Dalil Muhammad Idris-Funafuti Opini

Asas kepasrahan dan amal saleh dalam dakwah global Jamaah Muslim Ahmadiyah

alislam.org

islustrasi dari alislam.org

Oleh Muhammad Idris-Funafuti

#Penggalan kedua (2/5) dari artikel berjudul “DELAPAN azas dakwah global Jamaah Muslim Ahmadiyah”

 

UNTUK azas yang pertama yaitu ketundukan dan penyerahan diri— al-huḍū’ wa’l-inqiyād, hal ini sesuai dengan firman Allāh swt.:

بَلٰى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهٗ لِلّٰهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهٗ أَجْرُهٗ عِنْدَ رَبِّهٖ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ

«Balā man aslama wajhū li’l-Lāhi wa huwa muḥsinuń falahū ajruhū ‘ińda rabbihī wa lā khaufun ‘alaihim wa la hum yaḥzanūn[a]»—artinya, “[Tidak demikian], bahkan, barang siapa yang menyerahkan diri kepada Allāh, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhan-nya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak [pula] mereka bersedih hati. (QS II—Al-Baqarah:112)”

Berkenaan dengan azas ini, pendiri Jamaah Muslim Ahmadiyah, Ḥaḍrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. bersabda, “Hendaklah takut kepada Tuhan dan tempuhlah jalan ketakwaan. Janganlah menyembah makhluk. Berpasrah dirilah kepada Tuhanmu dan berpalinglah dari dunia. Jadilah kepunyaan Dia sepenuhnya dan jalanilah kehidupan bagi Dia semata-mata. Dan bencilah segala kenajisan dan dosa demi Dia, sebab Dia adalah wujud yang suci. Hendaklah tiap-tiap hari bilamana fajar menyingsing memberi kesaksian bahwa kamu telah melewatkan hari dengan penuh ketakwaan dan tiap-tiap petang hendaklah menjadi saksi bahwa kamu menjalani siang hari dengan hatimu merasa takut terhadap Allah. (Kasytī Nūḥ {Indonesia: Bahtera Nuh}, halaman 19—20)”

 

SEDANGKAN, untuk azas yang kedua yaitu amal saleh (al-‘amalu’ṣ-ṣāliḥ). Ini selaras dengan firman Allāh swt. di dalam Al-Qur’ān:

وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَنُدْخِلَنَّهُمْ فِى الصّٰلِحِينَ

“Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh benar-benar akan Kami masukkan mereka ke dalam [golongan] orang-orang yang saleh. (QS XXIX—Al-‘Ankabūt: 9)

Pendiri Jamaah Muslim Ahmadiyah bersabda, “Kerjakanlah segala amalan baik dengan cermat dan tinggalkanlah perbuatan buruk disertai perasaan jengkel. Ingatlah dengan seyakin-yakinnya bahwa tiada sesuatu amal dapat sampai ke hadirat Allāh apabila amal itu kosong dari takwa. Setiap amal baik berakar pada takwa. Sesuatu amal yang tidak kehilangan akar itu, amal itu sekali-kali tidak akan sia-sia. (Bahtera Nuh, halaman 23)”

Kemudian beliau a.s. bersabda lagi, “Untuk menumbuh-kembangkan pepohonan itu diperlukan air. Maka, demikian pula halnya, untuk memperkuat iman dan menumbuh-kembangkan keimanan, itu memerlukan perbuatan amal saleh. Semua perbuatan amal baik yang harus Anda kerjakan adalah sesuai dengan yang telah Allāh firmankan kepada kita, yaitu untuk meraih riḍa Allāh. Sehingga, dapat meningkatkan keimanannya. Jadi, dengan pemikiran seperti inilah setiap orang Ahmadi harus melakukan ibadahnya dan melakukan amal perbuatan baik lainnya sehingga imannya itu akan bertambah kuat dan kita akan senantiasa menjadi penerima keberkahan-keberkahan dari Allah. (dikutip dalam Khoṭbah Jumat Ḥaḍrat Khalīfatu’l-Masīḥ V tanggal 10 Agustus 2007)”

_
Penggalan I | Penggalan III | Penggalan IV | Penggalan V

Tentang Penulis

masq@mkaindonesia.org

Majelis Anṣār Sulṭānu'l-Qalām Indonesia