Opini

Di Balik Tirai Kekhalifahan: Menengok Sepak Terjang Hizbut Tahrir dan Ahmadiyah

khalifah ahmadiyah

Tiga pelajar asal yang pertama kali menerima baiat menjadi pengikut

Ketika pemerintah Indonesia resmi membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia (selanjutnya akan disebut HTI), diskusi tentang muncul lagi ke permukaan. Hal in sudah barang tentu menimbulkan kontroversi sebab menimbulkan pro dan kontra.

Dan, jika berbicara tentang kekhalifahan maka mau tak mau kita juga akan berbicara tentang Ahmadiyah, sebagai jemaah Muslim yang telah menggunakan metode kekhalifahan ini sejak seratus tahun lebih.

Lantas, kekhalifahan seperti apakah yang diusung oleh keduanya? Di dalam tulisan ini, kita akan membahas secuplik bentuk kekhalifahan mereka, serta perkembangan dakwah mereka hingga sekarang.

Latar Belakang dan Tujuan

Hizbut Tahrir adalah partai atau organisasi politik-keagamaan yang didirikan oleh Muhammad Taqi al-Din bin Ibrahim bin Mustafah bin Ismail bin Yusuf al-Nabhani, seorang ahli agama, pada tahun 14 Maret 1953 di al-Quds, Yerusalem. Tujuan didirikannya Hizbut Tahrir adalah untuk menegakkan kekhalifahan dengan mendirikan daulah khilafah islamiyah atau negara Islam[1]. Doktrin Hizbut Tahrir sendiri terdiri dari dua prinsip, yakni: pentingnya syariah atau hukum Islam dalam seluruh aspek kehidupan manusia dan adanya negara Islam untuk menegakkan syariah tersebut[2].

Dengan kata lain, Hizbut Tahrir sendiri belum mendirikan pemerintahan berbasis kekhalifahan dan belum memiliki khalifah karena sampai saat ini mereka belum memiliki teritori atau wilayah untuk mendirikan negara Islam yang mereka dambakan.

Untuk mencapai tujuan, Hizbut Tahrir memiliki tiga tahap rencana politik, yakni merekrut anggota, memasuki dan menjadi bagian dari badan pemerintahan di suatu negara, dan mengambil alih pemerintahan di negara tersebut[3]. Sedangkan rencana mereka yang lebih simpatik antara lain: mendirikan grup elite di komunitasnya untuk menyebarkan dakwah, membangun opini publik tentang konsep kekhalifahan, dan berharap pemimpin-pemimpin di negara tersebut akan memberikan dukungan untuk mengubah bentuk pemerintahan di sana menjadi kekhalifahan[4]. Mereka juga pernah mencoba mencari khalifah. Dua kali menawarkan posisi khalifah kepada Ayatollah Khomeini, pemimpin Revolusi Islam Iran, tetapi ditolak oleh Khomeini[5].

Sementara itu, Ahmadiyah telah memiliki khalifah mereka sendiri. Ahmadiyah sebagai sebuah organisasi Islam didirikan oleh Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, yang mendakwakan diri sebagai Imam Mahdi dan Al-Masih yang dijanjikan, pada tanggal 23 Maret 1889 di Qadian, India. Kekhalifahan Ahmadiyah—yang biasa disebut Khalifatul Masih—berdiri setelah Hazrat Mirza Ghulam Ahmad meninggal dunia, yakni pada tanggal 27 Mei 1908, dengan Hazrat Al-Hajj Hakim Nururddin sebagai khalifah pertama mereka. Tujuan didirikannya Khalifatul Masih adalah untuk meneruskan dan menyebarkan ajaran-ajaran Islam. Visi dan misi Ahmadiyah sendiri adalah menghidupkan agama dan menegakkan syariat[6].

