Opini

Asal-Usul Kata “SARACEN”

saracen

Beberapa waktu lalu, kita digemparkan dengan terbongkarnya sindikat Saracen yang bergerak dalam dunia gelap media sosial. Sebagian orang menganggap bahwa kemunculan Saracen hanyalah suatu pengalihan isu yang dilancarkan guna mendiskreditkan dan, pada akhirnya, membubarkan ormas-ormas Islam. Mereka berargumen bahwa kata “Saracen” digunakan oleh orang-orang Kristen Eropa secara peyoratif bagi orang-orang Islam semasa Perang Salib. Atas dasar ini, mereka menyimpulkan bahwa Saracen itu tak lebih dari buat-buatan Pemerintah dalam rangka memojokkan umat Islam.

Pada kesempatan kali ini, saya tidak akan membahas apakah kasus Saracen adalah pengalihan isu atau tidak. Namun, saya akan mendiskusikan di sini perihal asal-muasal kata “Saracen” yang menjadi polemik. Semoga bermanfaat 🙂

Adalah benar bahwa istilah “Saracen” diucapkan oleh para penulis Kristen pada era Perang Salib untuk menyebut orang-orang Islam. Menurut keterangan Encyclopedia Britannica, penggunaan istilah “Saracen” untuk menjuluki seluruh kaum muslimin yang bernaung di bawah pimpinan kekhalifahan pertama kali diprakarsai oleh orang-orang Byzantium.

Sebagai informasi, Kerajaan Byzantium atau Romawi Timur yang berpusat di Asia Minor dengan Konstantinopel (Istanbul) sebagai ibu kotanya dahulu pernah berkuasa di daerah Suriah, Mesir, dan Etiopia dengan raja-raja regionalnya masing-masing adalah Heraklius, Muqauqis, dan Negus. Setelah Islam datang, tepatnya pada masa kekhilafahan Hadhrat ‘Umar, kekuasaan Byzantium di Timur Tengah runtuh dengan hanya menyisakan Asia Minor.

Akan tetapi, satu hal yang perlu diperhatikan dengan baik adalah bahwa kata “Saracen” telah umum digunakan oleh penulis-penulis kuno untuk menyebut suku-suku Arab nomaden, khususnya di bagian utara Semenanjung Arab. Ptolomeus, pakar geografi terkenal asal Yunani pada abad kedua Masehi, telah menuliskan istilah “Saracen” dalam bukunya, “Geographia”.

Marcian dari Heraclea (sekitar 400 M) dalam “Periplus of the Outer Sea” juga pernah menggunakan istilah “Saraceni”. Ammianus Marcellinus, penduduk Antiokia yang menuis “Rerum Gesturum” mempersamakan Saracen dengan orang-orang Arab Badui.

Jadi, kata “Saracen” pada hakikatnya tidaklah secara langsung dikenakan bagi orang-orang Islam, tetapi dipergunakan terlebih dahulu untuk menyebut orang-orang Arab nomad pra-Islam. Kata “Saracen” dilekatkan kepada kaum muslimin saat Perang Salib karena memang kebanyakan orang Islam yang mereka jumpai saat itu berkebangsaan Arab dan bertempat tinggal pula di Arabia.

Kemudian, yang menjadi persoalan berikutnya adalah perihal makna kata “Saracen”. Sebagian pihak menganggap bahwa kata “Saracen” berasal dari akar “sa-ra-qa” (سرق) dengan bentuk jamak “sariqin” (سارقين) yang berarti ‘mencuri’.

Pemaknaan ini benar mengingat badui-badui Arab pra-Islam gemar sekali merampok kafilah-kafilah dagang yang melintasi gurun-gurun Arab. Begitu hebatnya mereka dalam merampok sampai-sampai Kerajaan Persia dan Romawi tidak mampu menaklukkan dataran Arab.

Tercatat, satu-satunya kerajaan yang berhasil memegang kendali atas orang-orang Arab hanyalah Kerajaan Assyiria, itu pun di masa kuno, pertama kali terjadi pada masa Raja Tiglath-Pileser III (745-727 SM). Adapun menganggap bahwa pemaknaan kata “Saracen” dalam artian ‘pencuri’ kepada umat Islam pada era Perang Salib kelihatannya kurang tepat sebab para tentara Salib sendiri mengakui peradaban kaum muslimin yang tempo hari lebih tinggi daripada mereka.

Penjelasan yang paling cocok untuk itu adalah bahwa kata “Saracen” berakar dari bentuk “sya-ra-qa” (شرق) yang derivat pluralnya adalah “syarqiyyin” (شرقيين) dengan makna “orang-orang timur”. Hal ini lebih dapat diterima mengingat Tanah Suci Yerusalem yang diinvasi oleh pasukan salib terletak di sebelah timur Eropa.

Sebagai tambahan, istilah “muslimin” pun turut dipergunakan oleh orang-orang Eropa semasa Perang Salib untuk menyebut umat Islam. Dalam surat orang-orang Cyprus (Risalat Ahli Qibrush/رسالة اهل قبرص) yang ditujukan kepada Ibnu Abi Thalib dan Ibnu Taimiyyah dengan nada polemik-apologetik kata “muslimin” termuat dengan jelas.

Sumber:

  1. Encylopaedia Britannica Online
  2. Philip K. Hitti. (2005). History of the Arabs. Cecep Lukman Yasin & Dedi Slamet Riyadi, pen. Jakarta: Serambi.
  3. Rifaat Ebied & David Thomas, ed. (2005). Muslim-Christian Polemic During the Crusades: The Letter From the People of Cyprus and Ibn Abi Talib Al-Dimashqi’s Response. Leiden: Brill.

 

Tentang Penulis

R. Iffat Aulia Ahmad A.

Seorang musafir yang terdampar di persimpangan ruang dan waktu, yang duduk termangu menatap segala kericuhan zaman, menengadah ke langit di tengah keheningan, memandang takjub Sang Markaz-ud-Dā’irāt.

Tinggalkan komentar