Opini

Di Balik Narasi Damai dalam Perbedaan [Bagian II]

Damai

(Sebuah Kisah dari Gadis Pencari di Balik Konflik dan Kekerasan atas Jemaat yang Tak Kunjung Usai)

Oleh Anggota Jemaat Ahmadiyah Indonesia, Mahasiswa Fakultas Psikologi dan Kesehatan UIN Walisongo

Menyikapi dengan Bijaksana

Dari berbagai macam tindakan hingga menimbulkan konflik berkepanjangan yang dialami oleh , Sapta Darma, dan kelompok minoritas lain dipicu oleh adanya perbedaan yang tidak disikapi secara bijaksana. Hal itu terjadi akibat faktor ketidaksepahaman dan ketidakpahaman seseorang akan esensi sebuah perbedaan. Kita tahu bahwa segala sesuatu memiliki dua sisi yang berlainan, begitu pula perbedaan itu sendiri. Ketika seseorang memandang perbedaan sebagai sebuah rahmat, maka hidup akan lebih berwarna.

Berbeda ketika seseorang memandang perbedaan sebagai petaka, pemahaman ini jelas menimbulkan konflik. Penyebabnya, manusia lebih mengedepankan ego ketimbang akal sehat. Emosi datang dan memuncak ketika ada hal sensitif yang menyinggungnya hingga menimbulkan kebencian, kekerasan, dan konflik berkepanjangan. Akibatnya, pasti ada korban dari peristiwa tersebut.

Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) tidak hanya menjadi salah satu korbannya. Sudah tak terhitung lagi ujaran kebencian, diskriminasi, bahkan persekusi yang dihadiahkan kepada JAI, Gafatar, Syiah, Sapta Darma, dan aliran kepercayaan lain. Sasarannya tidak hanya orang dewasa, anak-anak pun turut menjadi korban. Masih segar dalam ingatan kita kasus pembakaran rumah-rumah JAI di Lombok. Akibatnya, para anggota JAI Lombok terpaksa tinggal di transito yang tak layak huni. Begitu juga kasus Gafatar yang oleh pemerintah sendiri rumah mereka di Kalimantan dibakar dan mereka dipaksa dipulangkan ke kampung halamannya masing-masing. Selain itu, banyak pula kasus penyegelan dan perusakan rumah ibadah yang terjadi di berbagai daerah. Masalah ini merupakan kegelisahan bersama yang harus segera diselesaikan.

Bermula dari Sebuah Fatwa

Hipotesis saya, kebencian masyarakat kepada anggota JAI bermula dari fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), yang menyatakan bahwa Ahmadiyah sesat dan menodai agama pada tahun 2005 lalu. Fatwa itu diperkuat dengan Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri, di dalamnya mengatur apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh anggota JAI.

Dalam sistem hierarki sosial yang dicetuskan oleh Jim Sidanius dan Felicia Pratto (2004) mengatakan bahwa kebijakan publik biasanya memberi keuntungan dan keunggulan bagi kelompok mayoritas. Kelompok tersebut akan mempertahankan hegemoninya terhadap kelompok minoritas melalui sebuah mitos yang sah. Sementara kelompok mayoritas tidak akan menerima apapun.

Semua itu terbukti pasca terbitnya fatwa MUI, masyarakat selalu berpikiran negatif tentang JAI. Saya menemui banyak ujaran kebencian tentang JAI di Facebook, bahkan ada yang tak segan menyerukan “usir saja Ahmadiyah”. Tetangga kami pun tidak mau menerima makanan syukuran dari kelahiran bayi anggota Ahmadiyah maupun daging kurban yang kami bagikan. Kami dicap sesat dan menyesatkan.

Fatwa tersebut menimbulkan prasangka agama yang memberikan status suci terhadap kekerasan yang dilakukan masyarakat terhadap anggota JAI. Akibatnya prasangka akan menjalin korelasi positif dengan agama. Di sisi lain saya meyakini bahwa prasangka tersebut tidak semata timbul dari ajaran agama, melainkan karena wawasan sempit dari para penganutnya, (Ichsan Malik, Resolusi Konflik, Jembatan Perdamaian).

Prasangka agama tersebut membuat para pembenci Ahmadiyah menebar ujaran kebencian dimana-mana, baik di media sosial maupun di lingkungan masyarakat secara langsung.Dengan berapi-api mereka menyalakan sumbu kebencian, menebar benih benci pada kami melalui anak-anak mereka, menilai kami sesat, mengintimidasi, merusak tempat ibadah, dan selalu menyudutkan kami.