Berbeda dengan Hizbut Tahrir, Ahmadiyah tidak menggunakan cara-cara politis untuk mencapai tujuan tersebut. Mereka lebih berkonsentrasi melakukan syair agama ke seluruh dunia, dengan menggunakan tulisan-tulisan, menerjemahkan Alquran, dan via stasiun televisi mereka sendiri, yakni Muslim Television Ahmadiyya (MTA). Dengan demikian, secara organisasi, Ahmadiyah lebih berorientasi sebagai gerakan religius bukan politik.

Perkembangan

Saat ini, Hizbut Tahrir dipimpin oleh Sheik Abu Yasin Ata ibn Khalil ibn Ahmad ibn Abdul Qadir al-Khatib Abu Rashta, yang naik sebagai Amir (pemimpin) ketiga, memimpin sejak Maret 2003. Anggota Hizbut Tahrir diperkirakan berjumlah sekitar 1.000.000[7] orang, tetapi ada juga yang menduga jumlah mereka hanya 10.000[8] orang saja. Kesimpangsiuran jumlah anggota ini barangkali disebabkan oleh proses perekrutan yang sporadis, sehingga ada yang merupakan anggota tetap, ada pula yang sebagai pengikut atau simpatisan saja.

Anggota Hizbut Tahrir telah tersebar di sekitar 50 negara[9]. Selama 64 tahun kiprah mereka, Hizbut Tahrir telah beberapa kali dituduh melakukan atau terlibat dalam percobaan kudetan. Oleh karena kegiatannya yang agresif itulah Hizbut Tahrir dilarang di banyak negara, terutama di negara-negara muslim, seperti Yordania, Mesir, Turki, Malaysia, dan Indonesia.

Jemaah Muslim Ahmadiyah sekarang dipimpin oleh Hazrat Mizra Masroor Ahmad, khalifah yang kelima, memimpin sejak 22 April 2003. Anggota Ahmadiyah telah mencapai angka 10.000.000[10] yang tersebar di 210 negara di seluruh penjuru benua. Para anggota ini masuk ke dalam Ahmadiyah melalui proses baiat.

Proses syiar agama yang dilakukan oleh Ahmadiyah terbilang masif. Dalam laporan MTA saat meliput Jalsah Salanah (pertemuan tahunan) Internasional di Inggris, Juli 2017, Ahmadiyah telah membangun 447 masjid baru, dan membaiatkan 609.000 anggota baru[11]. Boleh dibilang, saat ini, Ahmadiyah adalah organisasi keagamaan yang paling pesat perkembangannya di dunia.

Akan tetapi, ajaran Ahmadiyah dianggap menyimpang oleh kaum Muslim mayoritas sehingga membuat kelompok ini dilarang di beberapa negara, seperti di Pakistan, Malaysia, Afghanistan, dan beberapa negara dengan penduduk mayoritas muslim lainnya. Oleh karena itulah, anggota kelompok ini banyak yang mengalami persekusi dan penganiayaan, seperti di Pakistan, India, Mesir, Indonesia, Malaysia, Arab Saudi, Inggris, Belgia, dan lain-lain.

Perkembangan di Indonesia

Hizbut Tahrir masuk ke Indonesia pada masa Amir Hizb kedua, yakni di tahun 1980, melalui perantara salah satu tokoh perintisnya, KH Abdullah bin Nuh—atau yang biasa dipanggil “Mamak”—seorang ulama, tokoh pendidikan, dan sastrawan kelahiran Cianjur. Saat itu, Mamak bertemu dengan Sheik Abdurrahman al Baghdadiy, seorang tokoh Hizbut Tahrir, sebelum mengajaknya untuk datang ke Indonesia[12]. Dari sanalah pintu masuknya Hizbut Tahrir ke Indonesia terbuka.

Dalam menyebarkan dakwahnya, HTI banyak bergerilya ke kampus-kampus besar di seluruh Indonesia. Pada era 1990-an, dakwah mereka merambah ke masyarakat lewat kegiatan di masjid-masjid, perkantoran, dan perumahan[13]. Pada tahun 2015, HTI menggelar rapat dan pawan akbar di Gelora Bung Karno, Jakarta. Dikarenakan dakwahnya yang mempromosikan sistem khilafah untuk menggantikan sistem pemerintahan yang ada, maka HTI resmi dilarang dan dibubarkan oleh pemerintah Indonesia, meski pihak HTI masih terus menempuh jalur hukum supaya pemerintah mencabut surat pembubaran tersebut.

