Opini

Bukti Yesus Kristus Menikah

yesus
Penulis Ammar Ahmad

Masih Mau’udas menulis dalam buku beliau Almasih Hindustan Me bahwa ada satu suku di Afganistan yang bernama Isa Khil yang sangat mungkin merupakan keturunan Isa Al-Masih. Dalam buku tersebut beliau telah membuktikan dengan kuat dan penuh dalil dari berbagai aspek bahwa memang selamat dari penyaliban dan pergi ke timur jauh guna mencari domba-domba Bani Israil yang hilang, demi tercapainya tujuan dari pengutusan beliau.

Bahkan pada buku Isa dari Palestina ke Kashmir tertera sebuah foto seseorang yang bernama Basharat Salim. Ia mengakui dirinya keturunan Isa Al-Masih. Ia juga menjaga kuburan Isa di Srinagar secara turun-temurun.

Akan tetapi, bila kita perhatikan, yang namanya keturunan adalah hasil dari sebuah hubungan suami istri yang telah sah menikah. Ini tentu sangat bertentangan dengan keyakinan umat Kristen yang meyakini Yesus itu tidak pernah menikah, apalagi punya anak. Umat Kristen meyakini Yesus sebagai anak tunggal Tuhan bahkan Tuhan itu sendiri yang sama derajatnya dengan Tuhan Bapa, yakni Allah.

Bila Yesus menikah apalagi punya anak, maka gugurlah semua teologi Kristen yang telah dipertahankan selama berabad-abad. Gereja-gereja juga akan mendapatkan pertanyaan-pertanyaan yang akan sangat sulit untuk dijawab. Kenapa ‘tuhan’ bisa punya istri? Siapa yang bisa menjadi istri dari tuhan? Apakah anak Yesus akan menjadi tuhan juga? Bila anak Yesus pun dianggap tuhan maka kelak akan banyak tuhan di dunia? Kemudian, kenapa dan untuk apa tuhan menikah? Jawabannya akan sangat sulit bila memang Yesus itu menikah.

Dengan terbuktinya Yesus menikah maka gugurlah teologi ketuhanan Yesus karena menikah hanya dilakukan manusia dan tidak mungkin dilakukan oleh Tuhan. Melalui pengkajian ilmiah, penulis akan mencoba membuktikan bahwa Yesus itu memang menikah.

Pertama-tama kita perlu mencari tahu siapa yang mungkin menjadi istri Yesus? Dalam -injil, ada beberapa perempuan yang suka ikut perkumpulan Yesus dan para rasulnya, salah satunya adalah Magdalena. Bahkan, Magdalena ada di dekat Salib pada saat proses penyaliban (Yohanes, 19:25), sedangkan banyak murid lainnya malah lari menyelamatkan diri.

Dalam Injil Yohanes ada momen yang menggambarkan kedekatan yang erat antara Yesus dan Maria Magdalena. Dalam Injil Yohanes 20:11-18, setelah Yesus sadar dan keluar dari kuburannya (kuburan memiliki pintu dan lubang / jendela sirkulasi udara).

Maria Magdalena demikian sangat khawatir dan menangis bagaikan kehilangan separuh jiwanya. Maria M. menjadi orang yang pertama kali melihat Yesus setelah beliau siuman. Yesus saat itu tampaknya tengah berusaha menyembunyikan identitasnya mungkin karena khawatir akan ditangkap kembali oleh tentara Roma. Sehingga Maria M.  menyangka beliau sebagai penunggu taman. Yesus lalu bersabda “Maria!” dan Maria M. berpaling kepadanya dan berkata “Rabuni / Guru.”

Anehnya Yesus berkata, “Janganlah engkau memegang aku.” Artinya, ada pergerakan dari Maria M. yakni memegang tubuh Yesus, bahkan ingin memeluk beliau karena demikian khawatir bercampur rasa bahagia berjumpa kembali. Artinya, ada kontak fisik di sini, hal di mana sangat tak biasa bagi seorang bukan muhrim melakukannya.

Mengapa Maria M. berani memegang Yesus? Jawabannya karena sudah muhrim dan sah menikah. Lalu, kenapa Yesus melarangnya agar jangan memegang? Bukan karena masih belum muhrim tapi karena fisik beliau masih terasa sakit akibat penyiksaan sebelum dan selama proses penyaliban. Dengan dipegang apalagi dipeluk tentu akan sangat terasa sakit bukan?

Bila dirasa bukti di atas belum memadai, maka kita perlu mencari sumber dari kitab yang tidak masuk Kanon Perjanjian Baru. Kenapa? Karena, tak mungkin kisah percintaan Yesus dimasukkan kedalam Perjanjian Baru karena bertentangan dengan kayakinan Gereja bahwa Yesus tak memiliki kekasih apalagi istri. Kitab-kitab di luar Kanonik Perjanjian Baru belum tentu palsu seluruhnya. Hanya karena berbeda dengan Injil-injil Kanonik tak menjadikan Injil-injil non-Kanonik itu palsu adanya. Apalagi bila teksnya sama-sama dari masa awal era Kekristenan.

Oleh karena itu sekarang coba kita lihat Injil Maria Magdalena sendiri. Pada Injil Maria Magdalena 6:1, Petrus berkata kepada Maria, “Saudaraku, kita tahu sang Penyelamat (Yesus) mengasihi engkau lebih dari dia mengasihi semua perempuan lain.” Dari ayat ini jelas Petrus sendiri mengakui bahwa Yesus demikian menyayangi Maria Magdalena. Bila kasih kepada Maria M. ternyata lebih besar dari wanita lain, maka posisi Maria M. berarti sangat istimewa bagi Yesus. Maka, sangat mungkin Maria M. adalah istri Yesus.

