Opini

Cadar, Apakah Selalu Identik dengan Radikalisme?

niqab

Mungkin dari antara kita masih teringat dengan peristiwa yang menggemparkan Indonesia, yakni peledakan bom di tiga gereja yang terjadi di Surabaya, Jawa Timur. Kita ketahui pula, bahwa salah satu gereja telah diledakkan oleh satu kelompok yang terdiri dari ibu dan dua orang anak, yang pada saat itu mereka tengah mengenakan .

Dan setelah kejadian itu, banyak sekali yang mengecam aksi tersebut. Di satu sisi, mereka mengatakan bahwa adalah teroris, , yang menghalalkan darah non-Muslim. Di sisi lain, mereka mengatakan bahwa para pelaku bukanlah termasuk dari antara orang-orang Muslim yang hakiki, walaupun pada dasarnya para pelaku tersebut memang orang Muslim.

Dan baru-baru ini, beberapa wanita bercadar menggelar aksi sosial yang bertajuk “Peluk Aku” pada event CFD (Car Free Day) di sekitar Bundaran HI. Aksi tersebut digelar untuk membendung sikap antipati masyarakat terhadap kasus-kasus yang melibatkan Islam, khususnya wanita bercadar. Aksi tersebut mendapat respon positif dari masyarakat, dan tidak sedikit masyarakat yang menyempatkan diri untuk memeluk mereka.

Sekarang permasalahannya adalah apakah orang yang memakai cadar selalu diidentikkan dengan radikalisme?

Sebelum masuk pada bahasan pokok, saya ingin menyampaikan maksud dari cadar itu sendiri. Dalam Al Qur’anul Karim, Allah Ta’ala berfirman:

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka’. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Al Ahzab : 59)

Di tempat lain, Allah Ta’ala juga berfirman:

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung’”. (QS. An Nur : 31)

Dari dua ayat di atas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa cadar merupakan salah satu keutamaan yang dianjurkan bagi setiap wanita Muslim dalam hal berpakaian. Dan salah satu fungsi cadar sendiri adalah untuk menghindarkan diri dari fitnah. Dan fitnah itu sendiri berasal dari kecantikan diri para wanita Muslim. Untuk menutupi fitnah tersebut, maka Allah Ta’ala menurunkan ayat tentang diwajibkannya penggunaan hijab dan cadar.

Dan dari kedua ayat di atas pun sudah jelas bahwa cadar adalah sesuatu yang tidak dapat diidentikkan dengan aksi radikal, karena bertentangan dengan ketentuan aslinya.

Memang, jika kita lihat di beberapa negara Timur Tengah yang tengah terjadi konflik, banyak sekali wanita-wanita bercadar yang diikutsertakan dalam konflik tersebut. Tetapi hal tersebut tidak dapat kita jadikan landasan bahwa wanita bercadar adalah seorang radikalis.

Di satu sisi, dia telah melaksanakan salah satu keutamaan seorang wanita Muslim, yakni bercadar. Tetapi di sisi lain, dia juga ikut dalam aksi radikalisme.

Jika kita meluaskan sudut pandang kita ke seluruh negara-negara Timur Tengah, kita juga akan menjumpai wanita-wanita yang memakai cadar. Demikian halnya di Indonesia sendiri, kita juga dapat menjumpai wanita-wanita bercadar di lingkungan sekitar kita.

Lalu, apakah kita bisa langsung simpulkan bahwa mereka juga termasuk ke dalam golongan radikal? Tidak. Tidak semua wanita bercadar dapat kita kategorikan sebagai radikalis, atau mungkin tidak sama sekali karena pada dasarnya, cadar bukanlah sesuatu yang melambangkan bahwa si pemakainya adalah radikalis. Tetapi itu adalah simbol bahwa si pemakainya adalah wanita Muslim yang terhormat.

Menurut pemikiran saya, wanita-wanita yang bercadar ini awalnya tidak memiliki keinginan atau niat untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran Islam. Tetapi karena pengaruh dari ajaran radikal yang sangat kuat, mereka pun terdoktrin dalam paham radikal.

Dari tulisan ini, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa tidak semua orang bercadar identik dengan aksi radikal. Hanya saja, pemanfaatan cadar itu sendiri disalahgunakan untuk kepentingan yang dapat merusak citra Islam. Oleh karena itu, banyak orang-orang awam yang cepat menyimpulkan bahwa orang bercadar, atau umumnya orang Islam, adalah orang radikal.

Semoga Allah Taala selalu melindungi kita semua dari segala macam fitnah, dan selalu menjaga kita dari segala gangguan yang dapat mencoreng nama baik Islam.

Sumber Gambar: http://www.itv.com/news/2016-01-18/david-cameron-segregation-of-women-in-uk-communities-must-end/

Tentang Penulis

Sandi Ahmad Razi