebuah wawancara Senin lalu dengan Alresalah, koran yang berbasis di Gaza yang dekat dengan Hamas, Yasin Aktay juga mengatakan bahwa Israel dan Turki sudah mendekati kesepakatan mengenai serangan Israel terhadap kapal Mavi Marmara.

Serangan Israel pada Mei 2010 terhadap kapal tersebut, yang merupakan bagian dari armada bantuan menuju Gaza, menewaskan sembilan warga Turki dan seorang remaja Turki yang memegang kewarganegaraan AS, mengakibatkan rusaknya hubungan antara kedua negara tersebut.

Pejabat Turki mengatakan sudah ada kemajuan yang signifikan terhadap gencatan senjata jangka panjang yang akan mengakhiri 8 tahun blokade Israel terhadap Gaza.

Aktay, wakil ketua partai berkuasa AK Turki, mengatakan bahwa kunjungan pemimpin Hamas Khaled Meshaal ke Ankara baru-baru ini, terkait dengan usaha tersebut.

Sampai saat ini belum ada kemajuan yang berarti terkait gencatan senjata jangka panjang yang seharusnya dibahas dalam minggu-minggu setelah gencatan senjata 26 Agustus 2014, yang mengakhiri 51 hari serangan Israel di Gaza.

Lebih dari 2200 warga Palestina, termasuk 551 anak-anak, tewas di Gaza musim panas lalu dan lebih dari 100 ribu orang masih membutuhkan tempat tinggal permanen karena kurangnya rekonstruksi sejak saat itu.

 

LINK maritim

“Pembicaraan tentang Mavi Marmara sedang berlangsung dan pembicaraan ini berhubungan dan erat kaitannya dengan pembicaraan gencatan senjata oleh Hamas,” kata Aktay kepada Alresalah, menambahkan bahwa pengepungan Gaza telah menjadi “masalah Turki.”

Pada bulan September 2011, Turki memberlakukan sanksi yang belum pernah terjadi sebelumnya kepada Israel, yaitu mengurangi hubungan diplomatik dan militer sebagai akibat dari serangan ke Mavi Marmara.

Turki menuntut permintaan maaf Israel, kompensasi bagi para korban dan pengehentian blokade Gaza.

Aktay mengatakan bahwa Turki telah berjanji untuk membangun sebuah pelabuhan dan membangun kembali bandara Gaza jika kesepakatan tersebut tercapai.

Dia juga mengatakan bahwa telah terjadi pembicaraan antara Turki dan pemerintah Siprus selama pembentukan koridor maritim ke Gaza melalui Siprus.

Sebuah makalah yang membahas koridor tersebut diterbitkan tahun lalu oleh Euromid, sebuah organisasi hak asasi manusia yang berbasis di Gaza.

Tapi Aktay mengakui adanya kendala-kendala yang berarti: “Setiap kali kita mencapai tahap lanjut dalam negosiasi Mavi Marmara, Israel menyerang Gaza lagi dan semuanya kembali ke nol.”

Aktay menambahkan bahwa peningkatan hubungan Turki dengan Israel akan membantu mengakhiri penderitaan warga Palestina di Gaza.

Penyangkalan Israel yang meragukan Manuver aneh dilakukan oleh mantan Perdana Menteri , yang baru-baru ini mundur dari utusan perdamaian Quartet, kembali melakukan peran mediasi.

Blair bertemu dengan pemimpin Hamas Khaled Meshaal di ibukota Qatar, Doha, awal bulan ini untuk kedua kalinya sejak Juni.

Blair telah lama dikritik oleh Palestina untuk posisinya yang sangat pro-Israel.

Kantor Perdana Menteri Israel membantah keterlibatan mereka dalam negosiasi tersebut.

“Israel secara resmi menjelaskan bahwa tidak ada pertemuan dengan Hamas,” tukas kantor perdana menteri dalam sebuah pernyataan. “Tidak secara langsung, tidak melalui negara lain dan tidak melalui perantara.”

“Penyangkalan yang diterbitkan oleh biro perdana menteri itu tidak salah,” menurut pengamatan dalam sebuah laporan di harian Israel Haaretz.

“Namun, dari percakapan dengan sejumlah tokoh Israel — mereka dengan fungsi resmi dan mereka yang tidak, tetapi terkait dengan isu ini — disimpulkan bahwa gambaran permasalahannya lebih kompleks.”

