Kebebasan Beragama Qureta

Tuvalu: Belajar dakwah dari Romo Rey

Romo Rey di Gereja Katolik Teone, Tuvalu. BUKAN kali pertama Romo Rey mendakwahkan Islam yang damai di hadapan Jemaat gerejanya, beberapa kali Romo Rey melakukan hal yang sama.

“ISLAM tidak ada kaitannya dengan terorisme. Islam mengajarkan pemeluknya untuk menebarkan , ‘greeting’ di dalam Islam yang bermakna kedamaian, cinta dan kasih sayang. Tidaklah bijak bila kita mengaitkan aksi-aksi teror yang belakangan ini kerap terjadi dengan Islam sebab Islam tidak mengajarkannya,” demikianlah penjelasan Romo Rey, pendeta komunitas Katolik Tuvalu di hadapan jemaat gereja Teone. Gereja Teone adalah satu-satunya gereja komunitas Katolik di Tuvalu.

Bukan kali pertama Romo Rey mendakwahkan Islam yang damai di hadapan Jemaat gerejanya, beberapa kali Romo Rey melakukan hal yang sama. Faktanya Islamofobia tidak hanya menjangkiti negara-negara Eropa saja, namun efeknya telah meluas hingga ke pulau terpencil seperti Tuvalu.

Demikianlah salah satu efek negatif dari gencarnya pemberitaan media mengenai aksi teror mengatasnamakan Islam yang kerap terjadi akhir-akhir ini. Hal inilah yang menginspirasi Romo Rey untuk memberikan edukasi kepada masyarakat yang memang masih sangat sederhana pola pikirnya.

Romo Rey berpandangan bahwa berawal dari intoleransi. Untuk itulah para tokoh agama diharapkan dapat mencerahkan umatnya sehingga dapat saling bertoleransi. Atas prakarsa dari Romo Rey dan komunitas Muslim maka diselenggarakanlah Konferensi untuk memperingati hari Sedunia yang jatuh pada tanggal 16 November 2015 di Masjid Tuvalu. Konferensi tersebut dihadiri oleh tamu undangan dari berbagai latar belakang keyakinan yang berbeda.

Romo Rey dalam pidatonya menjelaskan, “Toleransi bukan hanya semata-mata bisa menerima perbedaan dan keragaman namun lebih dari itu. Toleransi adalah bagaimana kita bisa merasa bahagia melihat segala perbedaan tersebut. Bagaimana kita bisa mencintai dan mengasihi orang-orang yang berbeda dengan kita. Kita melihat segala perbedaan tersebut dengan cinta dan menganulir segala kebencian.”

Pidato yang sangat inspiratif nan mencerahkan hadirin dari berbagai latar belakang agama dan keyakinan, baik itu dari Muslim, Kristen, maupun Katolik. Belajar dari apa yang Romo Rey sampaikan, dakwah bukan hanya menyeru untuk ‘convert’ ke agama atau keyakinan tertentu, namun bagaimana kita dapat menginspirasi orang lain untuk berbuat demi kemaslahatan bersama.

Kedekatan Romo Rey dengan beberapa dari Tuvalu dan kepulauan Fiji yang memberikan pengetahuan kepadanya tentang Islam. Dan menjadi tidak ‘fair’ baginya bila tidak menyampaikan apa yang diketahuinya kepada yang lain. Tak mengherankan bila Romo Rey beberapa kali mendakwahkan Islam yang ramatul lil ‘ālamīn kepada jemaat gerejanya sendiri.

Masjid pun bukan lagi menjadi tempat yang asing baginya. Acapkali Romo Rey diundang untuk menghadiri berbagai ‘event’ yang diadakan di masjid Tuvalu bahkan sampai ke kepulauan Fiji. Namun kedatangannya ke masjid bukan untuk berdebat dengan Imam masjid melainkan untuk bersama-sama mengedukasi masyarakat tentang nilai-nilai toleransi, perdamaian dan menjaga harmoni dalam kehidupan masyarakat.

Sebenarnya diskusi yang bersifat teologis pun juga dilakukan dengan para Imam tersebut namun dengan semangat memperkaya pemahaman dan ‘knowledge’ bukan dengan semangat ‘mengalahkan’ ataupun ‘mematahkan’ lawan bicara. Sehingga diskusi pun berakhir damai dengan konklusi ‘agree to disagree’.

[Al]-Qur’ān sendiri telah menyebutkan bahwa berdakwah haruslah dengan menggunakan cara-cara yang bijaksana, memberikan nasihat yang baik, maupun berdialog dengan menggunakan lisan yang baik tanpa menyinggung perasaan lawan bicara (An-Naḥl 16:126).

Romo Rey hanyalah pendeta biasa yang bertugas di pulau terpencil, dia bukanlah seperti sosok Dr. Zakir Naik dan segala popularitasnya, keluar masuk gereja dengan tantangan debatnya kepada para pendeta. Namun, melihat keikhlasan dan ketulusannya dalam mendakwahkan Islam yang jelas-jelas bukan agama dan keyakinannya, dan konsistennya dalam menyampaikan nilai-nilai kebenaran adalah hal-hal yang patut diteladani. Barangkali masih banyak sosok seperti Romo Rey di luar sana dengan ketidakpopulerannya namun konsisten dalam mendakwahkan .

_
Qureta.com

Tentang Penulis

Muhammad Idris