Opini

Ayah dan Hati Nuraninya

hari ayah

Hari ini, kita hidup di masa ketika ada pertanyaan, maka jawabannya adalah “ada di google” . Kecanggihan teknologi seakan memanjakan semua lini masyarakat. Termasuk untuk para . Ayah zaman now lebih dimudahkan pula oleh bantuan google. Anak meminta bantuan untuk mengerjakan PR, tanya ke Google. Anak jatuh, tanya ke Google, sampai anak sakit pun, tanya ke Google. Tidak jarang, tips mendidik anak pun ditanyakan ke Google bagaimana caranya. Efektifkah?

Memang, tidak jarang, Google selalu memberikan kepuasaan dari setiap pertanyaan. Namun, untuk praktiknya, sepertinya ada sosok yang lebih pantas untuk menjadi tempat mencari jawaban para ayah zaman now. Tanyalah pada para ayah di zaman dulu, yang telah berhasil mendidik dan menjadikan diri kita seperti saat ini. Bayangkan, ayah zaman dulu, jangankan gadget di tangan, hidupnya hanya disibukkan untuk mengurusi pekerjaan dan keluarga. Tapi, dari buah karya merekalah terlahir banyak orang yang saat ini telah sukses dalam kehidupannya.

Ya, para ayah di zaman dulu, ayahku, ayahmu, ayah kalian yang telah sukses dengan segala kerja kerasnya mendidik, menjaga, membesarkan hingga sampai saat ini. Dulu, ayah tidak bertanya pada Google saat mendidik anaknya. Dulu, ayah tidak bertanya pada Google saat hendak mengajari PR yang menumpuk dari sekolah. Dulu, ayah tidak bertanya pada Google saat anaknya demam tinggi. Dan dulu, ayah pun tidak bertanya pada Google, saat anaknya jatuh hingga tidak sadarkan diri. Lalu, ayah bertanya pada siapa?

Ayah bertanya pada hati nuraninya sendiri. Ayah, sang kepala keluarga, yang selalu bertanggung jawab pada keluarga serta yang selalu dituntut untuk menjadi sang pengambil keputusan dengan cepat dan tepat selalu bertanya pada hati nuraninya. Teringat sebuah riwayat hadits Rasulullah SAW:

Dari Wabishah bin Ma’bad radiyallahu anhu, ia berkata:

Aku telah datang kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, lalu beliau bersabda: “Apakah engkau datang untuk bertanya tentang kebajikan?” Aku menjawab: “Benar” Beliau bersabda: “Mintalah fatwa kepada hatimu. Kebajikan itu adalah apa-apa yang menentramkan jiwa dan menenangkan hati dan dosa itu adalah apa-apa yang meragukan jiwa dan meresahkan hati, walaupun orang-orang memberi fatwa kepadamu dan mereka membenarkannya.” 

(HR. Ahmad no.17315, Darimi no.2421, hadits hasan, lihat hadits Arbain An-Nawawi hadits no. 27).

Ah, sepertinya, para ayah di zaman dulu telah mengikuti hadis Rasulullah di atas, selalu bertanya pada hatinya. Faktanya, memang sangat menakjubkan, keputusan – keputusannya selalu tepat dan sangat memuaskan. Aku, si anak di zaman dulu, sangat merasakannya. Bahkan, sejujurnya, aku merasa ketergantungan dengannya. Bagaimana tidak, Ayah dengan waktu yang singkat dapat memilih dan memutuskan sesuatu tanpa ada keraguan menghinggapi. Dialah sosok yang dirasa paling sempurna untuku.

Kuucapkan selamat untuk para ayah yang luar biasa. Yang dengan hatinya telah mendidik, menjaga, hingga membesarkan anak – anaknya. Untukku, ayah adalah kehidupan, kenangan, dan sejarah yang begitu berharga. Aku banyak belajar darinya. Belajar mengenal Tuhan, cinta, kasih sayang, hingga kehidupan. Dia bukanlah sosok ayah milenial yang dengan mudah memainkan gadget di tangan. Tapi dia adalah sosok ayah yang selalu disibukkan dengan pekerjaan dan keluarganya.

Terima kasih ayah, betapa bangganya diri ini pernah menjadi buah hatimu. Betapa bahagianya diri ini ketika mengingat kenangan bersamamu. Dan, betapa terlukanya hati ini ketika menyadari Engkau telah bersama – Nya. Aku, akan terus berusaha menjadi buah hati yang terbaik untukmu, hingga kelak Tuhan pun berkenan untuk mempertemukan kita lagi di surga KeridhaanNya.

Tentang Penulis

Mutia Siddiqa Muhsin

Tinggalkan komentar