Opini

BERSUCI DAN MENJAGA KESUCIAN TEMPAT SHALAT

shalat

“Hai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak mendirikan maka basuhlah wajahmu dan kedua tanganmu hingga siku, dan usaplah kepalamu, dan basuhlah kedua kakimu sampai mata kaki. Dan jika kamu dalam keadaan junub maka bersucilah kamu, tetapi jika kamu sakit atau waktu bepergian, atau salah seorang dari kamu kembali dari buang hajat, atau kamu telah menyentuh perempuan dan kamu tidak mendapati air, maka bertayamumlah dengan debu yang dan usaplah wajahmu dan kedua tanganmu itu, Allah tidak berkehendak menjadikan kesukaran atasmu, akan tetapi ia berkehendak mensucikan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya atasmu supaya kamu bersyukur.” (Q.S. Al-Maidah:7)

Menjaga kesucian merupakan sebuah akhlak yang perlu dijunjung secara sadar. Allah, sebagaimana yang disampaikan pada penggalan ayat diatas, memerintahkan manusia agar menjaga kesucian diri dan lingkungan.

identik dengan kesucian. Hal ini semakin diperkuat dengan sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya Allah itu indah, dan mencintai keindahan.” (HR. Muslim, No. 91). Senada dengan itu, Rasullulah SAW juga bersabda, “Kesucian adalah sebagian dari iman.” (HR. Muslim, No. 223). Rasulullah SAW sendiri merupakan contoh terbaik yang paling perhatian terhadap kesucian, baik kesucian anggota badan maupun kesucian lingkungan. Pada petikan Surah Al-Maidah: 7, Allah SWT memerintahkan -Nya untuk bersuci sebelum menghadap-Nya. Karena umat Islam wajib melaksanakan Shalat 5 kali sehari, sudah tentu pula mereka harus bersuci sebanyak 5 kali sehari.

Adalah suatu pemikiran yang keliru apabila mengira bahwa perintah bersuci hanya berlaku sebelum Shalat. Kebiasaan untuk bersuci sebaiknya tidak hanya dilakukan ketika sebelum beribadah, melainkan juga pada saat ingin bertemu dengan seseorang dengan membersihkan diri dan berpakaian rapi. Ketika tubuh jasmani manusia bersih dan terbebas dari berbagai kotoran, tubuh rohani mereka juga akan merasakan ketenangan dan kenyamanan. Karenanya, mensucikan diri, yaitu berwudhu dan atau mandi, merupakan tanda kesiapan manusia dalam beribadah. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW yang berbunyi,

“Kalian akan mendatangi saudara-saudara kalian. Karenanya perbaikilah kendaraan kalian, dan pakailah pakaian yang bagus sehingga kalian menjadi seperti tahi lalat (yang indah) di tengah-tengah umat manusia. Sesungguhnya Allah tidak menyukai sesuatu yang buruk.” (HR. Abu Dawud dan Hakim).

Agama Islam menganjurkan air sebagai media untuk bersuci. Kotoran pada tubuh akan menghilang dengan sempurna jika memakai air. Air yang dari atas dan yang keluar dari bumi boleh dipergunakan karena sifatnya suci dan mensucikan. Adapun beberapa jenis air dimaksud adalah air hujan[1], air salju dan embun[2], air sumber mata air[3], air laut[4], dan air zam-zam[5]. Namun, bukan Islam namanya jika memberatkan. Jika dalam suatu keadaan tertentu, air tidak dapat ditemukan, atau dalam kondisi yang tidak memungkinkan seseorang untuk terkena air, maka seorang muslim diperbolehkan bertayamum dengan tanah. Dengan demikian, tidak ada bagi seseorang penghalang untuk bersuci.

Selain kebersihan diri, kesucian tempat Shalat pun harus dijaga. Rasulullah SAW memberikan teladan yang sangat luar biasa kepada umatnya agar selalu menjaga kebersihan dan kesucian tempat Ibadah. Salah satu yang utama ialah anjuran untuk melepas alas kaki saat masuk mesjid. Karena mengandung banyak kotoran yang kasat mata dan yang tidak, alas kaki akan mengotori kebersihan dan kekudusan Mesjid.

Tidak hanya Muslim, umat Yahudi dan Nasrani juga dianjurkan untuk menjaga kesucian diri dan tempat ibadah. Dalam Alkitab, khususnya pada kitab Keluaran, terdapat beberapa himbauan untuk bersuci. Sebagai contoh, pada kitab Keluaran 3: 5, Allah SAW berfirman, “Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, dimana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus.”. Lalu pada kitab Keluaran 40: 31, dikatakan bahwa, “Musa dan Harun serta anak-anaknya membasuh tangan dan kaki mereka dengan air dari dalamnya”. Kemudian, pada kitab dan pasal yang sama ayat 32, disampaikan bahwa, “Apabila mereka masuk ke dalam Kemah Pertemuan dan apabila mereka mendekat kepada mezbah itu, maka mereka membasuh kaki dan tangan – seperti yang diperintahkan Tuhan kepada Musa.”. Terakhir, pada kitab Yosua 5: 15, tertulis, “Dan panglima Balatentara TUHAN itu berkata pada Yosua: “Tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat engkau berdiri itu kudus.” Dan Yosua berbuat demikian.”. Beberapa kutipan kitab diatas menunjukkan bahwa anjuran untuk menjaga kesucian tempat yang kudus dan kebersihan diri juga disampaikan kepada umat nabi Musa dan Isa.

Tempat ibadah merupakan tempat yang suci, dimana kebersihan dan kesucianya harus tetap terjaga. Kebersihan anggota badan dan kebersihan tempat ibadah merupakan kunci kenyamanan dan ketenangan dalam beribadah. Untuk menemukan kelezatan dalam shalat, keadaan lingkungan dan diri haruslah bersih dan nyaman. Beruntunglah bagi umat Islam yang senantiasa mengamalkan perintah Tuhan dan mengikuti sunah Rasulullah SAW, terutama yang senantiasa menjaga kesucian diri dan tempat ibadah. Alhamdulillah.

—-

[1] (Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan mesmperteguh dengannya telapak kaki(mu) (QS. Al-Anfal : 11)

[2] Sesuai dengan sabda Rasulullah SAW, “Ya Allah, bersihkanlah dosa-dosaku dengan air, salju dan embun” (HR.Bukhari, no: 744 dan Muslim, no: 598)

[3] “Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi…”. (QS. Az-zumar : 21).

[4] “Laut itu airnya suci dapat mensucikan dan halal bangkainya.” (HR. Abu Dawud no. 76 dan At-Tirmidzi no. 69)

[5] “Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam meminta setimba dari air zam-zam, kemudian beliau minum dan berwudhu”. (Zawaid musnad, 1/76).

Sumber:

  1. Al-Qur’an, Terjemah dan Tafsir Singkat, Jemaat Ahmadiyah Indonesia (Basmallah dihitung sebagai ayat pertama)
  2. Alkitab, Perjanjian Lama, Lembaga Alkitab Indonesia, Jakarta 2010
  3. Buku Tuntunan Ibadah Shalat oleh Muhammad Sadiq HA. Bin Barakatullah, Neratja Press 2016
  4. Edaran Berkala Kristologi No. 32/Tahun III, Januari 2000 M

Sumber Gambar: https://www.youtube.com/watch?v=RKzj23U7PWo

Tentang Penulis

Mumtazah Akhtar