Opini

Bom Bunuh Diri Bukanlah Jihad

Saya adalah penganut Agama Islam, Islam yang saya kenal adalah Islam yang mencintai perdamaian karena arti Islam itu sendiri damai. Pernyataan saya ini selaras dengan sabda Khalifah Ke-5 Jamaah Muslim Ahmadiyah, Hazrat Mirza Masroor Ahmad atba :

“Allah Ta’ala menamakan Agama kami Islam yang artinya adalah kedamaian. Jadi nama Islam itu sendiri menolak segala bentuk , Ekstrimisme, dan Paksaan. Sesungguhnya Islam adalah Agama yang menegakan perdamaian, kebebasan, cinta kasih, rasa aman bagi semua manusia.”

Anehnya ada saja Kelompok yang mengatasnamakan Islam, namun malah melakukan bentuk-bentuk kekerasan terhadap kelompok lain. Contohnya seperti melakukan , yang telah dilakukan oleh satu anggota keluarga di Surabaya. Yang disayangkan dari aksi pengeboman tersebut, terlibatnya seorang anak kecil yang tidak berdosa bernama FS dan FR, berusia 12 tahun dan 9 tahun. Aksi tersebut dilakukanhanya karena pemahamannya berseberangan dengan dirinya.

Walaupun pada kenyataanya kedua anak tersebut adalah pelaku bom bunuh diri tetapi keduanya juga adalah korban dari pemahaman orang tuanya yang keliru mengenai konsep .

Kalau begitu apa bedanya mereka dengan hewan liar? Sungguh orang tua tersebut tidak mengetahui tujuan hidup dan tujuan agama itu sendiri.

Agama Islam memang menganjurkan kepada para pengikutnya untuk berjihad di jalan Allah Ta’ala. Namun sebagian orang telah memahami konsep jihad itu secara keliru dan bersebrangan dengan tujuan agama Islam didirikan.

Negeri kita baru-baru ini telah dihebohkan dengan adanya bom bunuh diri dan sebagian orang menganggap bahwa itu adalah jihad. Bom bunuh diri bukanlah jihad, karena Rasulullah SAW melarang umatnya untuk bunuh diri terbukti dari sikap beliau saw yang enggan menshalatkan orang yang bunuh diri.

أَنَّ رَجُلا قَتَلَ نَفْسَهُ بِمَشَاقِصَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَمَّا أَنَا فَلا أُصَلِّي عَلَيْه

“Ada orang yang bunuh diri dengan pisau, maka Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Kalau saya, maka saya tidak shalatkan dia.” (HR. An Nasa’i no. 1964 dan dinyatakan shahih oleh Syaikh Al Alban)

Perbuatan Rasulullah SAW didukung oleh ayat suci Al-Qur’an yang bunyinya:

وَلاَتَقْتُلُوْااَنْفُسَكُم

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu”

(Q.S An-Nisa : 29)

Dari ayat ini kita dapat menarik kesimpulan bahwa orang yang melakukan bom bunuh diri. Sebenarnya ia bukan sedang berjihad di jalan Allah Ta’ala akan tetapi sedang melanggar firman Allah Ta’ala. Lantas kenapa masih ada saja kelompok yang menganggap bahwa bom bunuh diri itu adalah jihad ?

Dalam bahasa Arab jihad berarti berjuang dan bersunggung-sungguh. Yang dimaksud dengan berjuang itu apa? Apakah berjuang memusnahkan orang-orang kafir dari muka bumi dengan pengeboman dan bentuk-bentuk kekerasan lainnya atau seperti apa?

Yang dimaksud dengan berjuang adalah berjuang untuk mempertahankan harta, jiwa, dan keyakinan dari serangan musuh. Kita tidak dapat memungkiri dalam mempertahankan hak-hak kita pasti bentuk  kekerasan fisik maupun kekerasan verbal akan didapatkan.

Sedangkan melakukan bom bunuh diri bukan bentuk untuk mempertahankan harta, jiwa, maupun keyakinan. Tetapi justru digunakan untuk menyerang kelompok lain dengan melukai diri sendiri maupun orang lain, pemahaman yang seperti itulah yang keliru, dan perbuatan seperti itu tidak layak dikatakan sebagai jihad walaupun ia mengatasnamakan Islam.

Memang di dalam Al-Qur’an diperbolehkan kepada umat muslim untuk mengangkat senjata dengan syarat ia harus teraniaya atau dianiaya.

“telah diizinkan untuk mengangkat senjata bagi mereka yang telah diperangi, disebabkan mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah Ta’ala berkuasa menolongnya.” (Q.S Al-Hajj : 40)

Ayat ini mengemukakan alasan pertama orang muslim boleh mengangkat senjata disebabkan karena dianiaya, dan dalam ayat selanjutnya :

“orang-orang yang telah diusir dari rumah-rumah mereka tanpa hak, hanya karena mereka berkata, “Tuhan kami ialah Allah….” (Q.S Al-Hajj : 41)

Ayat ini memberikan alasan kedua, membolehkannya untuk mengangkat senjata karena telah terjadi pengusiran dari kampung halaman mereka. Di tengah keadaan yang amat tidak menguntungkan itulah kaum muslimin terpaksa mengangkat senjata untuk mempertahankan harta mereka, diri mereka, dan agama mereka.2

