Opini

Damainya Islam Versi Ahmadiyah

muslim

bersumber pada kedua hal, Al Quran dan Nabi Muhammad SAW. Anehnya, dari dua sumber ini bisa muncul berbagai macam pemahaman atau aliran di dalam tubuh . Secara umum ormas terpecah menjadi dua, dan yang ekstrimis. Contoh ekstrimis adalah ISIS atau Boko Haram, sedangkan contoh damai adalah NU, Muhamadiyah dan Ahmadiyah. Seluruh aksi terorisme yang mengatasnamakan sebenarnya bersumber pada teologi kebenaran tunggal. Teologi kebenaran tunggal ini selalu mengobarkan perang terhadap siapapun yang bertentangan dengan mereka. Kabarnya, pemahaman radikal ini sudah mulai menyusupi Indonesia. Sulit rasanya membayangkan apabila ormas sekaliber Muhammadiyah dan NU bisa terpengaruh ajaran terorisme. Professor Ahmad Syafii Maarif pun mengingatkan,“Jika benteng pertahanan Muhammadiyah dan NU sampai bobol dimasuki oleh teologi kebenaran tunggal ini, maka Indonesia sebagai bangsa terbesar di muka bumi akan berubah menjadi ladang pertumpahan darah, dan di ujungnya negeri ini akan masuk museum sejarah karena eksistensinya telah dibinasakan oleh anak-anaknya sendiri yang tergiur oleh “misguided Arabism” (Arabisme yang kesasar jalan) dalam bentuk radikalisme dan terorisme itu” [1].

Sebaliknya, aliran Islam damai adalah ajaran Islam yang murni mengajarkan cinta kepada semua dan kebencian tidak terhadap siapapun. Selain NU dan Muhammadiyah, ada lagi ormas Islam damai bernama Ahmadiyah. Kalimat “cinta kepada semua dan kebencian tidak terhadap siapapun” adalah slogan Ahmadiyah. Jika mempelajari pemahaman Ahmadiyah, siapapun akan yakin bahwasanya Ahmadiyah adalah salah satu contoh aliran Islam yang damai.

Setiap orang yang ingin masuk ke dalam Ahmadiyah harus berkomitmen untuk melaksanakan sepuluh janji. Secara umum, sepuluh janji Ahmadiyah ini adalah bentuk pelayanan seorang Muslim terhadap Allah Ta’ala dan sesama umat manusia. Komitmen seluruh anggota Ahmadiyah untuk menyebarkan Islam secara damai dapat terlihat pada janjinya untuk melayani umat manusia yang terdapat pada janji ke 4,6,7, dan 9, yakni:

Janji ke 4 . Tidak akan mendatangkan kesusahan apapun yang tidak pada tempatnya. Terhadap mahkluk Allah umumnya, khususnya kaum muslimin.

Janji ke 6 . Akan berhenti dari adab yang buruk, dan hawa nafsu, serta benar-benar menjunjung tinggi perintah Al Quran suci di atas dirinya. Firman Allah Taala dan sabda Rasulnya itu akan menjadi pedoman dalam setiap langkahnya.

Janji ke 7 . Meninggalkan takabur dan sombong. Akan hidup dengan merendahkan diri, beradab lemah lembut, berbudi pekerti yang halus, dan sopan santun.

Janji ke 9 . Akan selamanya menaruh belas kasihan terhadap makhluk Allah umumnya dan akan sejauh mungkin mendatangkan faedah kepada umat manusia dengan kekuatan dan nikmat yang dianugerahkan Allah Taala kepadannya.

Saking damainya, hanya Ahmadiyah yang beranggapan bahwa perang senjata atas nama agama tidak akan diperlukan lagi. Ahmadiyah memahami bahwasanya Nabi Muhammad SAW melakukan perang adalah untuk mempertahankan diri membela kebebasan beragama untuk memeluk Islam. Itupun karena keadaan terdesak, ketika jika tidak berperang untuk mempertahankan diri maka Islam akan musnah.

Perlu diingat, selama 13 tahun Nabi Muhammad saw dan umatnya mengalami penzaliman oleh kaum non muslim radikal yang tidak ingin Islam berkembang di kota Mekkah. Namun, apakah izin perang dari Allah Ta’ala turun pada masa ini? Tidak, sama sekali tidak. Karena Islam tidak akan musnah hanya karena penindasan atau penzaliman. Tentu saja para umat Muslim sudah siap mati untuk melawan. Khalifah Ahmadiyah Mirza Masroor Ahmad lebih jauh menjelaskan:

