Akhlaq Faḍi'l-Lāh

BOTOL PLASTIK PENYAMBUNG KEHIDUPAN

botol

Pagi itu, saat jalanan masih sepi aku berniat hendak pergi membeli sarapan yang tempatnya tidak terlalu jauh dari tempat kost ku. Ketika aku mulai mendekati pagar rumah kost, nampak seorang kakek berbaju lusuh dengan memakai topi yang menutup sebagian wajahnya tengah sibuk, merunduk di sebuah pagar rumah seberang. Saat aku berjalan semakin keluar pagar, semakin terlihat jelas pula bahwa kakek itu sedang mengais-ngais di tempat sampah rumah depan rumah kost ku.

Sembari mendekat kearahnya secara spontan aku bertanya setengah berteriak ”kek, sedang apa? kakek sedang mencari botol2 plastik kah?”. Tanpa menunggu jawabannya pun aku mengetahui, kakek itu sedang mencari botol plastik untuk mengisi karung besar yang ia pegang dan terlihat masih kosong. Aku pun menambahkan, “Tunggu sebentar kek, saya punya botol plastik di dalam”.

Tak lama kemudian aku datang dengan membawa satu dus botol plastik dan memasukannya kedalam karung milik kakek tersebut. Lalu kembali untuk membawa  lagi dus lainnya yang berisi sama. Waktu kembali kakek tersebut masih menunggu di pintu pagar, “Maaf kek sudah menunggu.” ujarku saat membawa dua dus berikutnya. Kakek itu tersenyum kemudian dengan segera membawanya dari tanganku dan menempatkannya ke dalam karung, sehingga setengah dari karung besar nya telah terisi. Saat aku berkata akan masuk ke dalam untuk mengambil dus yang lainnya, sang  kakek  terlihat sedikit tercengang, dan ketika aku kembali dengan 3 dus lainnya kakek tersebut terlihat sangat bahagia dengan mata nya berbinar, sambil memasukan botol-botol itu ia bertanya “neng sudah kerja?”, “saya masih kuliah kek” jawab ku. Kakek itu tiba- tiba menimpali “neng.. mudah-mudahan  selalu diberi kelancaran ya kuliahnya , dan di beri kemudahan juga untuk sukses kakek doakan neng”.

Entah mengapa, hati ku terenyuh begitu mendengar doa si kakek. Aku merasa doa yang di ucapakan nya itu penuh dengan ketulusan. Kakek itu akhirnya pamit pergi dengan membawa serta wajah yang tersenyum ceria dan karung besar nya yang terisi penuh, “terimakasih ya neng”, ujarnya lagi.

Muncul kebahagian tersendiri ketika melihat senyum ceria yang di tunjukkan sang kakek. Botol plastik yang sudah tidak berguna untuk ku ternyata memiliki manfaat yang besar bagi mereka yang membutuhkan, bahkan bisa menjadi sumber kelangsungan . Hal yang sangat .

“Jika kebahagiaan adalah uang, pendaki tidak akan berharap bertemu mata air dalam perjalanan pendakian nya ”

Dalam Ajaran Agama , seperti yang sudah Rasulullah SAW contohkan pula, seyogyanya para pemeluk agama menerapkan gaya hidup sederhana dan mampu mengorbankan apa yang kita miliki guna kemajuan hidup sesama manusia dan agama. Begitu juga dalam Jemaat , telah disempurnakan pula jalur pengorbanan harta dijalan Allah dalam gerakan Tahrik Jadid yang diusung oleh Khalifah Kedua , Hz. Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad ra. Melalui perjanjian Tahrik Jadid ini pula mampu membantu penyebaran ajaran Islam keseluruh pelosok dunia.

Beliau r.a meminta anggota jemaat Ahmadiyah untuk tidak menghambur-hamburkan uang tanpa melihat kegunaan dari hasil uang yang kita habiskan. Beliau ra tidak mengajurkan kita untuk mempergunakan rezeki yang kita dapatkan hanya untuk kesenangan atau gengsi semata.