“Israel tidak melakukan negosiasi gencatan senjata dengan Hamas, namun mereka pasti memeriksa kelayakannya,” kata seorang sumber Israel ke Haaretz.

Surat kabar itu juga mengungkapkan bahwa walaupun Blair tidak secara resmi dianggap sebagai perantara oleh Israel, usahanya telah mendapat restu dari Netanyahu.

“Para pejabat Senior Israel dan tokoh tidak resmi Israel yang terlibat dalam isu ini mengatakan bahwa Blair tidak membuat kemajuan yang signifikan dalam dua pertemuannya dengan Meshaal,” Haaretz melaporkan.

 

panik

Sementara itu, Otoritas Palestina atau yang berbasis di Ramallah tampaknya merespon laporan upaya gencatan senjata dengan kepanikan.

Seorang juru bicara untuk , faksi politik yang dipimpin oleh pemimpin PA Mahmoud Abbas, menuduh Hamas ingin mendirikan negara sendiri di Gaza.

Ahmad Assaf mengatakan bahwa semua kesepakatan seperti yang disebutkan dalam laporan media-media akan melanggar “konsensus nasional Palestina.”

, anggota komite eksekutif yang didominasi Fatah, mengecam pembicaraan tersebut sebagai “konspirasi” yang bertujuan untuk mendirikan “entitas baru pimpinan ” di wilayah tersebut.

Abbas, yang secara militer bersekutu dengan Israel, mungkin khawatir dengan adanya kesepakatan Hamas dan Israel dapat membuat perannya sebagai kepala pemerintahan Palestina di pendudukan Israel menjadi semakin tidak relevan.

Pada bulan Maret, Abbas menyerukan intervensi militer Arab untuk menggulingkan Hamas di Gaza.

Dokumen-dokumen PA bocor ke stasiun TV pada tahun 2011. Ia menunjukkan bahwa para pejabat Fatah dan PA mendukung pengepungan Israel di Gaza dari sejak awal, dan berharap hal itu akan menimbulkan ketidakpuasan rakyat Palestina terhadap Hamas.

Penghentian pengepungan dan peningkatan taraf kehidupan penduduk di Gaza bisa menguatkan posisi Hamas dan semakin mengurangi kesempatan Abbas dalam memulihkan kekuasaan Israel yang didukung di wilayah itu.

 

HAMAS Bergerak

Dalam pidatonya pada hari Senin, Ismail Haniyeh, pimpinan tinggi Hamas di Gaza, menepis serangan PA, dan mengatakan Hamas tidak akan pernah menerima negara yang sebatas Gaza.

Haniyeh dan pemimpin senior Hamas lainnya dari Gaza, sedang mempersiapkan perjalanan ke Kairo pada hari mendatang untuk melakukan pembicaraan dengan pihak militer dan intelijen Mesir.

Kesepakatan dengan Mesir akan diperlukan dalam setiap rencana yang terkait pembukaan perbatasan Rafah, yang saat tersebut merupakan satu-satunya penghubung sebagian besar warga Palestina di Gaza ke dunia luar.

Al-Quds Al-Arabi melaporkan bahwa Haniyeh telah meminta izin Mesir dalam lawatan tur internasional “yang perhentian paling pentingnya di Qatar dan Turki untuk membahas ide-ide baru yang disajikan oleh [Blair] dalam pertemuannya dengan [Meshaal].”

Pemimpin Hamas di Gaza juga bertemu minggu ini dengan rekan-rekan mereka dari Islamic Jihad, yang dikatakan mendukung pembicaraan gencatan senjata.

Namun dari manuver-manuver yang samar menuju akhir situasi bencana yang masih menimpa 1,8 juta orang di Gaza masih terlihat ada jarak yang jauh.

Imam Jamaah Muslim Ahmadiyah Khalifah Almasih V Mirza Masroor Ahmad, sejak awal, mengecam segala macam bentuk agresi baik yang dilakukan Israel, maupun Palestina, dan menyerukan sukarelawan Ahmadi untuk turun membantu para korban bencana kemanusiaan di sana, dan mengingatkan kepada seluruh pemimpin negara di dunia bahwa bila dibiarkan, hal ini dapat menjadi perang global.

 

The Electronic Intifada | Alislam | Yadly Rozali | RP

Tentang Penulis

masq@mkaindonesia.org

Majelis Anṣār Sulṭānu'l-Qalām Indonesia

Tinggalkan komentar