Opini

Di Balik Narasi Damai dalam Perbedaan [Bagian I]

Toleransi

(Sebuah Kisah dari Gadis Pencari di Balik Konflik dan Kekerasan atas Jemaat yang Tak Kunjung Usai)

Oleh Anggota Jemaat Ahmadiyah Indonesia, Mahasiswa Fakultas Psikologi dan Kesehatan UIN Walisongo

Siapa yang tahu dan bisa memilih akan dilahirkan menjadi mayoritas atau minoritas ? Yang saya tahu sejak saat saya sudah mulai mengerti tentang keyakinan orangtua saya soal agama, saya adalah anak dari orang penganut Ahmadiyah. Saya Hajar Ummu Fatikh, saya Ahmadiyah yang dilabeli sesat di negara berbhinneka tunggal ika tempat saya dilahirkan ini.

Saat itu saya duduk di kelas tiga SD, saya melihat segerombolan orang berkumpul di balai desa. Mereka menenteng spanduk bertuliskan “Ahmadiyah Sesat”. Berbagai macam umpatan keluar dari mulut mereka sambil berteriak penuh amarah memprotes keberadaan kami, Jemaat Ahmadiyah Indonesia (). Saya masih sangat hafal apa yang terjadi saat itu.

Beberapa hari sebelum kejadian itu, ayah mengusulkan kepada kepala desa untuk berdialog dengan masyarakat tentang keberadaan JAI di desa. Usulan itu diterima, kemudian ayah mengajak mubaligh serta beberapa pengurus JAI lainnya ke balai desa. Setibanya di balai desa warga telah terlebih dahulu berkumpul, bukan untuk berdialog, melainkan untuk berunjuk rasa memprotes keberadaan JAI di desa tersebut.

Itulah pengalaman pertama yang saya alami sebagai salah satu anggota JAI. Sebagai seorang anak yang masih polos dan tidak tahu apa-apa, pengalaman tersebut begitu pahit dan sulit untuk saya lupakan hingga sekarang. Perlakuan yang lebih kejam juga pernah saya dapatkan ketika saya beranjak dewasa, duduk di bangku SMA al-Wahid, Wanasigra, Salawu, Tasikmalaya.

Ketika masih kelas sepuluh, kelompok JAI wilayah Priangan Timur mengadakan acara Jalsah Salanah. Ribuan anggota JAI dari berbagai daerah di Indonesia berbondong-bondong datang ke Wanasigra untuk mengikuti Jalsah Salanah yang berlangsung selama tiga hari. Kami pun turut mengundang golongan maupun organisasi lain, seperti Syiah, Gusdurian, dan lainnya.

Hari pertama Jalsah Salanah berjalan khidmat. Namun di malam harinya, tiba-tiba sekelompok massa bersenjatakan batu dan samurai datang menyerang pemukiman anggota Ahmadiyah di Wanasigra. Kami yang baru saja terlelap tidur, sontak bangun dan ketakutan. Detik itu, kami hanya bisa berdoa agar Allah SWT selalu melindungi kami dan para tamu Jalsah Salanah lainnya.

Perasaan kami berkecamuk ketakutan bercampur pasrah menerima kekerasan yang mereka hadiahkan kepada JAI, rasanya tidak ada lagi tempat aman. Sekalipun kami berlindung di dalam kamar dan mengunci pintu dari dalam, mereka tetap saja membabi buta merusak pemukiman anggota JAI. Tak terbayang bagaimana perasaan anak-anak yang menerima perlakuan sekejam itu. Begitu juga kaum hawa seperti ibu-ibu dan nenek renta. Tak satupun hal yang dapat kami perbuat. Kami hanya bisa berdoa dan saling menguatkan satu sama lain.

Pagi hari pasca penyerangan, banyak dari anggota JAI yang bergegas pulang ke daerah masing-masing. Sedangkan kami yang tinggal di Wanasigra masih dihantui adanya serangan susulan. Untuk mengantisipasi itu, bapak-bapak dan pemuda Ahmadiyah berjaga. Sedangkan ibu-ibu dan anak-anak mengungsi ke desa sebelah, termasuk para siswa SMA al-Wahid yang notabene anak asrama dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk saya.

Sembari menangis ketakutan dan berdoa, kami juga menghubungi orangtua di kampung halaman dengan harapan mereka dapat sedikit menenangkan kami. Sementara hanya itu yang dapat mereka lakukan. Kalaupun mereka ingin menjemput kami, pastinya memakan waktu lama. Karena mereka berjarak puluhan bahkan ratusan kilometer dari tempat kejadian perkara. Saya menangis ketika menelepon orangtua. Namun orangtua justru berkata “Kakak, apa yang kamu lakukan? Ndak boleh menangis, baca salawat dan salatlah,” dengan nada tinggi ayah memerintahsaya. Sontak saya pun bergegas mengambil air wudhu dan melaksanakan salat, dengan terisak saya mengadu kepada Sang Maha Adil.

Di relung hati, seandainya ajal menjemput saya waktu itu, saya hanya bisa memohon ampun pada Allah SWT karena belum bisa menjadi hamba-Nya yang taat. Saya juga berdoa agar anak-anak Ahmadi lain tidak mengalami hal yang sama seperti saya. Belum lagi masa kecil saya yang sering dibully oleh teman sekelas, bahkan ketika pulang sekolah saya pernah dilempari batu oleh anak lain. Saya hanya bisa sabar dan pasrah terhadap perlakuan itu.

