Opini

Benarkah Basmalah Bukan Ayat Pertama setiap Surah dalam Al-Quran ?

bismillah
Penulis Ammar Ahmad

Banyak golongan dalam yang mengakui bahwa bukanlah ayat pertama setiap surah dalam Al- (bahkan Al-Fatihah). Termasuk Al- terbitan Kementrian Agama RI pun tidak menjadikan basmalah sebagai ayat pertama setiap surah kecuali Al-Fatihah. Namun  basmalah tetap dicantumkan pada awal setiap surah hanya saja tidak dijadikan sebagai ayat pertama. Jadi apakah basmalah benar-benar bukan ayat pertama setiap surah dalam Al-Quran?

Jamaah Muslim Ahmadiyah dalam hal ini berpendapat basmalah sebagai ayat pertama setiap surah kecuali Al-Taubah karena merupakan bagian surah Al-Anfal. Sehingga bila rekan-rekan membaca Al-Quran terbitan Jamaah Muslim Ahmadiyah maka jumlah ayatnya pasti lebih satu dari Al-Quran keluaran penerbit lainnya. Lalu apa yang mendasari Jamaah Ahmadiyah menjadikan Al-Fatihah sebagai ayat pertama?

Pertama-tama Jamaah Muslim Ahmadiyah berpegang kepada hadits berikut ini:

 “kana la ya’rifu faslas surotis suroh hatta yanzilu al-Rahman al-Rahim”

Nabi saw tidak mengetahui pemisahan antara surah itu sebelum Bismillahirrohmaanir rohiim turun kepadanya” (HR. Abu Daud, Kitab Shalat dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak)[1].

Dari hadits ini kita dapat mengetahui bahwa Nabi Muhammad saw tidak mengetahui pemisahan antar surah sebelum turun basmalah. Artinya memang basmalah adalah bagian setiap surah dalam Quran yang diwahyukan. Sekarangpun kita tahu batas-batas surah dalam Al-Quran karena diselingi oleh basmalah.

orang-orang pun tidak mau bila basmalah tidak dicantumkan diawal setiap surah. Kenapa? karena memang basmalah selalunya diwahyukan diawal surah untuk membedakan dan memisahkan ayat dari surah sebelumnya. Jika basmalah tidak merupakan wahyu pembuka maka kenapa harus dicantumkan pada awal setiap surah? Bila memang tidak diwahyukan, lalu kenapa hanya pada surah Al-Taubah saja basmalah tidak dicantumkan diawal, kenapa tidak pada semua surah?

Bila jawabannya karena basmalah tidak diwahyukan hanya sebelum surah Al-Taubah (mengingat ia bagian dari Al-Anfal) sedang sebelum surah yang lainnya basmalah diwahyukan diawal, maka hal ini justru memperkuat argumen bahwa basmalah harus terhitung sebagai ayat pertama setiap surah yang lain sehingga harus dicantumkan diawal setiap surah selain Al-Taubah.

Kemudian bila benar basmalah tidak diwahyukan di awal setiap surah sehingga tidak dijadikan ayat pertama kenapa merasa sangat perlu mencantumkannya diawal setiap surah dengan mengecualikan Al-Taubah? Justru karena basmalah selalu diwahyukan diawal surah maka sangat bijak dan logis bila basmalah dijadikan ayat pertama setiap surah sehingga selalu dicantumkan  di awal surah. Sedang karena basmalah tidak diwahyukan sebelum surah Al-Taubah maka sangat logis bila kita tidak menjadikan basmalah sebagai ayat pertama surah tersebut.