Jemaah Muslim Ahmadiyah telah masuk lebih dulu ke Indonesia (sebelumnya Hindia Belanda), pada 1925. Masuknya Ahmadiyah diprakarsai oleh tiga pelajar dari Padang Panjang—Abubakar Ayyub, Ahmad Nuruddin, dan Zaini Dahlan—yang berangkat ke luar negeri untuk mempelajari agama Islam. Semula, mereka hendak ke Al-Azhar, Kairo, Mesir. Namun, berkat saran dan nasihat guru agama mereka, ketiganya justru pergi ke Hindustan dan akhirnya mengenal Ahmadiyah. Pada 15 Agustus 1925, khalifah kedua mengirimkan Maulvi Rahmat Ali H.A.O.T untuk bertugas sebagai mubalig Ahmadiyah pertama di Hindia Belanda (sekarang Indonesia)[14].

Ajaran Ahmadiyah terus berkembang di Indonesia, sehingga Jemaah Ahmadiyah Indonesia (selanjutnya disingkat JAI) kini telah memiliki 40.000 anggota yang tersebar di ratusan wilayah di Indonesia, dari Sumatra hingga Papua. Sejak awal masuknya, JAI sudah mengalami pertentangan sebab ajarannya yang dianggap menyimpang dan tidak sesuai dengan Alquran dan hadis. Di tahun 1980, MUI mengeluarkan fatwa bahwa Ahmadiyah berada di luar islam, sesat dan menyesatkan, dan murtad (keluar dari Islam). Fatwa yang sama kembali dikeluarkan pada tahun 2005[15]. Pada tahun 2008, pemerintah juga mengeluarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama, Jaksa Agung, dan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor: 3 Tahun 2008 tentang pelarangan syiar Ahmadiyah[16].

Walaupun begitu, Ahmadiyah masih eksis di Indonesia, meski di beberapa wilayah kegiatan mereka bersifat klandestin. Banyaknya pertentangan dan larangan tidak menyurutkan JAI menyebarkan dakwah mereka. Tak hanya kegiatan-kegiatan keagamaan saja, tetapi Ahmadiyah pun rutin mengadakan kegiatan-kegiatan yang bersifat sosial seperti donor darah, pengobatan gratis homoepati, dan donor mata. Untuk yang terakhir, JAI bahkan memecahkan rekor MURI sebagai komunitas dengan calon pendonor kornea mata terbanyak di Indonesia, yakni sebanyak 6.800 calon pendonor[17].

Masalah dalam Kekhalifahan: yang Belum Terbuka dan yang Masih Terbuka

Dari paparan di atas, diketahui bahwa kekhalifahan yang diemban oleh Hizbut Tahrir dan Ahmadiyah sangat berbeda. Hizbut Tahrir mendambakan khilafah politik yang mereka percayai sebagai solusi dari seluruh permasalahan dunia saat ini. Keinginan yang berangkat setelah melihat kerusakan tatanan politik, sosial, dan ekonomi dunia, sehingga khilafah dan syariah dirasa merupakan obat terbaik untuk menyembuhkan “penyakit-penyakit” dunia tersebut. Atau, bisa juga muncul akibat kerinduan historis akan kejayaan Islam di masa lalu lewat Khulafat-ur-Rasyidin, yang berhasil menyatukan banyak wilayah ke dalam Islam.

Sedangkan Ahmadiyah mengusung khilafat spiritual yang misinya adalah untuk memurnikan ajaran Islam. Dari sanalah, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad datang untuk mengemban misi tersebut dengan mendakwakan diri sebagai Imam Mahdi dan Al-Masih yang telah dijanjikan. Dengan demikian, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad menjadi nabi penerus ajaran Muhammad SAW yang tidak membawa syariat baru, sehingga kekhalifahan spiritual seperti layaknya Khulafat-ur-Rasyidin pun dapat didirikan—karena syarat untuk mendirikan kekhalifahan semacam itu haruslah didahului oleh kedatangan seorang nabi.