Berbagai bentuk tindakan diskriminatif dari masyarakat seakan tidak pernah berhenti menghantui anggota JAI. Selalu saja ada kelompok yang membenci keberadaan kami, padahal kami pun tidak pernah mengusik kehidupan mereka. Kepedihan mendalam terhadap perilaku diskriminatif itu kembali saya rasakan ketika melihat masjid yang biasa saya gunakan untuk menyembah dan mengagungkan Allah hancur porak-poranda pada Mei 2016 lalu. Sungguh hal itu membuat saya terpukul dan tak habis pikir mengapa mereka bisa berbuat sedemikian keji. Mereka begitu berani mengusik kedamaian kediaman Tuhan. Apakah mereka terlalu dikuasai emosi hingga lupa dengan adab dalam sebuah masjid?

“Apa hukuman bagi pelaku, ayah?” tanya saya kepada ayah. Kata ayah, para pelaku hanya diganjar hukuman penjara selama tiga bulan masa percobaan dan denda sebesar lima ribu rupiah. Rasanya seperti ditampar, seakan tidak percaya mendengar jawaban ayah. Dalam pandangan saya hukuman itu terlalu ringan.

“Kita ini di mata hukum tidak ada harganya, kak. Ingat kasus Cikeusik? Pembunuh hanya dihukum dua bulan penjara,” terang Ayah. Ucapan ayah itu membuat tangis saya pecah, teringat bahwa darah kami halal. Siapapun bisa membunuh kami, kapanpun dan dimanapun. Saya mengerti dan menangkap maksud ayah, bahwa saya harus senantiasa tegar, sabar, dan kuat mental.

Dalam menghadapi perlakuan diskriminatif dari orang lain, saya berusaha mencontoh suri tauladan Nabi Muhammad yang pernah dikucilkan bahkan diusir dari tanah kelahirannya Mekah. Nabi Muhammad harus hijrah ke Madinah dalam waktu yang lama. Ketika Nabi Muhammad kembali untuk menaklukkan Mekah hingga akhirnya meraih kemenangan, ia tidak melakukan balas dendam terhadap orang-orang Qurays yang dulu pernah mengusirnya. Bahkan Nabi Muhammad membebaskan dan memerdekakan mereka begitu saja.

Kisah Nabi Muhammad tersebut menginspirasi saya untuk senantiasa meneladani akhlaqul karimah dari beliau. Meskipun untuk bisa mencapai titik itu memerlukan perjuangan panjang. Masa kecil hingga remaja yang saya lalui dengan penuh kebencian dan kekerasan itu membuat saya menjadi seorang yang penakut. Takut melihat kebencian dari sorot mata teman sebaya, guru, dan masyarakat, seakan mereka tidak bisa menerima  kehadiran saya. Takut kehilangan nyawa sebelum saya bisa melakukan sesuatu yang bermakna untuk orangtua, agama, dan bangsa.

Seandainya saya bisa memutar waktu, saya tidak akan menjadi seseorang yang pendiam, tidak percaya diri, dan bermental tempe seperti ini. Saya tidak akan membawa kesedihan dan perlakuan buruk orang lain dalam tidur saya yang kemudian menjelma menjadi mimpi buruk. Melainkan mengolahnya menjadi kekuatan untuk bertahan dan melawan. Sebagaimana yang dikatakan oleh seorang Ahmadi, Irene Ameena. “As an Ahmadi I have learned the power of hate. As an Ahmadi I have learned the power of love. And as an Ahmadi I have learned what power means.”

Rupanya perlakuan diskriminatif terhadap kelompok minoritas tidak hanya diterima oleh JAI saja, melainkan pula beberapa kelompok minoritas lain dari berbagai daerah di Indonesia. Salah seorang teman di organisasi lintas iman bercerita tentang perlakuan diskriminatif terhadap para penghayat kepercayaan Sapta Darma di Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Mereka dikucilkan oleh masyarakat sekitar yang mayoritas muslim. Bahkan penghayat kepercayaan sapta Darma sempat mendapat tindakan boikot sosial seperti tidak boleh membeli sembako di warung-warung sekitar kampung tersebut.

Suatu kali ada salah satu anggota keluarga pemeluk kepercayaan Sapta Darma meninggal. Namun masyarakat menolak jenazah tersebut untuk dimakamkan di pemakaman umum desa setempat. Akhirnya keluarga terpaksa menggunakan pekarangan belakang rumahnya untuk memakamkan jenazah tersebut. Lebih tidak manusiawi lagi, oknum yang tidak diketahui identitasnya meletakkan bangkai anjing di atas makam warga penghayat kepercayaan Sapta Darma tersebut. Tindakan ini menambah duka yang mendalam bagi keluarga.

Artikel ini menjadi Juara III dalam lomba Essay “ Write A piece for peace” dan telah dibukukan oleh PUSAD Paramadina.

 

Sumber Gambar: http://www.wakingtimes.com/2015/01/06/can-virtual-bodyswapping-make-us-empathetic-tolerant/

Tentang Penulis

Hajar Ummu Fatikh