Satire

Buruh, Kami mah apa atuh?

Hari Buruh - MayDay Buruh, Kami mah apa atuh?

HARI buruh adalah hari dimana banyak orang suka menghakimi kami. Kami dianggap menggangu ketertiban umum, lalu lintas menjadi padat, bising dengan orasi-orasi yang berisi tuntutan abadi, dan satu lagi, sebuah dosa yang seakan selalu dilekatkan pada kami, kami adalah makhluk yang tidak tahu caranya bersyukur.

Katanya, tiap orang butuh piknik, biar hidupnya gak panik. Piknik kaum buruh adalah mayday. Piknik dalam pandangan kami adalah saat kami bisa menyuarakan keluh kesah kami. Kami tak muluk-muluk kok tentang piknik. Gak perlu ke Bali, apalagi ke Pantai Losari. Kami cukup piknik di jalan-jalan kota. Kami sadar, tabungan kami takkan pernah cukup piknik ke tempat-tempat itu. Cukup lah gugel menjadi saksi bahwa Bali dan Pantai Losari itu benar-benar ada.

Okelah, kami mengganggu ketertiban umum, tapi cum sehari loh, dan mayday tahun ini jatuh pada hari minggu. Tak apa, buruh selalu salah. Kami memadati lalu lintas, yah orang piknik juga memadati tempat piknik. Kan sudah dikatakan, piknik kaum buruh ini di jalanan. Kalau perusahaan membiayai kami “mayday-an” di Bali, itu alhmadulillah sekali. Kepadatan yang diciptakan buruh selalu distigmakan negatif, yah kan kaum berdasi?

Kami dianggap bising dengan orasi-orasi yang berisi tuntutan abadi. Yang namanya orasi pasti bising, sebab kami tidak sedang “deal-deal-an” yang butuh kesenyapan. Kami cuma butuh kepastian. Tuntutan kami juga itu-itu aja dari dulu. Kami pun sebenarnya bosan dengan tuntutan yang serupa, tapi minimal itu demi cicilan motor, sewa kontrakan, anak sekolah, jajan anak-bini, dan tentu supaya dapur tetap ngebul. Ingin rasanya menuntut liburan ke Bali atau Pantai Losari, tapi pesan Rasul, ambil yang paling dekat.

Yang paling menyayat hati, kami dianggap makhluk yang susah bersyukur. Astaghfirullah. Kurang bersyukur gimana kami, motor masih nyicil, hidup nomaden dari kontrakan satu ke kontrakan lain, liburan keluarga mentok di Ragunan, utang di warung pas akhir bulan, semua kami syukuri kok. Kami terpaksa caper dengan giat bekerja karena status kontrak, terpaksa lembur saat istri lagi hamil besar, terpaksa ngojek buat jajan anak. Semua terpaksa, sebab itu adalah pilihan terakhir.

Satu hari kami “mayday-an”, kami mau kasih kode kepada mereka yang masih punya hati nurani, kami sudah lelah meng-oknum-kan Tuhan. Kami mau Anda sadar bahwa kami juga punya peran untuk kehidupan Anda. Ancaman tentang PHK dan habis kontrak yang membawa-bawa konsep syukur, hanyalah dalih supaya kami tetap lelap dalam eksploitasi sumber daya manusia.

Kami perlu bersuara tentang ini semua. Tak cukup dengan perang hestek, tak cukup dengan trending topic, tak cukup dengan like dan share. Kami perlu turun ke jalan. Untuk membangunkan mereka yang masih tertidur lelap bahwa kita sedang dieksploitasi. Selama setahun kami bertahan dengan kesyukuran yang entah Tuhan ridho atau tidak, mayday kami minta keadilan.

Kami sadar, kami adalah sekumpulan manusia dengan latar belakang pendidikan yang rata-rata “ancur-ancuran”. Tapi perlu Anda ketahui, kami bukan pengemis atau pengamen yang kadang Anda suka iba melihatnya. Kami adalah bagian dari produksi barang dan jasa. Kami punya peran dalam kehidupan Anda. Apakah peran kami lebih buruk dari pengemis dan pengamen, sehingga Anda lebih iba melihat mereka?

Gara-gara ada teman kami yang pakai motor Ninja saat peringatan mayday, kami pun makin dibully dan dilabeli sebagai makhluk tak tahu diri. Padahal, masih banyak di antara kami yang naik angkot. Berangkat pagi supaya tak terjebak macet. Tak sedikit pula teman-teman kami yang pergi ke pabrik naik motor bebek yang sudah setahun belum ganti oli. Itu cuma perbedaan preferensi berkendaraan. Jangan menyimpulkan kehidupan buruh dari motor yang dia pakai. Itu sangat tidak adil wahai kaum yang bermobil.

Ada teman kami yang selfie pakai iPhone saat mayday. Itupun jadi bahan bully-an. Bukankah itu preferensi hidup yang sangat privat yang tak bisa menjelaskan kehidupan buruh secara utuh. Siapa tahu iPhone tersebut nemu di Toko Bagus dotcom. Bukankah barang-barang begituan bukan lagi sebuah kemewahan di jaman ini? Memang benar, kebencian terhadap kaum buruh sudah sampai di ubun-ubun. Padahal, Al-Qur’ān berkata, “Janganlah kebencian terhadap suatu kaum membuat kamu tidak adil.”

Tapi kami sadar, kami memang makhluk yang rentan untuk disalahkan. Semua yang kami lakukan dianggap salah, meski untuk mencari keadilan. Padahal, setiap manusia punya insting yang sama untuk selalu menuntut keadilan. Cuma untuk buruh, kami tak pantas mendapatkannya. Tidak adil bukan?

Sebagai buruh, kami mah apa atuh? Cuma seutas karet gelang pada bungkus nasi uduk Mpok Nunung. Suatu saat akan di buang. Tapi, cobalah untuk sedikit berpikir. Tanpa karet gelang, langganan Mpok Nunung pun bakalan kecewa. Kalaupun peran kami cuma mentok disitu, tak masalah. Yang penting kami dianggap berperan. Dan pantas mendapat nilai yang setimpal atas peran tersebut.

 

Salam Mayday
Muhammad Nurdin

Tentang Penulis

Muhammad Nurdin

Tinggalkan komentar