Opini

Benarkah ada Pelecehan Perempuan dalam Islam?

pelecehan perempuan

Salah satu yang menjadi kekhawatiran saya sebagai di Indonesia adalah adanya pandangan, bahkan dari kaum Muslim di negeri ini sendiri, bahwa tidak masalah melakukan , baik verbal maupun fisi, terhadap -perempuan yang dianggap tidak menutup auratnya dengan benar.

Seperti yang baru-baru ini terjadi, beberapa perempuan melaporkan adanya pelecehan seksual berupa kekerasan verbal yang dilakukan oknum-oknum peserta aksi 212. Perempuan yang mendapat pelecehan verbal ini ada yang berhijab dan ada pula yang tidak.

Dalam akun twitter salah satu perempuan yang melaporkan pelecehan ini, muncul perdebatan. Ada laki-laki yang mengatakan bahwa oknum yang melakukan pelecehan tersebut mungkin bermaksud memberikan efek jera bagi perempuan yang tidak berhijab tersebut.

Benarkah perilaku ini dalam ?

Pertama, yang selama ini disalahpahami oleh kaum lelaki adalah anggapan bahwa hijabnya perempuan diperintahkan Allah Taala untuk membantu lelaki agar tak liar pandangannya sehingga, secara tidak langsung, kaum laki-laki ini berasumsi bahwa hijabnya perempuan ini untuk laki-laki. Oleh karena itu, kalau ada perempuan yang tidak berhijab dan digoda laki-laki, itu murni kesalahan perempuannya karena dia tidak berhijab. Sementara itu, kalau perempuannya berhijab dan masih juga digoda, pasti hijabnya bukan hijab syar’i.

Sejatinya, tak pernah menyatakan bahwa perempuan berhijab itu untuk laki-laki. Walaupun memang hijab bisa memberi rasa aman dan terlindungi bagi perempuan dari pandangan laki-laki yang berakhlak buruk, tujuan utama hijab bukanlah untuk laki-laki.

Alquran menyatakan bahwa:

“Dan katakanlah kepada para wanita mukmin bahwa mereka hendaknya menundukkan mata mereka dan memelihara aurat mereka serta janganlah menampakkan kecantikan mereka, kecuali apa yang dengan sendirinya nampak darinya. Mereka pun hendaknya mengenakan kudungan hingga menutupi dada mereka serta janganlah menampakkan kecantikan mereka, kecuali kepada suaminya, bapaknya, bapak suaminya, anak lelakinya anak lelaki suaminya, saudara lelaki mereka, anak lelaki saudara lelaki mereka, anak lelaki saudara perempuan mereka, perempuan-perempuan teman mereka atau apa yang dimiliki oleh tangan kanan mereka, pelayan-pelayan lelaki yang tidak mempunyai keinginan terhadap wanita, atau anak-anak yang belum mengetahui tentang bagian-bagian aurat wanita. Selanjutnya, janganlah mereka menghentakkan kaki mereka sehingga diketahui apa yang mereka sembunyikan dari kecantikan mereka. Kembalilah, lantas, kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, supaya kalian mendapat kebahagiaan. (QS. An-Nur 24: 32)

Jadi, tidak benar bahwa Alquran menyuruh perempuan untuk menutup auratnya bagi laki-laki atau untuk membantu laki-laki agar tak terpancing nafsunya. Tidak ada, sama sekali tidak ada.

Benar, memang dijelaskan dalam tafsirnya bahwa perintah atau anjuran ini turun agar perempuan merasa aman dan dijauhkan dari perasaan risih akibat dilihat oleh laki-laki yang akhlaknya meragukan. Akan tetapi, di akhir ayat, Allah menyatakan, “Kembalilah, lantas, kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman.” Artinya, hijabnya perempuan semata-mata ditujukan untuk menjadikan hati dan pikiran perempuan fokus kepada Allah Taala. Dengan demikian, perempuan dapat meraih kesucian, baik lahir maupun batin, sehingga ia bisa fokus mengerjakan amalan-amalan yang mendekatkan dirinya kepada Allah Taala.

Dengan kata lain, perempuan berhijab untuk Allah Taala. Selain sebagai wujud ketaatannya pada perintah Allah, hijab adalah sarana bagi perempuan untuk mendekatkan diri kepada Allah Taala.

