Opini

Bijaksana Dalam Perbedaan Agama

bijaksana dalam perbedaan
Penulis Aisha Fazal

Masih lekat di ingatan kejadian-kejadian yang berlangsung saat ini. Isu-isu agama dijadikan faktor sah dalam terciptanya suatu konflik. Alih-alih mendiskusikan ajaran agama untuk mencapai pemahaman atas kebenaran sebuah agama yang berasal dari Tuhan yang benar, antar umat beragama seringkali dijadikan senjata untuk saling menyakiti satu sama lain. Kelompok agama tertentu dapat menyakiti kelompok agama yang lain, baik secara verbal maupun nonverbal, secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, secara individu maupun berkelompok.

Menariknya, kelompok ataupun perseorangan yang melakukan bentuk kekerasan atau huru-hara terhadap kelompok agama yang berbeda, merasa aktivitasnya tersebut dilakukan semata-mata dengan dalih membela agama yang dianutnya. Tidak heran mungkin jika banyak gerakan-gerakan masif yang bermunculan atas isu gesekan mengenai perbedaan agama. Padahal, jika saja kita merenungi, adakah diri kita mau dijadikan sasaran kekerasan ataupun kekasaran dengan alasan apapun, sekalipun alasannya adalah perbedaan agama?

Terkait perbedaan agama, ada sebuah pengalaman yang membekas dalam ingatan saya hingga saat ini.

Hari itu saya melakukan perjalanan menggunakan pesawat, saya yang notabene penakut dan tidak nyaman untuk pergi sendirian mengalami kecemasan atas hal yang mungkin saja bisa menimpa saya, takut pesawatnya jatuh lah, atau ada gangguan teknis yang menyebabkan mesin terbakar, cuaca buruk yang lagi-lagi memberikan kemungkinan pesawat jatuh, dan hal-hal negatif lainnya yang membuat ketakutan saya semakin menjadi-jadi.

Sebelum pesawatnya lepas landas saya sebagai Muslim memanjatkan doa-doa dan mengerjakan sholat sunah, saat gerakan salam terakhir, saya melihat di samping kiri saya ada mbak-mbak yang usianya di atas saya beberapa tahun, cantik dengan rambut sebahu tampak khusyu sedang berdoa dan menyudahi doanya dengan melakukan gerakan “tanda salib kecil” yakni menyentuh dahi, bibir, dan dada dengan ibu jari.

Seiring ketakutan saya yang menghilang, ada kesadaran yang kemudian muncul. Pertama jelaslah saya menyadari bahwa saya dan penumpang sebelah saya berbeda agama, akidah agama kami pun pastilah berbeda, bahkan ritual ibadah dan cara kami memanggil Tuhan dalam doa pun berbeda. Kesadaran kedua yang paling penting, yakni adanya persamaan di antara kami! Selain kami sama-sama perempuan yang berpergian seorang diri dan ketakutan, kami berupaya menghilangkan ketakutan manusiawi kami dengan memanjatkan doa terhadap Tuhan yang kami percayai. Selama perjalanan hingga pesawat mendarat, perjalanan kami aman terkendali. Terlebih, perjalanan tersebut kemudian mengantarkan saya kepada sebuah kesadaran untuk menyikapi perbedaan agama yang ada.

Sesuatu yang berbeda dengan apa yang diyakini oleh kebanyakan orang, bukanlah penentu atas benar atau salahnya suatu hal. Perbedaan tidak seharusnya mendorong manusia untuk main hakim sendiri menentukan siapa yang benar atau siapa yang salah. Perbedaan tidak bisa dijadikan alasan untuk munculnya tindak kekerasan terhadap kaum minoritas ataupun mayoritas. Sebagai orang yang beragama, sudahkah kita memperlakukan perbedaan yang ada dengan cara yang tepat?

Sebagai Muslim ada slogan yang saya jadikan prinsip dalam menyikapi perbedaan apapun, terlebih perbedaan agama, yaitu yang selalu diusung oleh Ahmadiyah; love for all, hatred for none. Kecintaan terhadap sesama, kebencian tidak untuk siapapun – baik yang memiliki kesamaan ataupun perbedaan! Hal ini menampilkan keindahan ajaran Islam yang . Untuk menyikapi perbedaan ataupun persamaan di antara manusia, kita dapat meyakini bahwa tiap-tiap hal yang memiliki unsur kebenaran yang bersumber dari Tuhan akan selalu nampak dalam keindahan dan perdamaian, bukan dalam kebencian dan permusuhan.

Sehingga, makna dan wujud atas Islam Rahmatan Lil’alamin dapat secara aktif dipraktekan dan dirasakan oleh semua pihak. Dengan prinsip ajaran Islam ini, kita dapat mengakui dan menghormati eksistensi orang lain dengan terus menghidupkan cinta kasih kepada sesama, sebagai bentuk kebijaksanaan dalam hidup bersama dengan perbedaan yang ada di muka bumi ini. Insha Allah.

Sumber Gmabar: https://billmuehlenberg.com/2017/07/25/yes-christians-different/

Tentang Penulis

Aisha Fazal

Tinggalkan komentar