Opini

APAKAH NABI SEORANG YANG SUPER?

nabi

Saya sering kali mendengar orang-orang mengatakan bahwa adalah orang yang super dan istimewa. Dia bisa menghidupkan orang yang mati (QS Ali ‘Imran [3]: 50), menciptakan burung dari tanah liat (QS Ali ‘Imran [3]: 50), bahkan bisa hidup di langit (H.R. Bukhari).

Pernyataan Al-Qur’an dengan tegas dan jelas menolak pernyataan itu.  Menurut Al-Quran hal itu tidak bisa dimaknai secara harfiah melainkan memiliki konotasi metaforis. Misalnya Nabi bisa menghidupkan orang yang mati, maksudnya adalah keadaan orang itu telah buta terhadap agama, lalu Nabi akan membangkitkan kekuatan spiritualnya untuk kembali kepada-Nya (QS Al Anfal [8]: 25).

Kemudian, ketika Rasulullah SAW diminta oleh Ahli Kitab untuk naik ke langit secara fisik dan membawa kembali sebuah kitab, maka tuntutan-tuntutan ini bertentangan dengan kemampuan-kemampuan beliau yang terbatas sebagai seorang manusia, dan tidak selaras dengan tugas beliau sebagai seorang Rasul.

Sebagaimana Allah memberikan jawaban :

اَوْ يَكُوْنَ لَـكَ بَيْتٌ مِّنْ زُخْرُفٍ اَوْ تَرْقٰى فِى السَّمَآءِ  ؕ وَلَنْ نُّـؤْمِنَ لِرُقِيِّكَ حَتّٰى تُنَزِّلَ عَلَيْنَا كِتٰبًا نَّـقْرَؤُهٗ‌  ؕ قُلْ سُبْحَانَ رَبِّىْ هَلْ كُنْتُ اِلَّا بَشَرًا رَّسُوْلًا

“Atau engkau mempunyai sebuah rumah dari emas atau engkau naik ke langit. Dan sekali-kali kami tidak akan percaya kenaikan engkau ke langit, hingga engkau turunkan kepada kami sebuah kitab yang dapat kami membacanya.” Katakanlah, “Maha Suci Tuhan-ku, aku tidak lain melainkan seorang manusia biasa yang diutus sebagai seorang rasul” (QS Bani Israil [17]: 94 )

Jadi seorang Nabi atau Rasul secara fisik hanyalah seorang manusia biasa, mereka tidak diutus karena memiliki kekuatan super melainkan mereka mampu mencerminkan sifat-sifat Allah dengan memberikan teladan akhlak yang baik, memiliki ilmu ma’rifat yang tinggi (pribadi yang sangat mengenal Tuhan-nya), memiliki tingkat spiritual yang tinggi dan memberikan kebaikan pada semua orang.

Pada bulan Mei 1900 Hadhrat Masih Mau’ud a.s. pun bersabda:

      “Kedatangan nabi itu penting, bersamanya terdapat quwwat qudsi (kekuatan mensucikan). Di dalam kalbunya terdapat gejolak semangat yang membuatnya tidak tenang, yaitu gejolak kepedulian terhadap orang-orang, gejolak untuk memberikan manfaat kepada orang-orang serta gejolak untuk memberikan kebaikan kepada khalayak ramai.

Sungguh agungnya tugas seorang Nabi, begitu perdulinya terhadap sesama manusia, memberikan teladan akhlak yang mulia terhadap semua orang, senantiasa mengajak ke jalan yang benar, membangkitkan kekuatan rohani, tidak lain semua itu bermanfaat bagi semua orang.

Namun manusia tidak akan mencapai kemajuan-kemajuan yang sempurna, jika tidak ada mujahadah (upaya gigih). Allah Taala berfirman :

وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا‌ؕ وَاِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ

“Dan orang-orang yang berjuang untuk berjumpa dengan Kami, pasti Kami akan memberi petunjuk kepada mereka pada jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS Al-Ankabut [29] : 70)

Jadi kemajuan-kemajuan manusia akan berlangsung secara bertahap. Tidak bisa orang dengan sekali berubah, lalu ia serta-merta menjadi orang yang suci. Ini adalah anggapan yang melampaui batas. Begitu juga kemajuan rohani tanpa adanya mujahadah tidak akan mengalami kemajuan sedikitpun. Jadi mujahadah adalah sangat perlu agar mereka mendapat hidayah (petunjuk) menuju jalan-Nya.

Inilah tugas seorang Nabi. Dia memperlihatkan kepada dunia bagaimana manusia dapat mencapai Allah Ta’ala. Serta memberikan bimbingan ruhani untuk menuju jalan-Nya. Semoga Allah memberikan karunia pada kita semua. Aamiin.

Tentang Penulis

Achmad Arif Setyawan