Akhlaq Faḍi'l-Lāh

Tentang Slogan “Love for All, Hatred for None” | Dapatkah teologi Cinta Membebaskan Benci?

BENARKAH teologi cinta ini dapat membebaskan benci? Ini adalah dua topik bahasan yang berbeda.

cinta diyakini sebagai yang diajarkan oleh berbagai agama dan keyakinan. Agama-agama yang mengklaim bahwa ajarannya datang dari Tuhan akan menempatkan cinta dan sebagai teologi utamanya.

Sebagaimana di dalam Bible, Yesus Kristus a.s. dengan ajaran kasihnya bersabda, “But I say unto you, love your enemies, bless them that curse you, do good to them that hate you, and pray for them which despitefully use you, and persecute you”—yakni, “Akan tetapi aku katakan kepadamu, cintailah musuh-musuhmu, berkatilah mereka yang mengutukmu, berbuatlah baik kepada mereka yang membencimu, dan berdoalah untuk mereka meskipun mereka memanfaatkanmu dan mempersekusimu.”

Kemudian di dalam , terdapat teologi cinta yang menyebutkan, “The wise man beholds all beings in the Self, and the Self in all beings; for that reason he does not hate anyone”—yakni, “Orang melihat segala wujud dalam dirinya, dan dirinya dalam segala wujud; untuk alasan itulah dia tidak membenci siapapun.”

Ataupun di dalam , a.s., dengan teologi cintanya bersabda, “Sebab di dunia ini, kebencian tidak pernah dipadamkan oleh kebencian… Hanya cinta-kasih yang dapat memadamkan kebencian… Inilah Hukum yang abadi.”

Nabi Muhammad saw. dalam sebuah pernah bersabda, “Kalian tidak akan masuk surga sebelum beriman, dan kalian tidak akan beriman sebelum saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kepada kalian suatu amalan yang mebuat kalian saling mencintai? Yakni, sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR Muslim)

Demikianlah beberapa kutipan yang menunjukkan keuniversalan teologi cinta. Namun, benarkah teologi cinta ini dapat membebaskan benci? Ini adalah dua topik bahasan yang berbeda. Berbicara tentang teologi cinta yang merupakan ajaran mulia dari Tuhan itu sendiri berarti membicarakan mengenai ‘encouragement’ ataupun ‘admonition’ yaitu dorongan maupun nasehat dari Tuhan kepada hambanya untuk diaktualisasikan dalam kehidupannya. Selama belum teraktualisasi dengan baik maka teologi hanyalah sebuah teori saja. Sedangkan pembuktiannya membutuhkan amalan nyata.

Untuk itulah teologi cinta dalam tataran praksisnyalah yang akan menghasilkan pembebasan benci itu sendiri. Nabi-nabi Tuhan ataupun orang-orang suci di masanya dapat dijadikan role model bahwa teologi cinta ini ‘in line’ dengan amalan nyata mereka. Sebagai contohnya, lihatlah Yesus Kristus dengan segala persekusi yang dialaminya, tidak membuatnya membenci musuhnya bahkan semakin mengasihi mereka.

Ataupun Nabi Muhammad saw. yang dengan kesabaran yang luar biasa terus mendoakan mereka yang mempersekusi beliau dan umat Islam dalam doanya, “Allāhumma-hdī qaumī fa innahum lā ya‘lamūn”—“Ya Allāh, tunjukilah umatku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui apa yang telah mereka perbuat.”

Dalam tulisan ini, penulis tertarik untuk membahas slogan “Love for All, Hatred for None” yang dikampanyekan secara massif oleh komunitas Ahmadiyah. Komunitas yang cukup progresif di negara-negara Eropa namun mengalami diskriminasi dan persekusi yang berat di negara-negara Islam maupun yang mayoritas penduduknya adalah Muslim seperti Pakistan, Bangladesh, Malaysia, termasuk di Indonesia.

