Opini

Berkat Kecintaan Kepada Rasulullah SAW

muhammad saw

Sebelum kita beranjak  dewasa, ada masa-masa  ketika semua orang pernah mengalaminya. Yakni: masa-masa balita, bayi, remaja, dewasa, bahkan lansia semua itu dialami oleh semua orang.

Peristiwa di masa kecil akan selalu teringat hingga dewasa. Kita pasti mengingat saat ibu guru atau bapak guru bertanya mengenai cita-cita kalian di sekolah. “Ade-ade yang manis kalau udah gede mau jadi apa ?” pasti di antara kita ada yang menjawab:  ingin jadi dokter, pianis , masinis, pilot, tentara bahkan presiden.

Namun apakah ada seorang anak kecil yang bercita-cita menjadi seorang Nabi ? Saya rasa tidak ada dan tidak akan pernah ada sepertinya. Para Nabi terdahulu  termasuk Hz. Mirza Ghulam Ahmad as yang mendapat gelar Krishna (bagi kaum hindu) dan Masih Mau’ud (bagi kaum Kristen dan islam) (1) pernah merasakan masa kanak-kanak sama seperti kita.

Namun apakah beliau as yakni Hz. Mirza Ghulam Amad as bercita-cita menjadi seorang nabi sejak masih kecil ? Tuan Syek Yaqub Ali pengarang riwayat hidup Hz.Mirza Ghulam Ahmad as menceritakan suatu kejadian yang amat menarik.

Ketika kecil, Ahmad as sering mengatakan kepada seorang anak perempuan yang seumur dengan beliau as. “Doakanlah, supaya Allah memberi taufik kepada saya untuk shalat.”(2) Perkataan ini menyatakan betapa perasaan suci bergelora dalam sanubari beliau as ketika masih kanak-kanak dan segala keinginan serta cita-cita beliau as hanya ditujukan kepada allah ta’ala semata.

Kejujuran menjadi modal utama seorang nabi, nabi kita tercinta Hz. Rasulullah SAW terkenal dengan kejujurannya hingga penduduk Mekkah kala itu memberikan gelar kepada beliau SAW Al-Amin yakni seorang yang dapat dipercaya. Hz. Mirza Gulam Ahmad as  juga seorang yang jujur. Dalam suatu riwayat, pada suatu hari beliau as keluar  menghirup udara segar ke bagian utara Qadian, di jalan nampak ada satu dahan pohon beri begitu rendah hampir menyentuh ke tanah dan sedang berbuah.

Seorang sahabat melihat  sebutir buah beri yang matang nan-bersih itu tergeletak di bawah pohon beri tersebut. Dia bermaksud hendak memungutnya kemudian memakan buah beri tersebut. Perilaku itu terlihat oleh beliau as lalu beliau as bersabda : “beri itu jangan dimakan, letakan kembali ke tempatnya semula, tidak baik memakannya tanpa izin yang empunya.”(3)

Dari pristiwa ini kita mempunyai gambaran, tidak mungkin Allah Ta’ala memilih Mirza Gulam Ahmad as sebagai nabi jika beliau as seorang pendusta dan seorang yang tidak menunaikan shalat. Pasti Allah Ta’ala akan memilih orang lain yang dapat dipercaya untuk menjadi seorang nabi dan akan memotong urat nadi jantungnya bagi seorang pendusta yang mengaku sebagai  utusan allah ta’ala.

Kalaupun ada yang berkeinginan menjadi seorang nabi mustahil Allah Ta’ala akan mengabulkannya karena gelar kenabian hanya akan didapatkan oleh seorang yang patuh kepada Allah Ta’ala dan rasulnya. Jadi gelar kenabian yang didapatkan oleh Mirza Ghulam Ahmad as tidak diperoleh di sekolah maupun di universitas manapun di dunia.

Berkat kepatuhan kepada rasulullah S.A.W lah beliau as mendapatkan derajat sebagai orang yang dikasihi dan diridhoi allah swt serta menjadi salah seorang sahabatnya, tidak mungkin dicapai tanpa kepatuhan kepada Hz. Rasulullah SAW.

Ahmad as (Masih Mau’ud as)  sangat cinta sekali kepada Rasulullah SAW. Pada suatu kali ada seorang pendeta Hindu yang suka mencaci-maki Rasululluh SAW memberi salam kepada beliau as,  tetapi beliau as membuang muka. Kemudian seorang pendeta Hindu itu memberi salam sekali lagi, tetapi pada kali itu juga beliau as mengacuhkannya.

