Opini

Cinta untuk Semua, Kebencian Tidak untuk Siapapun.

cinta untuk semua

Slogan yang sedikit kata-katanya namun menyimpan pesan perdamaian didalamnya. Pesan ini mengajarkan kepada kita bahwa terapkanlah kehidupan yang penuh , bahkan kepada musuh sekalipun.

Inilah solusi untuk yang saat ini sedang mengalami “penyakit“ intoleransi,

radikalisme, dan terorisme. Jika seluruh masyarakat Indonesia menerapkan prinsip ini,

niscaya Indonesia akan menjadi negara yang penuh kedamaian dan keharmonisan di

antara masyarakatnya.

Prinsip “Cinta untuk semua, kebencian tidak untuk siapapun” adalah prinsip yang diajarkan oleh semua agama. Dalam Islam, terdapat 200 perintah dalam Al Quran yang mengajarkan untuk berbuat baik terhadap sesama manusia. Salah satunya adalah memerintahkan kaum Muslimin untuk bekerjasama saling tolong menolong dengan siapapun dalam berbuat kebaikan (QS 5:2). Al Quran juga memerintahkan kita untuk menghadapi keburukan dengan cara yang paling baik, dengan niat menjadikan orang yang melakukan keburukan itu menjadi sahabat kita (QS 41:34). Dalam kristen, kita mengenal ayat Matius 5:44 “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu”.

Sebagai penduduk yang beragama, sudah selayaknya kita menerapkan prinsip “Cinta untuk semua, kebencian tidak untuk siapapun” dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi bagi yang beragama Islam. Setiap Muslim harus menjadi duta perdamaian dan kasih sayang. Bukankah Rasulullah SAW pernah bersabda “Demi Jiwaku yang ada di tangan-Nya, tidak akan masuk surga kecuali orang beriman dan tidak beriman tanpa ada rasa saling kasih sayang, Sebarkanlah perdamaian (HR. Ahmad, dalam kitab Baqi Musnad al-Mukatstsirin, No. 9788, 9332, dan 8722).

Keimanan dalam Islam cukup dibuktikan dengan dua hal. Mirza Ghulam Ahmad, pendiri Islam Ahmadiyah berkata Keimanan terdiri dari dua hal. Pertama adalah bagaimana kalian mencintai dan melayani Tuhan dan yang kedua adalah bagaimana kalian mencintai dan melayani seluruh manusia sepenuh hati kalian, sampai kalian merasakan sakit dan penderitaannya mereka hingga kalian berdoa untuk mereka”.

Melihat ajaran agama yang mulia ini alangkah baiknya apabila kita sebagai menerapkan “Cinta kepada semua, kebencian tidak untuk siapapun”. Kita bisa mulai dengan berhenti membuat status yang menghujat/mengejek siapapun. Berhenti memberikan komentar-komentar yang memicu perselisihan. Jika ingin melancarkan kritik menggunakan bahasa yang menjunjung tinggi sopan santun dan tata krama, bukan bahasa yang provokatif, menyindir, ataupun menghina/mengejek.

Sayangnya, ada sekelompok organisasi yang mengatasnamakan Islam tetapi selalu meneror siapapun yang tidak sepemikiran dengan mereka. Karena merekalah, kedamaian Indonesia terganggu. Mereka adalah kelompok yang tidak menerapkan prinsip “Cinta untuk semua, kebencian tidak untuk siapapun”. Miris rasanya mendengar ada sekelompok anak-anak yang bernyanyi “bunuh Ahok sekarang juga” dengan irama “Menanam Jagung karya Ibu Sud. Ini salah satu contoh akibat dari organisasi semacam ini. Maukah anak atau adik kita ikut bernyanyi?

Saatnya bagi kita yang masih peduli terhadap masa depan kedamaian di Indonesia harus memikirkan cara menghadapi organisasi teror tersebut. Karena itu, ajarkanlah kakak, adik, sepupu, dan saudara-saudara lainnya untuk menghindari organisasi-organisasi semacam ini dan mulai menerapkan prinsip “Cinta untuk semua, kebencian tidak untuk siapapun”.

Berhentilah mengikuti tokoh-tokoh atau organisasi di media sosial yang selalu menyebarkan provokasi untuk “melawan” atau “menumpas” kelompok lain. Tinggalkan kelompok pengajian yang selalu mengajarkan kebencian kepada etnis tertentu. Tinggalkan mereka, niscaya mereka akan hilang dan lenyap karena tidak akan ada organisasi jika tidak ada anggotanya.

Namun, patut diingat bahwa kedamaian adalah hal yang utama. Tetaplah tunjukan kecintaan kita terhadap organisasi seperti mereka. Mata dibalas mata tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Teror jika dibalas dengan teror akan menimbulkan kerugian bagi kedua pihak, yang berujung pada rusaknya persatuan penduduk Indonesia. Daripada membalas dengan kebencian, balaslah ujaran kebencian dengan cinta. Demi terciptanya Indonesia yang damai, adil dan sentosa, prinsip “Cinta untuk semua, kebencian tidak untuk siapapun” adalah solusi yang tepat untuk seluruh masyarakat.

Dalam rangka menyambut Bulan Suci Ramadhan bagi umat Muslim, izinkan penulis memberikan pesan perdamaian dan kasih sayang. “Kalian akan mengenali Tuhan dengan cara mencintai makhluk ciptaanNya. Jika seluruh manusia mengingat dan mempraktikan hal ini niscaya tidak akan ada kebencian diantara manusia, lalu tercapailah kedamaian di dunia” – Hazrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifa ke 5 Jamaah Islam Ahmadiyah. Mudah-mudahan kita, khususnya kaum Muslimin yang menjadi mayoritas penduduk di Indonesia, bisa  menjaga perdamaian dengan memberikan kasih sayang yang seluasluasnya sebagaimana nasihat ketiga tokoh diatas. Salam perdamaian.

Sumber Gambar: http://www.brandrants.com/brandrants/?currentPage=4

Tentang Penulis

Fariz Abdussalam

Tinggalkan komentar