Terciptanya slogan ini bermula pada saat Khalifah Jamaah Ahmadiyah, Ḥaḍrat Mirza Nasir Ahmad meresmikan Masjid Basharat di Spanyol pada tanggal 10 September 1980 yang merupakan masjid pertama yang dibangun setelah keruntuhan Islam di Spayol. Pada saat meresmikan penggunaan masjid tersebut, Ḥaḍrat Mirza Nasir Ahmad memperkenalkan slogan “Love for All, Hatred for None” kepada dunia.

Lalu apa yang sebenarnya melatarbelakangi munculnya slogan tersebut? Sebenarnya background peristiwa ini sangat menarik untuk dikaji. Tahun 1974 adalah tahun bencana bagi komunitas Ahmadiyah setelah Perdana Menteri Zulfikar Ali Bhutto secara resmi me-launching ‘Ordinance XX’ yaitu keputusan Pemerintah Pakistan yang mengumumkan bahwa komunitas Ahmadiyah adalah non muslim. Sebagai konsekuensinya mereka tidak berhak untuk menjalankan ibadah mereka selayaknya muslim, seperti melarang membaca Al-Qur’ān, mengucapkan syahadat, nama Allāh, menyebut tempat ibadah dengan sebutan masjid, dan lain-lain.

Dikeluarkannya ordonansi ini memicu aksi persekusi besar-besaran terhadap komunitas Ahmadiyah di Pakistan yang berjumlah jutaan pada waktu itu. Jumlah yang cukup besar namun tetap menjadi minoritas di Pakistan. Alhasil sebagai akibat dari ‘anti-Ahmadiyya riots’ tersebut terjadi pembunuhan massal terhadap komunitasnya, 13 masjid dibakar, 20 masjid dibongkar, 25 masjid disegel oleh pemerintah, 14 masjid diambil alih dengan paksa oleh massa, 35 masjid dihentikan pembangunannya.

Namun untuk merespon sederet aksi persekusi yang dialami oleh komunitas Ahmadiyah di Pakistan ini, Khalifahnya yaitu Ḥaḍrat Mirza Nasir Ahmad justru me-launching slogan “Love for All, Hatred for None” yang hingga saat ini menjadi trademark bagi Ahmadiyah. Slogan inilah yang menjadi spirit dalam setiap kampanye yang dilakukan Ahmadiyah secara global.

Mengutip pidatonya saat launching slogan tersebut, “Islam mengajarkan kepada kita untuk hidup dengan kasih sayang dan kerendahan hati. Makna dari Islam adalah damai, dan untuk mewujudkannya seorang muslim harus memiliki sifat cinta dan kasih sayang. Kemudian, untuk menciptakan sikap rendah hati, seseorang harus meniadakan kebencian terlebih dahulu dalam hatinya. Jadi, cinta untuk semua juga harus dibarengi dengan meniadakan benci bagi siapapun. Disinilah pengejawantahan dari sifat Allāh Ta‘ālā yang Ar-Raḥmān dan .”

Sebenarnya, tak mudah untuk bisa menjadikan untaian kalimat itu sebagai slogan ataupun motto hidup bagi para pengikut Ahmadiyah. Mengikuti sejarah perkembangan komunitas Ahmadiyah yang tak pernah lepas dari persekusi, tindakan aniaya, diskriminasi dan tindakan lainnya, merupakan tantangan tersendiri bagi para pengikut Ahmadiyah untuk menjadikan kalimat tersebut sebagai motto hidup.

Bagaimana mereka harus meniadakan kebencian terhadap orang-orang yang telah menganiaya mereka, merampas hak hidup mereka, menghancurkan harta benda dan properti mereka ditambah merekapun harus tetap mencintai orang-orang yang melakukan segala tindak kezaliman tersebut.

Sekali lagi teologi cinta ini akan menjadi bukan hanya sekedar teori bila dalam tataran praksisnya dapat diamalkan secara nyata.

_
Ada di Qureta.com

 

Tentang Penulis

Muhammad Idris