Sementara itu, laki-laki memiliki tugasnya sendiri, yaitu menundukkan pandangannya. Bahkan, perintah untuk menundukkan pandangan ini LEBIH DULU diperintahkan kepada laki-laki daripada perempuan. Hal ini bisa dilihat dalam QS. An-Nur 24: 31. Jadi, bisa disimpulkan bahwa laki-lakilah yang seharusnya lebih dulu menghijabi dirinya.

Atas dasar ini, laki-laki tidak punya hak untuk memaksa perempuan berhijab, apalagi dengan alasan bahwa hijab perempuan itu semata-mata untuk menjaga perempuan dari mereka. Jelas bahwa ini salah karena:

  1. Laki-laki tersebut tidak melaksanakan tugasnya dalam Alquran, yaitu gadhdhu bashar –menundukkan pandangan mereka.
  2. Bila mereka tidak melakukan gadhdhu bashar, berarti mereka sendiri tidak taat pada perintah Allah T’ala. Bila mereka sendiri tidak taat pada Allah Taala, atas dasar apa mereka menuntut dan memaksa perempuan untuk taat pada perintah mereka yang bahkan bukan siapa-siapa?
  3. Bila taat pada perintah Alquran saja tidak, bagaimana mungkin mereka paham dengan alasan di balik perintah tersebut? Bila mereka tidak paham, jelas mereka juga tidak akan paham bahwa perintah perempuan untuk berhijab itu bukan untuk mereka.

Yang lebih parah adalah, kendati sudah jelas bahwa kaum laki-laki ini tidak paham alasan diperintahkannya berhijab bagi perempuan, mereka tetap merasa berhak untuk melecehkan. Gilanya lagi, pelecehan ini didasarkan atas alasan “untuk memberi efek jera”.

Perilaku ini tertolak dengan dua alasan:

Pertama, Rasulullah SAW sangat mengutuk pelecehan terhadap perempuan. Hal ini tergambar dalam seorang penyair ternama Arab yang bernama Ka‘b bin Zuhair. Dia merupakan sosok yang, sembari menyerang kehormatan perempuan-perempuan Islam, suka menggubah syair-syair yang sangat jorok. Rasulullah SAW pun menjatuhkan hukuman mati kepadanya (As-Sirah Al-Halabiyyah, vol. 3, hlm. 214-215, cetakan Beirut).

Kedua, “efek jera” hanya berlaku dalam bentuk hukuman pidana dan Islam memerintahkan bahwa hanya pihak berwenanglah yang berhak menghukum, bukan sembarang orang. Hal ini disampaikan dalam Tafsir Alquran bahwa Islam tidak membenarkan pemberian hukuman dilakukan perseorangan. Pemberian hukuman hanya boleh dilakukan oleh pihak yang berwenang atau pemerintah. (Tafsir QS. Al-Maidah 5: 34 nomor 741 halaman 435, Alquran terbitan Yayasan Wisma Damai tahun 2006)

Ketiga, apabila hijab memang benar-benar bisa menyelamatkan perempuan dari pelecehan, mengapa negara Islam tidak masuk 10 besar negara yang aman bagi perempuan? (Silakan baca di: http://m.escapehere.com/inspiration/the-10-safest-and-coolest-cities-for-women-to-travel-alone/1) Lebih parahnya lagi, kenapa jumlah kasus perkosaan di negara Islam begitu tinggi? (Silakan baca di: http://beritajogja.co.id/2013/01/16/kasus-perkosaan-di-arab-saudi-kerap-dirahasiakan/)

Sudah jelas bahwa laki-laki tidak punya hak untuk melecehkan perempuan dengan alasan apapun. Pelecehan justru hanyalah refleksi dari ketidaktaatan mereka sendiri dalam menjalankan perintah Allah Taala dalam Alquran. Mereka tidak taat kepada Allah yang memerintahkan mereka untuk menundukkan pandangan. Mereka pun tidak taat kepada Allah yang telah memerintahkan mereka untuk menghargai perempuan yang dihargai begitu tinggi dalam Islam sehingga surga diletakkan di bawah telapak kakinya.

Sumber Gambar: http://woman.ng/2015/03/female-students-speak-on-nigerian-tertiary-institutions-lackadaisical-attitude-to-sexual-harrasment-on-campus/

 

Tentang Penulis

Lisa Aviatun Nahar