Dalil berikutnya adalah sabda Rasulullah saw yang berbunyi:

ﻻتكتبواعني غيرالقرآن ومن كتب عني غيرالقرآن فليمحە

“Janganlah kalian tulis sesuatu kecuali Al-Qur’an, barang siapa yang menulis dari (sumberku) selain Al-Qur’an supaya menghapusnya”. (H.R Muslim) (tercatat dalam ‘Ulumul Al Qur’an, madkhal ila tafsir Al qur’an wa bayan ‘ijazihi, hal. 86)

Berdasarkan sabda di atas, para katib/sekretaris dan tim penyusun Al-Quran dibawah pimpinan Hd.Zaid bin Tsabit ra dilarang menuliskan apapun pada mushaf Al-Quran selain nas Al-Quran saja. Dengan dituliskannya basmallah pada awal setiap surah pada mushaf yang mereka susun membuktikan bahwa basmalah adalah bagian dari setiap surah. Bila basmalah bukan bagian dari setiap surah maka seharusnya tim penyusun pun tidak menuliskannya karena dilarang oleh Rasulullah saw dan Khulafaul Rasyidin.

Dalam Tafsir Kabir jilid 06 cetakan tahun 2004 halaman 111, Hd. Al-Haj Mirza Basyirudin Mahmud Ahmad ra menyampaikan:

“Kami berpendapat bahwa basmalah adalah bagian dari setiap surah. Para penafsir lainnya menganggap penting untuk meletakkan basmalah ada pada (awal) suatu surah tapi tidak menganggapnya sebagai bagian dari surah tersebut…”. Dari pemaparan beliau kita dapat mengetahui bahwa basmalah memang ayat pertama setiap surah. Sedang kebanyakan para penafsir mengakui penting  untuk mencantumkannya diawal setiap surah meski tidak menjadikannya sebagai ayat pertama.

Lebih lanjut beliau menulis:

“Maksud dari perbedaan (hitungan jumlah ayat) ini bukanlah bahwa dibenak mereka ada suatu ayat yang kurang atau berlebih. Tapi hanya karena satu golongan menetapkan satu ayat tertentu sebagai dua ayat dan golongan yang lain menetapkan beberapa ayat sebagai satu ayat. Menurut orang-orang Basrah tsumma arsalna Musa wa akhohu Haruuna bi aayatinaa wa sultoonim mubiin (QS.Al-Mu’minun, 23: 46) sebagai satu ayat penuh. Sedangkan menurut orang-orang Kufah ayat ini bukan satu ayat penuh tapi merupakan bagian ayat berikutnya. Oleh karena itu mereka telah menetapkan bahwa ayat ini adalah bagian dari ayat berikutnya. Sehingga mereka menghitung kurang satu ayat. ”

Beliau menambahkan,

“Oleh karena itulah tak dapat dihindari adanya perbedaan dalam hitungan ayat-ayat suatu surah”.

Berdasarkan pemaparan diatas, beliau mulai membahas perbedaan jumlah ayat yang terjadi diantara kelompok-kelopmpok Islam. Jadi perbedaan jumlah ayat dalam Quran bukanlah hal baru apalagi bidah atau diluar tradisi Islam. Melainkan sejak dulu pun demikian adanya. Maka perbedaan jumlah satu ayat antara Quran terbitan Jamaah Ahmadiyah dan terbitan umum tidak dapat disikapi secara negatif.

Inilah salah satu hikmah perbedaan pendapat dalam tradisi Islam. Apalagi bila berbeda jumlah ayat hanya karena basmalah diakui sebagai ayat pertama. Terlebih alasan demikian memiliki dalil yang jelas sebagaimana dicantumkan diawal tulisan ini. Satu hal lagi yang perlu diperhatikan yakni perbedaan jumlah nomor ayat tidak menunjukkan adanya kekurangan atau kelebihan ayat melainkan karena ada yang beranggapan beberapa ayat seharusnya dianggap sebagai satu ayat atau satu ayat seharusnya dianggap sebagai beberapa ayat. Jadi tidak ada yang namanya interpolasi ayat atau campur tangan manusia pada ayat-ayat Al-Quran.

