Fiksi

Dalam Doa

“YA Rabb, jika memang Alya yang Kau takdirkan untuk menjadi jodohku, maka tautkan hati kami dan hati keluarga kami. Āmīn.”
Penulis: Lisa Aviatun Nahar; via blog Ala~Lisa, 18 September 2013

Penulis: Lisa Aviatun Nahar (Mahasiswa S2 Universitas Padjadjaran Bandung, Jawa Barat; tinggal di Garut, Jawa Barat)Media: Blog “Ala~Lisa”; URL: http://wp.me/pk4lv-zR

CATATAN: Diilhami dari biografi Ḥaḍrat Khalīfatu′l-Masīḥ IV Mirzā Ṭāhir Aḥmad—raḥmatu′l-Lāhu ‘alaihi (r.h.) di dalam buku karya Ian Adamson, A Man Of God. Tulisan ini telah melewati penyuntingan ulang oleh admin RajaPena.org.


do'a

BRAK! Sebuah buku terjatuh dari meja ketika aku tengah membereskan barang-barangku. Kuambil buku itu dan kulihat ada selembar foto tergeletak di lantai. Foto liburan keluarga bertahun-tahun lalu. Ada aku, para sepupu, dan teman-teman kecilku. Dan ada Alya.

Alya. Sudah lama aku tak bertemu dengannya. Terakhir kali kami bertatap muka ketika kami lulus SMP, sekedar saling mengucapkan “Mubārak!”. Setelah itu jarang sekali aku bertemu dengannya. Apalagi setelah kami beda sekolah ketika SMA.

Tiba-tiba ada rindu menyeruak. Senyum Alya yang lepas. Suaranya yang lembut. Matanya yang bening dan tulus. Dan, candaan-candaan serta pertengkaran yang sering terjadi di antara kami. Kenapa semua itu kini bergemuruh di kepala? Apa kabar dia sekarang?

“Luqman, ayo kita makan,” panggil Ibu.

“Ya, Bu.”

***

SUDAH tiga minggu aku kembali ke London. Sekolah lagi, sekaligus kerja paruh waktu. Dan wajah Alya masih berkelebat di pikiranku. Kenyataan bahwa aku tak bisa menghubunginya secara langsung, membuat bayangan Alya semakin kuat bertahta di pikiranku. Aku semakin gelisah.

“Ya Rabb, jika memang Alya yang Kau takdirkan untuk menjadi jodohku, maka tautkan hati kami dan hati keluarga kami. Āmīn.” Itu saja doaku setiap malam.

Dan entah kenapa, semakin hari bayangan Alya semakin sering berkelebat. Hati semakin mendesakku untuk segera bicara dengan orangtuaku.

Kuputuskan, hari itu kutelepon ayah.

***

“ASSALĀMU‘ALAIKUM…,” jawab Ibu.

“Wa‘alaiKum salām wa raḥmatu′l-Lāhi wa barakātuh. Ibu, ini Luqman,” kataku.

“Luqman? Luqman sehat? Ada apa? Rindu pada Ibu?” tanya Ibu.

Ah, Ibu selalu membuatku rindu. Bagaimana mungkin aku tak merindukan suara Ibu yang lembut dan memanjakan?

“Ya, Bu. Alḥamdu li′l-Lāh, Luqman sehat. Luqman juga rindu Ibu, Ayah, dan rumah. Ibu sedang apa? Ayah sedang apa?” tanyaku.

“Ayah sedang di kantornya. Ibu hari ini masak kari kesukaan Luqman. Luqman sudah makan, Nak?” tanya Ibu.

Ah, kari. Kari buatan Ibu adalah masakan terenak yang pernah aku makan seumur hidupku.

“Luqman sudah makan kok, Bu. Bu, Luqman ingin bicara dengan Ayah,” kataku.

“Oke. Tunggu sebentar ya.”

Beberapa detik kemudian, suara Ayah yang berat dan dalam menyapa.

“Luqman? Sehat?” tanya Ayah.

“Alḥamdu li′l-Lāh. Luqman sehat, Ayah. Ayah apa kabar?”

“Alḥamdu li′l-Lāh. Ayah sehat. Kata Ibu, Luqman ingin bicara sama Ayah?” tanya Ayah lagi.

“Ya, Ayah. Luqman ingin bicara sesuatu.”

“Ada apa, Nak?”

“Ayah, Luqman memikirkan Alya.”

“Alya?”

“Ya, Ayah. Luqman memikirkan Alya. Apakah Ayah mau melakukan sesuatu untuk Luqman?”

“Luqman ingin Ayah lamarkan Alya untuk Luqman?” tanya Ayah.

“Ya, Ayah. Luqman harap Ayah mau melamarkan Alya untuk Luqman. Luqman sudah pikirkan masak-masak. Luqman juga tak lepas dari . Dan, hati Luqman kian mantap untuk memperistri Alya, Ayah!” kataku mempertegas permintaanku.

Ayah diam sejenak. “Ya, Nak. Insyā’ Allāh, Ayah dan Ibu akan datang ke rumah Alya minggu ini untuk menjajagi perjodohan kalian. Luqman tetap berdoa ya?”

“Jadi, Ayah dan Ibu setuju dengan pilihan Luqman?”

“Tentu saja. Alya gadis yang baik dan soleḥah. Ibumu mendengarkan teleponmu. Wajahnya sumringah mendengar Luqman memilih Alya,” jawab Ayah.

“Alḥamdu li′l-Lāh. Terima kasih ‘Yah, ‘Bu. Segera kabari Luqman, ya ‘Yah?”

“Insyā’ Allāh.”

***

HARI ini, Ayah dan Ibu ke rumah Alya. Jantungku berdegup kencang, gelisah menunggu kabar dari Ayah. Ya Rabb, semoga hatiku tidak salah.

Telepon yang kutunggu-tunggu pun berdering. Segera kuangkat tanpa menunggu dering kedua.

“Assalāmu‘alaiKum…!”

“Wa‘alaikum salām wa raḥmatu′l-Lāh wa barakātuh. Luqman?” Suara Ayah!

“Ya, Ayah. Bagaimana?” tanyaku tak sabar.

“Alḥamdu li′l-Lāh. Alya dan keluarganya menerima lamaran kita dengan senang hati,” jawab Ayah ceria.

“Alḥamdu li′l-Lāh…!” aku bahagia sekali mendengar kabar ini.

“Persiapkan diri, Nak! Akhir bulan depan, kau sudah menjadi suami.” Kata Ibu sambil tertawa renyah.

Dan, aku tak bisa berhenti tersenyum sepanjang hari.[]

Tentang Penulis

Lisa Aviatun Nahar