Senada dengan hal tersebut pendiri Jamaah Muslim Ahmadiyah Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad AS (Masih Mau’ud AS ) bersabda:

“Di dalam Islam tidak ada di izinkan mengangkat pedang demi agama dalam bentuk apapun kecuali perang untuk mempertahankan diri atau perang-perang yang dilakukan dengan niat menghukum orang yang aniaya atau untuk menegakan kemerdekaan. Dan yang dimaksud dengan pembelaan diri ialah perang-perang yang dibutuhkan pada saat jiwa terancam oleh serangan musuh-musuh.”3

Inilah tiga macam bentuk peperangan yang diizinkan oleh syariat, selain ketiga bentuk peperangan tersebut, tidak ada bentuk lain yang di izinkan dalam Islam untuk menyebarkan ajaran.

Akan tetapi kaum muslimin di Indonesia hidup aman dan kaum Kristen pun tidak berbuat aniaya apalagi sampai melakukan pengusiran. Maka apakah masih menganggap bahwa melakukan bom bunuh diri adalah jihad?

Jihad di Zaman Sekarang

Kiranya perlu untuk saya sampaikan jihad yang sesungguhnya dan sesuai dengan zaman sekarang. Beda zaman tentu beda juga solusinya, jihadnya zaman Rasulullah SAW memang dengan pedang, itu pun untuk mempertahankan diri.

Sebab pada waktu itu pedang lebih dibutuhkan dan pada masa dahulu seorang pemberani yang sejati adalah orang yang tidak takut dihadapan pedang-pedang.

Akan tetapi di zaman sekarang justru sebaliknya pedang sudah tidak dibutuhkan lagi. Sebagaimana yang telah Masih Mau’udas sabdakan yakni:

“Saat ini yang dibutuhkan adalah pahamilah dengan seyakin-yakinnya bukanlah pedang, melainkan . Para penentang telah menaburkan kebimbangan-kebimbangan mengenai Islam, dan dari sudut pandang ilmu pengetahuan, mereka ingin menyerang agama sejati Allah Ta’ala. Allah telah menggerakan saya untuk mengenakan senjata lalu turun di medan pertempuran pengetahuan dan kemajuan ilmiah ini.”4

Itu artinya Allah Ta’ala pada zaman ini, menghendaki supaya fungsi pedang digantikan dengan pena. Dengan tujuan untuk menghalau fitnah-fitnah dajjal menggunakan tulisan.

Bagi para orang tua yang menginginkan anaknya untuk berjihad di jalan Allah Ta’ala, mulai saat ini dan mulai detik ini. Hilangkanlah pemikiran bahwa berjihad di jalan Allah Ta’ala haruslah dengan pedang (kekerasan), karena pemahaman seperti itu sungguh  keliru dan menyimpang dari ajaran Islam yang sebenarnya.

Para orang tua bisa mengarahkan anak-anaknya untuk menuntut ilmu agama, yang bermanfaat tentunya bagi kesejahteraan umat manusia. Sebab sebenarnya seseorang yang sedang menuntut ilmu adalah seorang yang sedang berjihad juga di jalan Allah Ta’ala kemudian jika ia meninggal ketika sedang menuntut ilmu maka ia mati syahid.

Sebagaimana hadis yang tertera dibawah ini:

مَنْ جَاءَ مَسْجِدِى هَذَا لَمْ يَأْتِهِ إِلاَّ لِخَيْرٍ يَتَعَلَّمُهُ أَوْ يُعَلِّمُهُ فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الْمُجَاهِدِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَمَنْ جَاءَ لِغَيْرِ ذَلِكَ فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الرَّجُلِ يَنْظُرُ إِلَى مَتَاعِ غَيْرِهِ


Siapa yang mendatangi masjidku ( Nabawi), lantas ia mendatanginya hanya untuk niatan baik yaitu untuk belajar atau mengajarkan ilmu di sana, maka kedudukannya seperti mujahid di jalan Allah. Jika tujuannya tidak seperti itu, maka ia hanyalah seperti orang yang mentilik-tilik barang lainnya.” (HR. Ibnu Majah no. 227 dan Ahmad 2: 418, shahih kata Syaikh Al Albani).

 

Tidak hanya itu menjawab tuduhan-tuduhan palsu terhadap Islam dengan pena dan menyebarkan ajaran-ajaran Islam yang sebenarnya melalui amal perbuatan. Itu pun termasuk seseorang yang sedang berjihad di jalan Allah Ta’ala. Dan jenis Jihad seperti itu justu tingkatannya lebih tinggi dari pada berjihad dengan pedang (kekerasan).

Referensi :

  1. Ibnu Majah kitab jenazah bab shalat atas ahli kitab hal. 110 sekarang terdapat di Fiqh Ahmadiyah bab shalat jenazah hal. 9
  2. Tafsir Shagir karya khalifat-ul-Masih Tsani II
  3. Al-Masih di Hindustan
  4. Malfuzat jilid 4 hal 103

Sumber Gambar: http://twentytwowords.com/45-haunting-photos-of-people-in-their-final-moments-before-death/

Tentang Penulis

Rafi Assamar Ahmad