Opini

Berjihadlah dengan Kasih Sayang, Bukan dengan Amarah

jihad

Sebelumnya saya ingin mengucapkan rasa empati saya terhadap . Apapun keputusan dari Polri terkait dugaan penistaan yang dilaporkan terhadapnya, saya berharap tetap tegar menerima dari sebagian umat Muslim.

Ahok perlu tahu, tidak seluruh umat Muslim merespon kesalahan bicaranya dengan amarah. Ada sebagian umat Muslim memandangnya dengan bijaksana dan tidak menganggap ia telah melakukan penistaan Agama.

Semua berawal dari seseorang yang menyebarkan tuduhan melalui media sosial bahwa Ahok melakukan penistaan agama. Dengan cepat, video tuduhan ini tersebar ke seluruh penduduk Indonesia.

Bagi kaum yang marah, mereka langsung menuduh Ahok melakukan penistaan agama. Kemudian, mereka menyerukan jihad bela agama dengan ujaran kebencian, menggunakan kata-kata “bunuh/usir sang penista”. Hasilnya, provokasi mereka menyebabkan rusaknya kedamaian,  Bhinneka Tunggal Ika atau bahkan aksi terorisme.

Buktinya, yang seharusnya Ahok bisa melakukan kampanye secara damai, muncul sekelompok masyarakat yang menolak dan membuat keributan. Lalu, aksi terorisme dimana seorang muslim yang terprovokasi, menggunakan kaos “Jihad way of Life”, berani melemparkan Molotov ke gereja dan menewaskan adik kecil kita, Intan. Innalillahi.

Mirisnya, kaum ini malah menyatakan bahwa kasus bom meledak di gereja ini adalah pengalihan isu belaka. Mereka juga berkata bahwa yang mengaitkan demo 411 dengan aksi terorisme ini adalah isu kampungan. Padahal,dengan murahnya mereka meneriakan kata-kata “Bunuh!” kepada kaum non-Muslimin.

Sedangkan bagi kaum yang bijaksana, mereka melihat bahwa Ahok bersih dari kesalahan. Dengan tegas, ulama seperti Imam Besar Istiqlal dan Tuan Buya Safii Maarif menyatakan bahwa Ahok tidak bersalah.

Umat muslimin yang damai dan santun akan berjihad di jalan Tuhan dengan . Misalnya, mereka menjaga persaudaraan umat Muslim dengan non-Muslim, termasuk Ahok, untuk menjaga perdamaian dan persatuan di Indonesia.

Seperti yang dilakukan Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI), salah satu komunitas Muslim di Indonesia. Mereka sempat bersilahturahmi dengan Ahok, memberikan dukungan moral dan sebuah buku berjudul Ajaranku karya Pendiri Jemaat Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad.

Atau ketika kasus penistaan yang benar-benar terjadi terhadap Rasulullah SAW pada Januari 2015 yang lalu. Surat kabar Prancis Charlie Hebdo membuat karikatur Beliau SAW yang memilukan dan menyakiti umat muslim.

Apa yang dilakukan oleh umat muslimin yang berjihad dengan kemarahan dan kebencian? Mereka protes, turun ke jalan, membuat kerusuhan, dan bahkan melakukan aksi terorisme yang menyebabkan tewasnya 12 orang dan 10 luka-luka (bbc.com).

Sedangkan bagaimana reaksi Jemaat Ahmadiyah? Pemimpin mereka, Khalifah ke-5 Hazrat Mirza Masroor Ahmad membahas isu ini dalam Khutbah Jumat yang disampaikan dari Masjid Baitul Futuh, London.

Beliau mengatakan bahwa karikatur seperti itu memilukan dan menyakiti hati umat yang damai dan hal tersebut harus dikecam. Namun beliau mengatakan bahwa setiap bentuk reaksi yang mengandung kekerasan dan melanggar hukum tidak bisa dibenarkan dan sangat bertentangan dengan ajaran Islam.

Hazrat Mirza Masroor Ahmad juga mengatakan bahwa turun ke jalan sebagai bentuk protes bukanlah respon yang tepat, melainkan umat Islam harus menanggapinya dengan meningkatkan doa dan memperbanyak shalawat kepada Rasulullah saw. Beliau mengatakan:

Ingatlah bahwa Islam tidak pernah dan tidak akan pernah disebarkan melalui kekerasan dan pertumpahan darah. Sebaliknya penyebaran Islam hanya dapat dicapai dengan menyampaikan shalawat dan salam kepada Rasulullah saw. Hanya dengan menyampaikan shalawat kita dapat berhasil.”

Beliau mengatakan bahwa setelah serangan terhadap Charlie Hebdo, maka publikasi tersebut telah diberikan kesempatan hidup baru. Beliau mengatakan:

Apa yang sudah diraih melalui serangan teroris kejam ini? Sebelumnya banyak pemimpin Barat yang mengutuk publikasi karikatur yang bersifat penghinaan tersebut, namun setelah serangan pekan lalu di Perancis, sekarang banyak pihak dan para pemimpin yang berubah pandangannya dan mereka menyatakan dukungannya kepada publikasi yang tidak senonoh ini.

Mari kita tarik kesimpulan, dua kelompok Islam ini memiliki cara jihadnya masing-masing. Yang satu menghasilkan perpecahan, kerusuhan, dan korban jiwa. Karena kelompok ini, dukungan mengalir kepada surat kabar Charlie Hebdo atas publikasi yang memalukan. Karena kelompok ini, Donald Trump ingin mengusir umat muslimin dari Amerika. Nauzubillah.

Sedangkan yang lainnya, seperti Jemaat Ahmadiyah, menghasilkan perdamaian, kerukunan antar umat beragama, dan diterimanya agama Islam sebagai agama yang damai dan penuh kasih sayang.

Zuhairi Miswari, seorang intelektual muda dari Nahdatul Ulama (NU) mencuit hal berikut di twitternya pada 28 Oktober yang lalu:

Di tengah arus kebencian dan amarah yang tak terkontrol, ajaran Ahmadiyah tentang LOVE FOR ALL, HATRED FOR NONE makin relevan. Saya makin yakin, suatu saat Ahmadiyah akan menjadi rujukan umat Islam untuk menanamkan nilai cinta yang makin rapuh

Menurut pembaca, manakah jihad yang benar di mata Allah SWT? Selamat merayakan Hari Internasional 2016.

Sumber Gambar: https://perkarahati.wordpress.com/2015/02/06/keutamaan-memberi-manfaat-kepada-orang-lain/

Tentang Penulis

Fariz Abdussalam