”Kita akan menemukan bahwa pada periode awal Islam, banyak Muslim yang disiksa dengan kejam dan brutal, dianiaya dan ditindas karena keimanan mereka oleh orang-orang kafir. Pria, wanita dan anak-anak semua menderita kekejaman mengerikan tersebut. Sebagai contoh beberapa Muslim sampai dibaringkan di atas bara panas, sementara yang lain dibaringkan diatas pasir yang terik dan batu ditindihkan diatas mereka. Kemudian terdapat beberapa Muslim sampai kakinya terkoyak, sehingga persis tubuh mereka menjadi dua bagian. Selama dua setengah tahun Nabi Muhammad saw beserta keluarga dan semua sahabat beliau terpaksa bertahan di lembah, dimana mereka diboikot dan dijauhi dari masyarakat, sehingga mereka tidak memiliki akses untuk makanan, minum dan perbekalan lainnya. Selama berhari-hari mereka tetap dalam kelaparan dan kehausan. Anak-anak Muslim tanpa henti menangis dalam penderitaan dan putus asa. Tapi tetap saja orang-orang kafir tidak menunjukkan belas kasihan dan kasih sayang apapun. Dalam menanggung kekejaman dan pembatasan-pembatasan tersebut, umat Islam terkadang meminta izin kepada Nabi Muhammad saw untuk melawan dan membela diri dengan kekuatan mereka, namun pada setiap kesempaan Nabi Muhammad saw menolak setiap permintaan tersebut, dan sebagai gantinya beliau memberi nasihat supaya terus bersabar.”[2]

Banyak dari umat Muslim yang hijrah dari Mekkah. Puncak dari penindasan ini adalah rencana pembunuhan Nabi Muhammad saw oleh kaum non muslim radikal yang menyebabkan beliau saw berhijrah dari Mekkah ke Madinah. Sekali lagi, izin perang tidak juga turun karena Islam masih bisa bertahan walau dengan penindasan yang begitu hebatnya.

Mungkin memang sudah takdir, kaum non muslim radikal tetap saja ingin mengejar dan menghabisi Islam sampai ke akar-akarnya dan untuk selamanya. Mereka mengumpulkan 3000 pasukan dengan persenjataan modern untuk menyerang Madinah dan menghabisi nyawa Nabi Muhammad saw. Sebagai perbandingan, saat itu umat Muslim yang siap perang hanya berjumlah sekitar 300 orang dan dengan persenjataan yang terbatas. Nah, pembaca bisa membayangkan apa yang terjadi bila umat Muslim tidak bertahan dari dari serangan 3000 pasukan kaum non Muslim radikal? Islam akan musnah tak bersisa. Karena itulah izin perang turun kepada Nabi Muhammad saw yang disebutkan di surat Al Hajj:40-41. “Diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka dizalimi. Dan sungguh, Allah Mahakuasa menolong mereka itu”.

Sesungguhnya, umat Muslim hanyalah ingin merasakan kebebasan beragama untuk memeluk dan menyebarkan ajaran Islam dengan damai. Karena itu Allah Ta’ala mengingatkan pada surat Al Anfaal ayat 62 “Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allahlah yang Maha-mendengar lagi Maha-mengetahui”. Dan juga pada Al Baqarah ayat 194 “Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah[3] lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim”

Ahmadiyah juga memahami bahwasanya Islam tidak perlu disebarkan lewat kekerasan, pemaksaan, apalagi lewat senjata dan perang. Hal ini sesuai dengan surat Al Baqarah 257 “Tidak ada paksaan dalam beragama. Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.” Sebaliknya, cara Ahmadiyah menyebarkan Islam adalah dengan membuktikan keunggulan Al Quran dan Nabi Muhammad SAW dibanding agama lain. Hal ini juga sesuai dengan surat Al Furqon ayat 53: “Maka janganlah engkau mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al-Qur’an, dengan jihad yang besar”.

Jihad dengan Al Quran adalah hal yang selalu dilakukan oleh Mirza Ghulam Ahmad, yang dipercayai para Ahmadi (anggota Ahmadiyah) sebagai Imam Mahdi dan juga pendiri Ahmadiyah. Beliau mendedikasikan seluruh hidupnya hanya untuk berjihad menyebarkan keunggulan Islam kepada seluruh masyarakat India dengan menulis buku hampir 80 buku yang membahas keunggulan Islam dibanding agama lainnnya. Hingga kini, para murid Mirza Ghulam Ahmad sudah tercatat berada di 210 negara dan memiliki misi yang sama, menyebarkan Islam yang damai, rahmatin-lil-alamin.

Referensi/Catatan

[1]http://www.republika.co.id/berita/kolom/resonansi/17/07/24/otlijo319-desa-tenggulun-terorisme-dan-bnpt-i

[2]

https://1artikelislam.blogspot.com.au/2013/01/jika-islam-damai-mengapa-ada-perang.html

[3]fitnah dalam bahasa arab berarti kekacauan atau mara bahaya. Dalam konteks perang maka dapat diartikan “kondisi dimana jika diam bertahan tidak membalas serangan maka umat akan hancur”.

[4] https://id.wikipedia.org/wiki/Penyerangan_Cikeusik , dan ini hanya satu dari sekian banyak penindasan yang dialami Ahmadiyah di Indonesia

Sumber Gambar: https://id.pinterest.com/pin/402861129153216027/

Tentang Penulis

Fariz Abdussalam