Setelah seorang sahabat memberitahukan kepada beliau as, bahwa Lekhram memberi salam kepada beliau as.  maka beliau as menjawab dengan tegas dia suka mencaci-maki penghulu kami (Nabi Muhammad SAW) bagaimana kami mau menjawab salamnya. (4)

Beliau as melanjutkan :” Aku mengatakan sesungguhnya bahwa masih mungkin bagi kami untuk berdamai dengan ular atau binatang liar di hutan, namun mustahil bagi kami untuk disuruh berdamai dengan orang-orang yang tidak menahan diri dari memburuk-burukan Rasul Allah dan menganggap caci maki dan memburuk-burukan orang lain sebagi suatu bentuk kemenangan, kemenangan haqiqi hanya datang dari langit.”(5)

Mirza Ghulam Ahmad as mengakui bahwa hasil dari mengikuti jejak langkah Rasulullah SAW. Khususnya yang berkaitan dengan kasih, hormat, dan kepatuhan kepada beliau SAW adalah yang bersangkutan akan menjadi kekasih Allah Ta’ala ketika dosa-dosanya akan diampuni.

Jika ia telah menelan racun dosa maka itu akan dijadikan tidak berdaya karena  vaksin kasih dan kepatuhan.  Sebagaimana seseorang dapat disembuhkan dari suatu penyakit dengan menggunakan obat, begitu juga seorang pendosa dapat disembuhkan dari dosa-dosanya.

Seperti sinar yang mengusir kegelapan dan sebuah vaksin antidotal bisa memusnahkan efek dari racun,  Begitu juga kasih dan kepatuhan murni akan menimbulkan efek yang sama. Serupa api yang membakar langsung maka perbuatan baik bagi manifestasi keagungan tindakan tuhan akan menyerupai api yang membakar dosa. Jika seseorang beriman sepenuhnya kepada Rasulullah saw dan mengakui kebenaran beliau SAW, mematuhinya dengan rajin, kasih dan kepatuhan, sedemikian rupa sehingga ia mencapai taraf fana, maka akibat dari hubungannya yang dekat kepada Rasulullah SAW akan ikut menikmati nur ilahi yang telah turun di atas beliau SAW.

Sebagaimana nur dan kegelapan saling bersebrangan, kegelapan batinnya akan pupus sehingga tidak ada lagi yang tersisa. Ia akan dikuatkan oleh nur kecintaan Allah SWT akan mengalir keluar dari seluruh anggota tubuhnya.

Kegelapan di dalam dirinya akan sirna sama sekali dan ia akan menikmati pencerahan dalam akal maupun dalam perilaku sedemikian rupa sehingga seluruh kegelapan dosa akan meninggalkan batinnya. Jelas bahwa kegelapan dan cahaya tidaka dapat eksis di satu tempat seperti itu jugalah nur keimanan dan kegelapan dosa tidak mungkin berada di dalam satu tempat.(6)

Percaya atau tidak percaya, Mirza Ghulam Ahmas as telah membuktikannya dan amat disayangkan jika masih ada yang mengatakan bahwa Mirza Ghulam Ahmad as adalah nabi palsu sehingga tidak mau beriman kepada beliau as.

Apa yang menyebabkan tuan-tuan tidak mau menerima beliau as sebagai Masih Mau’ud dan Krishna padahal Mirza Ghulam Ahmad as telah memberikan suatu pernyataan yakni “jika laki-laki kamu dan perempuan-perempuan kamu, orang muda kamu dan orang-orang tua kamu, semuanya berkumpul berdoa untuk kebinasaan saya, sehingga karena lamanya bersujud, hancurlah hidungmu dan kaku tanganmu, Tuhan tetap tidak akan menerima doamu itu dan Tuhan tidak akan berhenti sebelum disempurnakannya pekerjaannya. Dan jika sekiranya di antara manusia seorangpun tidak ada yang mengikuti saya, maka malaikat Allah lah akan bersama saya.” (7)

Sumber :

  1. Tazkirah hal. 351 ( pidato Sialkot, hal 33; ruhani khazain, vol. 20 hal. 228)
  2. Sejarah (tarikh-o-sirat) Hz. Mirza Ghulam Ahmad as hal.4
  3. Jalan menuju keimanan hal.
  4. Jalan menuju keimana hal.
  5. Rasulullah saw menrut Hz. Mirza Gulam Ahmad hal.
  6. Rasulullah sawa menurut Hz. Mirza Ghulam Ahmad hal.
  7. Kebenaran al-masih akhir zaman hal. 10

Sumber Gambar: https://septyanggraeni.wordpress.com/2014/08/24/the-missions-of-prophet-muhammad-saw/

 

Tentang Penulis

Rafi Assamar Ahmad

Tinggalkan komentar