Pada zaman ini sering kita dapati fenomena seperti orang yang menghabiskan uang untuk makan di restoran mewah, tetapi menyisakan makan yang dipesan, lalu membayarnya dengan memberikan uang kembalian nya sebagai tip. Tetapi ketika berbelanja di pasar tradisional atau berbelanja di warung biasa mereka menawar harga serendah-rendahnya pada pedagang yang hanya memiliki penghasilan pas-pasan itu.

Hal tersebut bertentangan dengan gaya hidup yang Rasulullah saw tunjukan. Betapa sederhananya beliau, sampai ada hadis mengenai makanan yang dibuang-buang percuma,

وَعَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ طَعَامًا, فَلَا يَمْسَحْ يَدَه

, حَتَّى يَلْعَقَهَا, أَوْ يُلْعِقَهَا )  ]مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Ibnu Abbas رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا bahwa Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Apabila salah seorang di antara kamu makan makanan, maka janganlah ia membasuh tangannya sebelum ia menjilatinya atau menjilatkannya pada orang lain.” (Muttafaq ‘Alaihi)

Pada saat tertentu, terkadang aku menilai kebahagian itu ketika kita memiliki apa yang kita inginkan, memiliki pakaian baru, make up baru, gadget baru yang lebih canggih hingga kendaraan baru. Namun, kembali merujuk gaya hidup Tahrik Jadid dan kisah kesederhanaan Rasulullah saw tadi, lambat-laun setiap kali perasaan itu muncul dapat terkikis dengan sendirinya. Contohnya saja ketika melihat produk kerudung dengan harga diskon, sekilas saja hal tersebut menawarkan rasa ingin memiliki kerudung baru, tetapi saat mengingat masih ada kewajiban lain bagiku untuk menarik berkah dari rezeki yang aku terima, aku gugurkan saja niatku itu. Toh niatnya hanya tertarik harga murah sedangkan kerudung yang layak pakai saja masih ada. Belum lagi kewajibanku membayar sedekah setiap bulannya harus aku prioritaskan. Menurutku, inilah manfaat mengikuti dan memahami Gerakan Tahrik Jadid.

Kisah kakek tadi sangat timpang dengan keadaan zaman sekarang dimana orang-orang lebih mengutamakan gengsi dari pada kebutuhan. Sehingga tidak jarang orang-orang ini rela membayar mahal suatu barang/jasa hanya untuk menunjukan kedudukannya. Sedangkan kisah hidup si Kakek tadi hanya dengan menerima botol plastik bekas saja mampu memenuhi kebutuhan hidupnya tidak hanya hari itu saja. Bisa untuk keesokan hari bahkan beberapa hari kedepannya.

Kebahagiaan itu bukan hanya bagaimana kita dapat merasakannya, namun bagaimana kita melakukannya. Tidak ada orang yang tidak menginginkan kebahagian. Kakek tersebut mengajarkanku bahwa  kebahagiaan yang hakiki akan muncul ketika kita berbagi apa yang kita miliki dengan orang lain yang membutuhkan.  Dan memberikan kesadaran bahwa dengan  kesederhanaan membuat kita lebih peka dan ingat untuk berbagi pada mereka yang membutuhkan. Masih banyak orang yang tepat sangat  membutuhan sedikit dari rezeki yang kita miliki.

Indikator kebahagian materi bisa di ukur dari jumlah harta kekayaan yang dimiliki, namun kebahagiaan yang sejati diperoleh ketika hati selalu merasa cukup” .

Semoga Allah Ta’ala memberikan kepuasan kepada kita untuk bisa hidup sederhana dan memperoleh kebahagian yang sejati melalui Gerakan Tahrik Jadid ini. Aamiin

Sumber Gambar: https://www.tumblr.com/search/plastic-bottles

Tentang Penulis

Amanda Nabella Fauzia