Opini

Di Balik Narasi Damai dalam Perbedaan [Bagian III]

Damai

(Sebuah Kisah dari Gadis Pencari di Balik Konflik dan Kekerasan atas Jemaat yang Tak Kunjung Usai)

Oleh Anggota Jemaat Ahmadiyah , Mahasiswa Fakultas Psikologi dan Kesehatan UIN Walisongo

Berlabuh pada Sebuah Pilihan

Saya memilih menjadi seorang Ahmadi semata-mata bukan karena jemaat keturunan, melainkan karena saya mencari yang terbaik. Seperti Salman al-Farisi, ia memang terlahir dari orangtua Majusi, namun ia berusaha mencari yang terbaik dengan masuk ke semua agama yang ada ketika itu. Setelah ia menilai dan meneliti semua agama, akhirnya ia lebih memilih masuk , karena ia merasa bahwa merupakan yang terbaik. Saya pun melakukan pencarian sejak masih duduk di bangku SMP, dan hati saya selalu merasakan ketenangan dan ketentraman ketika berada di acara-acara Jemaat Ahmadiyah.Terdapat banyak hal mengenai perasaan seperti itu yang tidak bisa saya gambarkan dengan kata-kata.

Saya menganggap Ahmadiyah telah merefleksikan ajaran Islam yang hakiki melalui kegiatannya seperti melakukan gerakan donor darah, donor mata, bakti sosial, clean the city, menyebarkan pesan perdamaian, mendirikan humanity first, dan masih banyak lagi. Atmosfir cinta tersebut sesuai dengan slogan Ahmadiyah, “Love for all, hatred for none“. Cinta untuk semua, tiada kebencian bagi siapapun.

Cinta dan kasih itu akan selalu terpancar meskipun hak konstitusional kami, Kendal, ternodai. Masjid kami hancur, kami selalu dihalangi dan dipersulit untuk beribadah serta melanjutkan pembangunan masjid. Padahal kami sudah mengantongi Izin Mendirikan Bangunan (IMB) sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku. Bukankah dalam undang-undang, negara telah menjamin warganya untuk bebas memilih dan melaksanakan peribadatan sesuai dengan kepercayaannya masing-masing? Ataukah mungkin undang-undang itu hanya berlaku bagi kaum mayoritas?

Selain itu hukum tertulis terkait pelaku tindakan kekerasan, diskriminasi dan persekusi juga telah ditegaskan dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) pasal 170 ayat 1 yang berbunyi: “Barangsiapa dengan terang-terangan dan dengan tenaga bersama menggunakan kekerasan terhadap orang atau barang, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan”.

Namun kekerasan yang mengatasnamakan agama maupun keyakinan sampai sekarang belum bisa sepenuhnya teratasi. Sebab masyarakat masih mengedepankan emosi, pemerintah yang justru mendukung tindak kekerasan, hingga sistem dan hukum yang masih belum bisa ditegakkan sebagaimana mestinya. Pemerintah dan masyarakat tentu mengetahui jika agama atau keyakinan itu dipertandingkan maka tidak akan pernah dijumpai titik temu, karena masing-masing memiliki nilai kebenaran relatif. Hal itu hanya akan menimbulkan tindakan saling mengkafirkan.

Perilaku keagamaan seperti ini terikat erat dengan kelompok penganut paradigma teologis.Amin Abdullah dalam bukunya Studi Agama-agama, menegaskan terdapat tiga karakteristik yang melekat dalam diri seseorang atau kelompok yang cenderung berparadigma teologis.

Pertama, kecenderungan untuk mengutamakan loyalitas kepada kelompok sendiri sangat kuat. Kedua, adanya keterlibatan pribadi (involvement) dan penghayatan yang begitu kental dan pekat kepada ajaran-ajaran teologi yang diyakini kebenarannya. Ketiga, mengungkapkan perasaan dan pemikiran dengan bahasa pelaku bukan pengamat.

Paradigma semacam ini tentunya dapat menutup mata akan kebenaran-kebenaran kelompok lain. Mereka cenderung bersifat eksklusif, emosional, dan kaku. Lebih dari itu, berkumpulnya ketiga sifat dasar pemikiran teologi dalam diri seseorang atau kelompok akan menggoda seseorang untuk mendahulukan truth claim daripada dialog yang jujur dan argumentatif. Sikap ekslusif ini ditengarai Ian G. Barbour sebagai kompisisi paling dominan dalam proses pembentukan sikap dogmatis dan fanatik (Amin Amdullah, Studi Agama-agama).