Mereka yang membenci JAI merasa menjadi kelompok yang memiliki identitas sosial yang kuat. Dalam analisis seorang psikolog sosial, Henri Tajfel dan John Turner (2003) kelompok yang merasa memiliki identitas kuat akan mengklasifikasikan orang-orang di sekitarnya menjadi orang dalam (In Group) dan orang luar (Out Group). Kelompok tersebut lebih mengutamakan prasangka, stereotip, dan sikap negatif. Menganggap orang lain di luar kelompoknya sebagai musuh yang harus diperangi.

Perlakuan sebagai Out Group pernah diterima ayah dalam sebuah forum pembahasan pendirian masjid Ahmadiyah yang berlangsung di kantor kecamatan. Ayah sebagai perwakilan JAI tidak diberi kesempatan berbicara. Ayah telah berkali-kali mengacungkan tangan, namun tidak digubris dan tetap tidak diberi kesempatan berbicara. Lucunya di sana pun hadir perwakilan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kendal, dan para perangkat desa maupun kecamatan yang katanya peduli dengan nasib JAI.

Begitu juga ketika ayah melaporkan perlakuan intimidatif oleh Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) kepada Bupati Kendal melalui surat. Apa balasan yang kami terima? Bupati mengatakan bahwa apa yang dilakukan Kepala Satpol PP bukanlah intimidasi, melainkan hanya sebuah bentuk perdebatan sengit. Mungkinkah pemerintah ikut mendukung persekusi terhadap anggota JAI?

Pesan Damai Agama dan Kebenaran Relatif

Mengapa seseorang bisa melakukan kekerasan atas nama agama terhadap orang lain yang berbeda keimanan? Bukankah agama menjadi sumber perdamaian? Menurut Darius Dubut dalam buku Merayakan Kebebasan Beragama, agama-agama mempunyai dua wajah. Wajah perdamaian sekaligus wajah kekerasan.

Wajah damai sebuah agama hadir ketika para penganutnya meyakini bahwa agama memiliki misi untuk memperjuangkan keutuhan harkat dan martabat manusia. Bersedia bekerja sama dengan umat agama lain untuk membangun kebaikan bagi semua. Sebab, itulah hakikat agama. Sementara wajah kekerasan sebuah agama muncul ketika para penganutnya mengklaim bahwa agamanyalah yang mutlak benar. Sedangkan agama lain dicap sesat.

Berbicara tentang kebenaran dalam sebuah agama, bukankah hanya Tuhan yang Maha Benar? Maka siapapun atau agama apapun tidak berhak mengklaim bahwa ajarannyalah yang paling benar. Ketika hal itu terjadi maka tindakan itu adalah sebuah bentuk kemusyrikan. Jika Tuhan adalah yang Maha Benar, maka kebenaran-kebenaran yang ada pada setiap agama dan keyakinan bersifat relatif.

Itu sebabnya tidak boleh ada siapapun atau agama apapun yang berhak mengatasnamakan Tuhan lalu menghukum orang lain yang berbeda keyakinan. Pada tingkat inilah sebenarnya agama menjadi berhala. Agama berbeda dengan Tuhan, agama tidak bisa bahkan tidak boleh menjadi Tuhan.Hanya Tuhanlah yang benar, dan Dialah satu-satunya pemilik kebenaran sejati.

Hakikat beragama ialah melaksanakan kehendak dan perintah Tuhan untuk berjuang dalam kebaikan, menjadikan dunia ini sebuah rumah nyaman dan menyenangkan untuk semua orang. Inilah ruh dari setiap agama, tidak semata mengedepankan bungkus, baju, atau simbol-simbol kultural.

Agama menjadi jalan, cara beribadah dan berbakti kepada Tuhan, yang dihadirkan Tuhan kepada manusia yang hidup dalam konteks sejarah ruang dan waktu yang berbeda-beda. Itu sebabnya tidak pernah ada agama yang sama. Perbedaan itu disatukan oleh nilai-nilai universal yaitu cinta kasih, perdamaian, keadilan, dan kemanusiaan. Nilai-nilai inilah yang memungkinkan terciptanya sebuah harmoni dan kedamaian antarumat beragama.

Artikel ini menjadi Juara III dalam lomba Essay “ Write A piece for peace” dan telah dibukukan oleh PUSAD Paramadina.

Sumber Gambar: http://www.firstlutheranpo.com/photo-1451471016731-e963a8588be8/

Tentang Penulis

Hajar Ummu Fatikh