Terorisme

Bom Meledak, Atheis Melonjak

KECENDERUNGAN lonjakan jumlah atheis di dunia terus berkembang.

”…KECENDERUNGAN lonjakan jumlah atheis di dunia terus berkembang. Penelitian dan jajak pendapat terkait jumlah atheis dunia dilakukan secara internasional dibeberapa negara.”

BEBERAPA minggu terakhir masyarakat dunia dikejutkan dengan dua ledakan bom berkekuatan besar yang terjadi di kota Brussels, Belgia dan Lahore, Pakistan. Serangan ini menyebabkan ratusan korban jiwa dan luka-luka, sebuah pemandangan yang menyedihkan dan mengiris hati nurani.

dan Taliban menyatakan sebagai pihak yang berada di balik kedua serangan bom mematikan tersebut, hal ini sontak menarik perhatian para pemimpin dunia seraya mengecam keras tindakan brutal dan terkutuk tersebut.

Beberapa pemimpin agama dunia pun dengan tegas menyatakan bahwa serangan barbar itu sama sekali tidak memiliki hubungan dengan ajaran agama manapun. Namun sayangnya para pelaku teror senantiasa menjustifikasi tindakannya atas nama Tuhan dan agama tertentu, sehingga mengundang beberapa pihak untuk memutuskan anti Tuhan dan anti agama.

Meskipun jumlah mereka relatif kecil, namun kecenderungan lonjakan jumlah ateis di dunia terus berkembang. Penelitian dan jajak pendapat terkait jumlah ateis dunia dilakukan secara internasional di beberapa negara.

Pew Research Center pada tahun 2014 melaporkan hasil penelitiannya, bahwa di Amerika Serikat terjadi peningkatan jumlah atieis sebesar 3 % setiap tahunnya. Yang cukup mengejutkan adalah hasil jajak pendapat yang dilakukan oleh WIN/Gallup International yang menunjukkan data bahwa sekitar 5 % penduduk Arab Saudi menyatakan dirinya sebagai ateis.

umat beragama menjadi alasan utama peningkatan tren ateis saat ini. Sikap muak kaum ateis memuncak, ketika mereka melihat bagaimana cara orang yang beragama memperlakukan orang lain. Mereka melihat maraknya  yang terjadi dalam umat agama-agama di dunia, baik Kristen, Yahudi dan Islam.

Radikalisme di kalangan umat Kristen terjadi beberapa abad yang lalu ketika otoritas Gereja dengan sangat otoriter menghukum orang-orang yang difatwa kafir kecuali mereka mau mengikuti agama Kristen. Belum lagi kekerasan yang dilakukan oleh pasukan Kristen terhadap kaum Muslimin dalam perang salib.

Radikalisme pun terjadi dalam umat Yahudi, ketika mencaplok dan mengambil paksa tanah serta kedaulatan kaum Muslimin di Palestina yang masih terjadi hingga hari ini.

Yang paling dirasakan oleh masyarakat dunia adalah realita radikalisme dalam umat Islam melalui sepak terjang kelompok ISIS, Taliban, Al-Qaida dan kelompok teroris umat Muslim lainnya, yang dengan nyata memperlihatkan kebengisan, kesadisan dan kebrutalan terhadap pihak lain (Harris Zafar, 2013).

Selain radikalisme, sungguhnya masih ada faktor penunjang lainnya yang menyebabkan tren ateis ini meningkat. Beberapa kalangan menilai bahwa banyak dari ajaran agama-agama yang bertolak belakang dengan ilmu pengetahuan, sehingga ajaran agama bagi mereka hanyalah ajaran yang dogmatis, kaku, dan tidak rasional. Hal tersebut juga menjadi faktor mengapa semakin banyak orang memilih menjadi ateis.

Beragam reaksi ditunjukkan kaum agamawan terkait realita lonjakan penganut ateis ini. Sebagian memberikan tanggapan yang keras, bahkan berusaha untuk menarik mereka kembali kepada agama dan kepercayaan pada Tuhan.

Namun sebelum lebih jauh memberikan reaksi tersebut haruslah ditanamkan dalam hati kita bahwa mereka bukanlah berarti pribadi yang egois, tamak, arogan dan tidak bisa memiliki sikap yang baik. Mereka hanyalah pribadi-pribadi yang mengalami kesalah-pahaman terkait hakikat Ketuhanan dan ciptaan-Nya.

Sebelum kita menuduh mereka sebagai orang-orang yang telah kehilangan iman, ada baiknya jika kita sebagai pribadi yang memiliki iman melakukan introspeksi diri terkait apa yang telah kita lakukan untuk orang lain. Penting bagi setiap agamawan untuk menunjukan keindahan ajaran agamanya serta menawarkan kemuliaan akhlak para pengikutnya.

Beragama sering kali dituding sebagai biang keladi dari konflik dan peperangan. Permasalahannya bukan pada agama. Sejatinya yang menjadi penyebab utama adalah kepentingan politik dan ekonomi para pemeluk agama tersebut, lalu menjadikan agama sebagai sarana dalam meraih tujuan duniawinya.

Untuk mendapat gambaran sejati tentang kebenaran suatu agama maka lihatlah masa ketika agama tersebut disampaikan secara langsung oleh para pendirinya. (Azhar Hanif, 2002)

Dalam agama Islam, ada dua buah gambaran sederhana tentang kualitas keberagamaan seseorang. Yakni ketika dia diperkenankan melakukan kejahatan dengan syarat tidak diketahui oleh siapapun maka dia menolaknya seraya menjawab bahwa bagaimana mungkin saya dapat melakukan kejahatan sedangkan Tuhan selalu melihat dimana pun saya berada.

Gambaran kedua adalah ketika seseorang yang beriman menjauhkan sikap permusuhan kepada siapapun, lalu dia berbagi kasih dan cinta kepada orang lain laksana seorang ibu yang dengan ikhlas tanpa meminta imbalan mengorbankan apapun bagi anaknya. (Ayyaz Mahmud, 2002)

Oleh karenanya, dituntut keseriusan orang beriman dalam menghadapi tren ateisme ini, yakni dengan melakukan beberapa hal penting. Di antaranya, tingkatkan kualitas ilmu agama kita dengan pendekatan rasional, lalu tunjukkan keindahan akhlak agama kita dan jauhi semua bentuk kepura-puraan dalam iman.

Perlihatkan perubahan positif dalam tindakan kita sebagai bentuk perwujudan kejuwitaan kasih Tuhan. Terakhir, jatuh cintalah bersama Tuhan, jangan hanya sebatas percaya adanya Tuhan.

_
Dimuat di Qureta.com; editor: Rām DMX

Tentang Penulis

Iskandar Ahmad Gumay

Tinggalkan komentar