Mari kita perhatikan bukti berikutnya yakni Injil Maria M. 10:3 di mana Petrus bertanya kepada murid-murid lainnya tentang sang Penyelamat (Yesus), “Apakah betul kalau dia (Yesus) berbicara kepada seorang perempuan (Maria M.) secara pribadi tanpa sepengetahuan kita?” Dari ayat ini, hal yang menarik adalah Yesus biasa berbicara secara pribadi kepada Maria M., yang bahkan tidak diketahui oleh murid-murid lainnya. Hal ini seolah-olah tak ada pardah di antara keduanya dan sangat akrab. Maka, sudah tentu Maria M. adalah istri Yesus; karena bila tidak, maka tak mungkin bisa sedekat itu tanpa memperhatikan batasan-batasan pergaulan laki-laki dan perempuan, apalagi sampai bertemu dan berbicara secara pribadi dan tidak diketahui oleh murid lainnya.

Bukti berikutnya datang dari Injil Filipus dan penulis rasa ini bukti terkuat karena ayat-ayatnya yang demikian jelas menggambarkan keintiman Yesus dan Maria M.. Pada Injil Filipus 49 tertulis: “Kekasih sang penyelamat (Yesus) adalah Maria Magdalena. Sang penyelamat mengasihinya lebih dari ia mengasihi semua murid lainnya, dan ia seringkali menciumnya pada mulutnya.

“Murid-murid lainnya … berkata kepadanya, ‘Mengapa engkau mengasihinya lebih dari engkau mengasihi kami semua?’

“Sang penyelamat (Yesus) menjawab dan berkata kepada mereka, “Mengapa aku tidak mengasihi kalian seperti dirinya? Jika seorang buta dan seorang celik keduanya berada dalam kegelapan, mereka sama. Pada waktu terang datang, orang yang dapat melihat akan melihat terang, dan orang yang buta akan tetap berada dalam kegelapan.”

Dari ayat ini jelas tertulis bahwa Yesus memiliki kekasih (Yunani: koinōnos) atau istri (Yunani: hōtre) yakni Maria Magdalena. Bahkan Yesus disebutkan seringkali mencium bibir Maria M. dan mengasihinya lebih dari para murid yang lain. Jadi, jelaslah perlakuan seperti itu hanya mungkin dilakukan oleh pasangan suami istri.

Tak mungkin seorang Nabi berbuat demikian kepada yang bukan muhrimnya. Terlebih lagi, hal ini tidak mungkin dilakukan oleh tuhan, jadi dengan sendirinya Yesus bukanlah tuhan. Beliau adalah manusia biasa yang memiliki berahi yang wajar pada istrinya. Hanya memang beliau berpangkat Nabi dan memilki posisi yang khas dalam silsilah Kenabian di Bani Israil, yakni penutup silsilah kenabian Musawi.

Apalagi ada bukti kuat lainnya dalam penemuan Injil Istri Yesus berikut ini:

Fragmen Injil Istri Yesus yang telah terbukti autentik (2014)

Fragmen tes Koptik ini terdiri atas penggalan delapan baris tulisan. Sebaris teks dalam fragmen ini berbunyi “Yesus berkata kepada mereka, ‘Istriku …’.” Sebaris teks berikutnya menyebut nama “Maria” yang dikatakan “layak.” Selanjutnya teks memuat ucapan Yesus, “dia (feminin) akan dapat menjadi seorang muridku.” Teks-teks ini, untuk memudahkan referensi, diberi nama Injil Istri Yesus. Penemuan ini tentunya menimbulkan banyak pertentangan dan perdebatan.

Prof. Karen L. King telah menganalisis teks tua Injil Istri Yesus ini sejak 2011 atas permintaan NN pemiliknya. Akan tetapi, penerbitan karya ilmiahnya tentang injil luar biasa ini ditunda oleh Harvard Divinity School, tempatnya mengajar, karena dia menerima banyak serangan dari berbagai penjuru, sambil menunggu pengujian cermat carbon-dating untuk memastikan apakah fragmen teks tua ini autentik atau hasil pemalsuan.

Temuan ini sudah dilemparnya ke para pakar, persisnya pada acara Kongres Koptik Internasional di Roma, 18 September 2012. Kini, sudah ada kepastian bahwa fragmen teks tua ini autentik, berasal dari kurun 650-870 M; dan sangat mungkin teks ini salinan dari teks Yunani abad ke-2 M. 

Jadi bila memang Yesus menikah dan berketurunan maka benarlah teori Hd. Masih Mau’udas . Menikah bukanlah hal yang dilarang dalam agama apa pun, termasuk Yahudi dan Kristen, lalu kenapa kita mesti heran dan tak percaya bila Yesus memang menikah?

Catatan:

  • Terjemahan Injil Maria Magdalena dan Injil Filipus yang dipakai pada tulisan ini adalah karya Dr. Iones Rachmat.

Referensi :

  • Ahmad, Mirza Ghulam. 2017. Al-Masih Di Hindustan cet. ke-IV. Muhammad Ibnu Ilyas (penerjemah). Neratja Press: Bogor.
  • Batuah, Syafi R. 2007. Nabi Isa dari Palestina ke Kashmir. Jemaat Ahmadiyah Indonesia: Bandung.
  • ioanesrakhmat.blogspot.com (blog milik Dr. Iones Rachmat)
  • Injil Yohanes
  • Injil Filipus
  • Injil Maria Magdalena

Sumber Gambar: https://whataboutjesus.com/questioning-god/jesus-christ/

Tentang Penulis

Ammar Ahmad