Opini

Benarkah Tuhan Tidak Ada?

قالَت رُسُلُهُم أَفِي اللَّهِ شَكٌّ فاطِرِ السَّماواتِ وَالأَرضِ

Artinya: Berkatalah rasul-rasul mereka, “Apakah kamu dalam keraguan mengenai Allah SWT., Pencipta seluruh langit dan bumi?” (QS: Ibrahim: 11)

Tulisan ini terinspirasi dari perkataan ibunda penulis. Saat itu pagi hari, penulis pergi mengantar sang ibu pergi bekerja. Melewati jalan yang sedang ada pembangunan proyek MRT, sang ibu berkata,

“Nak, lihatlah proyek ini. Bagaimana caranya beton-beton besar itu bisa diangkat ke atas sana dan disusun untuk menjadi jalur kereta MRT? Itu semua dilakukan oleh manusia yang memiliki akal sehingga mereka bisa menciptakan alat untuk mengangkatnya. Itu semua adalah kekuasaan Allah.” Mendengar perkataan sang ibu penulis berpikir, ” itu memang ada, kalau Dia tidak ada, tidak akan mungkin semua yang ada di dunia ini ada.”

Setelah percakapan itu, penulis pun berusaha mencari jawaban-jawaban atas segala pertanyaan yang menentang keberadaan Tuhan. Lalu, penulis menemukan buku Our God (2007) karya Hadhrat Mirza Bashir Ahmad, M.A. yang menuliskan bukti-bukti mengenai keberadaan Tuhan secara rasional. Beliau menuliskan bahwa jikalau pun Tuhan tidak ada, jika kita meyakini keberadaan-Nya hal itu tidak akan merugikan kita. Lalu, jika Tuhan memang benar ada dan kita meyakininya, hal itu malah akan semakin berguna bagi kehidupan kita.[1]

Biasanya para penentang keberadaan Tuhan menolak konsep Ketuhanan bukan karena mereka memiliki bukti bahwa Tuhan itu tidak ada, akan tetapi justru karena mereka tidak memiliki bukti bahwa Tuhan itu ada.[2] Itulah sebabnya, pada dasarnya mereka harus diberikan bukti bahwa Tuhan itu memang ada karena sebenarnya ini hanyalah masalah kurangnya pengetahuan dan pemahaman akan konsep Tuhan itu sendiri. Mereka tidak diberikan bukti dan jawaban bahwa Tuhan itu ada.

Sebenarnya, tidak perlu membaca buku yang tebal atau teori yang berjilid-jilid bagi kita untuk membuktikan bahwa Tuhan itu ada. Kita hanya perlu melihat ke dalam diri (tubuh) kita sendiri dan kemudian ke lingkungan di sekeliling kita yang terdekat. Melihat ke dalam diri (tubuh) kita sendiri adalah hal paling sederhana untuk membuktikan bahwa Tuhan itu ada.

Cukup tanyakan dalam pikiran kita, “Bagaimana otak, jantung, paru-paru, tangan, kaki dan organ-organ serta bagian tubuh kita lainnya bisa ada di tubuh kita? Bagaimana semuanya bisa terbentuk, tersusun, dan berada di tempat yang sedemikian rupa sehingga menjadi seperti apa yang kita lihat sekarang ini?”

Semua pertanyaan tersebut hanya memiliki satu jawaban yaitu karena adanya Tuhan yang menciptakan itu semua. Sampai detik ini, penulis masih belum [dan memang tidak akan pernah] menemukan manusia yang dapat menciptakan otak manusia. Bahkan, menciptakan sehelai rambut tanpa menduplikasi dari benda lain atau mencangkok dari rambut asli saja manusia tidak mampu. Lalu, jika manusia tidak mampu, siapa lagi yang menciptakannya?

Memang benar bahwa ada beberapa ilmuwan yang menciptakan teori bahwa alam semesta dan seluruh isinya ini tercipta akibat adanya evolusi dan disebabkan adanya hubungan sebab-akibat sehingga tidak ada alasan bagi konsep Ketuhanan untuk ada di antaranya[3]. Namun, bukankah hubungan sebab-akibat itu sendiri membutuhkan sesuatu yang disebut pencipta dan pengawas?[4]

Justru teori evolusi dan hubungan sebab-akibat itu sendirilah yang menjadi bukti bahwa memang Tuhan itu ada, karena hanya Dia-lah yang mampu menciptakan itu semua. Logikanya, sama seperti teori-teori yang mereka ciptakan tersebut, semua ada karena ada yang menciptakan yaitu manusia.

Lalu, bagaimana mungkin seluruh alam semesta ini ada tanpa ada penciptanya? Oleh karena itu, menjadi sebuah ironi ketika ada manusia yang mengklaim telah menciptakan teori yang membuktikan bahwa Tuhan itu tidak ada, tetapi teori tersebut justru menunjukkan bahwa Tuhan itu ada.

Pada akhirnya, Tuhan telah memberikan kita berkah karunia berupa ilmu pengetahuan dan juga pemikiran yang sangat luas. Semua itu Dia berikan kepada kita agar kita dapat membuktikan bahwa Dia memang benar ada dan meyakini keberadaan-Nya tidaklah membuat kita merugi atau kehilangan berkah-berkah yang telah kita nikmati saat ini.

Sebagai penutup, penulis akan mengutip salah sebuah tulisan yang pernah ditulis oleh pendiri Jamaah Muslim Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. Beliau as. menulis:

“Hanya karena kalian tidak memiliki pengetahuan terhadap suatu hal, atau kalian belum pernah melihatnya, bukan berarti hal tersebut tidak ada.”[5]

Lalu, benarkah Tuhan tidak ada?

 

 

 

 

Referensi:

[1] Hadhrat Mirza Bashir Ahmad M.A.. (2007). Our God. Tilford: Islam International Publications Ltd. Hlm: 45—46

[2] ibid. Hlm: 47

[3] ibid. Hlm: 179

[4] ibid. Hlm: 180

[5] https://www.youtube.com/watch?v=4QY4w-dxWB0

 

Sumber gambar: edited from https://www.nasa.gov/sites/default/files/thumbnails/image/darkrift-orig_full.jpg

Tentang Penulis

Mubarik Ahmad

1 komentar

Tinggalkan komentar