Indonesia (Semoga Tetap) Berbhinneka

Umur saya sekarang sudah 20 tahun, getir pahit hari menjadi seorang Ahmadi tak kunjung berhenti hingga kini. Saya selalu mengamati bahwa orang-orang yang membenci anggota JAI atau kelompok minoritas lainnya disini memiliki persepsi mengenai keyakinan yang kita yakini kebenarannya, seperti halnya persepsi mengenai konsep ketuhanan dan kenabian. Masyarakat mayoritas sudah terlanjur stereotipe terhadap JAI dan kelompok minoritas lainnya hanya berdasar rumor dan isu yang beredar. Mereka enggan melakukan klarifikasi dan verifikasi kebenaran terlebih dahulu mengenai kami.

Masyarakat yang begitu permisif terhadap rumor tanpa mau verifikasi dan klarifikasi akan dengan mudah menghukumi kami sebagai sebagai sesat, kafir, atau pun penista agama. Bahkan darah kami pun dianggap halal hingga masyarakat tak segan melakukan persekusi dan tindakan kekerasan terhadap kami. Ya, meskipun Indonesia sudah berumur 70 tahun lebih. Namun apa yang masih terjadi? Saling menghormati perbedaan masih hanya dalam angan belaka.

Dialog demi dialog serta usaha-usaha lainnya terus kami tempuh sebagai minoritas yang memiliki hak hidup dan beragama di bumi Tuhan dan bumi pertiwi yang menjunjung tinggi toleransi. Meski mayoritas masih keras dengan pendiriannya yang hal tersebut sama halnya dengan mendurhakai mufakat para pendiri bangsa sebagai bangsa yang berbinneka tunggal ika dan meyakini butir pertama Pancasila dan butir setelahnya.

Saya dan jemaat Ahmadiyah bertuhan Esa, Allah SWT. Perbedaan imam dan cara beribadah semoga dapat disadari oleh mayoritas sebagai hal wajar sebagai hamba. Saya bangsa Indonesia, saya menghormati Pancasila dan Hukum di negeri ini sebagai bangsa yang juga ingin bersosial dan berdamai dalam perbedaan. Jika memang konflik semacam ini dan tidak ada lagi dialog perdamaian serta terus melakukan kekerasan terhadap minoritas, saya dan minoritas lainnya akan terus menanyakan kehambaannya dan kemanusiaannya hingga nanti ajal menjemput saya.

Sebagai bangsa yang lahir di Indonesia dan menjadi minoritas yang terus diterpa badai kekerasan dan konflik yang tak kunjung henti, saya dan minoritas lainnya terus berdoa dan berharap agar semua elemen di republik ini mampu menyadari bahwa kami juga bangsa yang menginginkan bersosial secara damai kepada sesama manusia, meskipun terdapat perbedaan dalam keyakinan dan cara beribadah. Bukan malah mendewakan ke-Aku-annya yang dianggap benar sendiri lalu dengan mudah memusuhi, melakukan kekerasan secara tidak manusiawi.

Kita satu, Indonesia. Perbedaan dalam keyakinan, imam, dan cara beribadah hanya diketahui oleh Sang Maha Pencipta. Dialah yang Maha Mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Apakah karena hal tersebut kita malah saling meninggalkan kemanusiaan kita yang berperikemanusiaan? Saya hanya teringat salah satu kalimat dalam puisi Rumi. “Ada banyak cara untuk mencium tanah”. Semoga Indonesia tetap menjunjung tinggi Binneka Tunggal Ika. Semoga manusia tetap manusiawi, semoga tuhan tidak murka karena ada manusia-manusia yang menutup mata hatinya dengan terus melakukan tindakan yang tidak mencerminkan agamanya yang selalu mengajarkan perdamaian dan toleransi pada sesama manusia.

Artikel ini menjadi Juara III dalam lomba Essay “ Write A piece for peace” dan telah dibukukan oleh PUSAD Paramadina.

Sumber Gambar: https://pbs.twimg.com/media/DGAOIBhXgAAnXEs.jpg

Tentang Penulis

Hajar Ummu Fatikh