Dalam Al-Quran Terjemah dan Tafsir Singkat editan Malik Ghulam Farid halaman 6 tertulis demikian:

“Bismillahirohmanirohim adalah ayat pertama tiap-tiap surah Al-Quran, kecuali Al-Bara’ah (At-Taubah) yang sebenarnya bukan surah yang berdiri sendiri, melainkan lanjutan surah Al-Anfal. Ada suatu hadis yang diriwayatkan oleh Ibn ‘Abbas yang maksudnya, bila sesuatu surah baru diwahyukan, biasanya dimulai dengan ‘bismilah’, dan tanpa ‘bismilah’, Rasulullah saw tidak mengetahui bahwa surah baru telah dimulai (Daud). Hadis ini menunjukkan bahwa (1) ‘Bismilah’ adalah bagian Al-Quran dan bukan suatu tambahan, (2) bahwa surah Bara’ah itu, bukan surah yang berdiri sendiri. Hadis itu menolak pula kepercayaan yang dikemukakan oleh sementara orang bahwa, ‘bismilah’ hanya merupakan bagian surah Al-Fatihah saja dan bukan bagian semua surah Al-Quran. Selanjutnya, ada riwayat yang menyebutkan Rasulullah saw bersabda bahwa, ayat bismilah itu bagian semua surah Al-Quran (Bukhari dan Qutni).”

Berikut ini penulis kutip beberapa pendapat yang mengakui bahwa basmalah adalah ayat pertama setiap surah kecuali Al-Taubah.  Untuk memperkuat argumen bahwa basmalah adalah ayat pertama setiap surah Ibnul Mubarak sampai-sampai mengatakan, “Siapa yang meninggalkan bismillahirrahmanirrahim, maka ia meninggalkan 113 ayat (jumlah basmalah diawal surah dengan mengecualikan Al-Taubah).” Imam Ahmad menyatakan bahwa basmalah diturunkan di antara dua surat sebagai pemisah (artinya basmalah berbetuk wahyu diawal setiap surah). Adapun dalam madzhab Syafi’i,mereka menganggap bahwa basmalah adalah ayat sempurna dari Al-Fatihah dan dari setiap surat (Pendapat para ulama diatas tertulis dalam Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 8: 83-85)

Selain itu, menurut riwayat yang disampaikan oleh Thabari[2] dan Wahidi Naisyaburi[3] dari Ibnu Abbas dan yang lainnya, lafadz “Bismillahir Rahmanir Rahim” adalah lafadz pertama Al-Quran yang turun pada Nabi Muhammad pada awal surah Al-‘Alaq (Iqra). Diriwayatkan oleh Kulaini[4] yang disandarkan kepadanya dari Imam Shadiq, bahwa ungkapan basmalah ini (sejak) pada mulanya terdapat pada semua surah Alquran kecuali surah Baraah (Al-Taubah).

Jelaslah dari pemaparan di atas bahwa basmalah adalah ayat yang diwahyukan serta selalu diturunkan di awal setiap surah (kecuali Al-Taubah). Hal ini membuat para penyusun Al-Quran zaman Rasul hingga Khulafaul Rasyidin pun berani menuliskannya di awal setiap surah. Dengan demikian dalil-dalil yang menyatakan basmalah harus terhitung sebagai ayat pertama adalah jauh lebih kuat dari pendapat yang menyatakan kalau basmalah bukan ayat pertama.

[1] Penulis peroleh dari buku Jawaban Amir Jemaat Ahmadiyah Indonesia Atas Pertanyaan-pertanyaan Komisi VIII DPR-RI cet.I tahun 2014 hal.2 (catatan kaki)

[2] Jāmi’ al-Bayān, jld. 1, hlm. 6 & 11.

[3] Jāmi’ al-Bayān, jld. 2, hlm. 628.

[4] Syams al-Aimah Sakhisyi, jld, 1, hlm. 37, Ali Syawakh Ishaq, jld. 2, hlm. 12.

Sumber Gambar: https://store.lamafoundation.org/product/bismillah-er-rahman-er-rahim/

Tentang Penulis

Ammar Ahmad