Opini

Damai Pasti Atau Damai Mimpi ?

damai indonesia

Tak terasa Tujuh Puluh Dua tahun Indonesia merdeka telah berlalu beberapa minggu. Masih terngiang bahkan rasanya suara-suara gemerlap gelora warga bangsa meneriakan kata merdeka. Dari yang masih belia hingga kakek tua renta. Berbagai lomba digelar dalam satu hari disaksikan dan diiringi variasi suara minor dan mayor para penonton. Namun, ini bukan soal merdeka atau sekedar nyanyian lagu Indonesia Raya. Ini soal keadilan, suara rakyat minor di antara seribu keberagamaan budaya dan agama di Indonesia.

Pasti atau Mimpi

Kata “Damai” seringkali diartikan keliru oleh kebanyakan orang di negara tercinta ini misalnya, masih banyak kepercayaan kaum minoritas yang ditindas oleh kekejian kaum lain yang merasa diri mereka mendominasi dan paling benar sendiri. Sebut saja salah satu komunitas tertua di indonesia, Jemaat , penyerangan demi penyerangan digencarkan kepada komunitas muslim yang satu ini. Banyak jiwa tak berdosa dari mereka yang telah sahid menjadi korban pembantaian, Al-Quran dibakar, masjid-masjid dirobohkan, seakan sudah tidak memiliki lagi rasa kemanusiaan dan toleransi. Mirisnya lagi, kelompok yang membantai adalah dari kelompok muslim sendiri.

Tidak berhenti di satu daerah saja, seperti telah direncanakan, penyerangan merata dari barat ke timur. Pemerintah pun seakan tutup mata melihat kenyataan ini, polemik dunia politik dan berbagai kasus-kasus di kalangan dewan seakan telah memenuhi isi kepala mereka hingga akhirnya menutup mata dari persoalan rakyat. Padahal jelas dalam UUD 1945 pasal 28H ayat 1 dan 2 tentang HAM yang berbunyi:

“Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan” – Pasal 28 H ayat 1

“Setiap orang berhak mendapatkan kemudahan dan perlakuan khusus untuk memperoleh kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai persamaan dan keadilan.” – Pasal 28 H ayat 2 (http://www.kompasiana.com, 2014)[1]

Dalam ayat-ayat tersebut jelas bahwasanya setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk dilindungi oleh pemerintah. Tidak peduli ras, suku maupun agama mereka. Mestinya hal seperti penyerangan-penyerangan terhadap kaum minoritas seperti Jamaah Muslim Ahmadiyah ini tidak perlu terjadi. Apa yang mereka yakini diakui oleh undang-undang dan semestinya turut dilindungi

HAM perlu lebih ditegakkan di negara ini, para pemimpin daerah harus ikut unjuk diri turun sebagai pemersatu dan penengah yang adil. Itulah peran dari Ulil Amri (Pemerintah) yang sebenarnya, bukan sekedar menduduki tahta dan memerintah rakyat kecil saja. Dan jika memang benar bahwa permasalahan terjadi karena antar sesama muslim saling adalah sebenarnya mencari kebenaran, maka kata-kata dari orang yang mereka tunjuk sebagai pemimpin mereka adalah yang paling harus mereka taati. Seperti dalam Al-Quran surat An-Nisa : 59, yang berbunyi:

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya), dan Ulil Amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.[2]

DAMAI,  bukanlah sebuah kepastian. TIDAK ADA Damai yang PASTI. Damai juga bukan sebuah angan-angan atau MIMPI saja karena selama satu sama lain saling bahu membahu menjaga bersama dalam perbedaan. Maka kedamaian masih dapat diraih. Uraian panjang di atas hanyalah salah satu bentuk general dari konflik-konflik negara dalam memperjuangkan kata ‘damai’.

Perlu proses yang entah berapa lama untuk mengubah satu juta paradigma rakyat indonesia agar perdamaian yang di damba-dambakan dapat tercipta. Bahkan mungkin perlu ribuan penderitaan dan korban lagi yang berjatuhan hingga masyarakat memahami dan menerima perbedaan itu dan mau hidup berdampingan dalam kerukunan. Tidak ada yang pasti di dunia ini, tidak ada yang dapat menolak ketidak pastian itu, namun selama manusia mau untuk berubah maka tidak ada yang tidak mungkin. al`amru bil-ma’ruf wannahyu’anil-mun’kar.

Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (Luqman 17) [3]

Sumber:

http://www.kompasiana.com/danzer/uud-1945-pasal-28h-ayat-1-dan-2-harus-lebih-dinyatakan-dibuktikan_54f98108a333112b058b50f3

https://id.wikipedia.org/wiki/Amar_ma%27ruf_nahi_munkar

https://islamkajian.wordpress.com/2014/01/15/makna-taat-pada-ulil-amri-dalam-qs-an-nisa-59/

footnote

[1] Dikutip dari www.kompasiana .com “UUD 1945 pasal 28H ayat 1 dan 2 harus lebih dinyatakan/dibuktikan” oleh Muhammad Dhani Arifta (2014) diakses pada 17 september 2017

[2] Islamkajian.wordpress.com tentang “Makna Taat Pada Ulil Amri dalam QS. An-Nisa : 59.

[3] Dari Wikipedia bahasa indonesia “Amar Makruf dan Nahi Mungkar” (2016) di akses pada 17 september 2017

Sumber Gambar: http://taufiqurokhman.com/lebih-baik-seragam-anak-dibanding-baju-lebaran/

Tentang Penulis

Bayu Ghulam Ahmad Baihaqi

Tinggalkan komentar