Kekhalifahan politik mendambakan kuasa atas tanah, sementara kekhalifahan spiritual berkuasa atas hati dan pikiran[18]. Dengan demikian, kegiatan-kegiatan Hizbut Tahrir dianggap membahayakan kedaulatan negara-negara, sebab mereka menginginkan sebuah wilayah untuk mendirikan negara Islam[19].

Sedangkan Ahmadiyah tidak. Ahmadiyah percaya bahwa Islam perlu menyebar secara luas ke seluruh negara-negara yang ada di dunia. Pengikut Ahmadiyah dapat tinggal di negara mana pun tanpa harus merebut sebuah wilayah untuk kepentingan politik mereka. Mereka bahkan dilarang untuk melakukan huru-hara dan pemberontakan[20]. Dalam urusan duniawi dan kemasyarakatan, mereka taat kepada pemerintah tempat mereka tinggal; tetapi dalam urusan ibadah dan kerohanian, mereka hanya taat kepada khalifah mereka.

Pembeda lainnya tentu saja adalah berdirinya kekhilafahan itu sendiri. Bagi Hizbut Tahrir, mereka masih berjuang untuk mendirikan kekhilafahan, yang merupakan kewajiban bagi kaum muslimin. Ironisnya, cara-cara yang mereka pakai justru dengan menggunakan kekuatan dan kekerasaan, yang sering kali berakhir anarkis sehingga bertentangan dengan ajaran Islam dan Alquran itu sendiri. Sementara itu, Ahmadiyah telah lama menikmati kekhalifahan dengan damai dan tanpa ribut-ribut. Sayangnya, kekhilafahan mereka justru tidak diakui oleh umat muslim kebanyakan, bahkan dianggap sebagai perusak dan membahayakan ajaran Islam itu sendiri.

Dengan banyaknya permasalahan dan kisruh seputaran khilafah, pertanyaannya sekarang adalah masihkah khilafah bisa menjadi solusi atas semua permasalahan dunia? Benarkah khilafah adalah jalan keluarnya? Jika memang benar demikian, barangkali khilafah masih membutuhkan waktu untuk bisa memberikan jawabannya. Kapan hal itu terjadi? Wallahualam.

[1] “Can the Muslim world really unite?” hizb.org.uk

[2] “Hizb ut-Tahrir al-Islami:Evaluating the Threat Posed by a Radical Islamic Group that Remains Nonviolent” dari buku Terorism and Political Violence karangan Emmanuel Karagiannis dan Clark McCulley (2016)

[3] “Central Asia’s Islamic Militancy” oleh Ian McWilliam, untuk news.bbc.co.uk, 15 Desember 2005

[4] Pamflet Hizb ut-Tahrir dari www.risala.org

[5] A Fundamental Quest: Hizb al-Tahrir and the Search for Islamic Caliphate. Suha Taji-Farouki, London: Grey Seal, 1996.

[6] www.alislam.org/indonesia/latar.html

[7] “For Alla and the Caliphate” oleh Shiv Malik, di www.newstatesman.com, 13 September 2004

[8] “Hizb ut-Tahrir and the Fantasy of the Caliphate” oleh Jean-Pierre Filiu, di LeMonde Diplomatique (mondediplo.com), Juni 2008

[9] Ibid.

[10] Major Branches of Religions Ranked by Number of Adherents”, www.adherents.com, 2015.

[11] www.waqfenoughana.org

[12] “Inilah Sejarah Singkat Masuknya Hizbut Tahrir ke Indonesia”, Dominikus Lewuk, www.netralnews.com, 08 Mei 2017

[13] Ibid.

[14] “Sejarah Ahmadiyah ke Indonesia” ahmadiyah.id

[15] “Salinan Fatwa MUI tentang Kesesatan Ahmadiyah”, www.nahimunkar.com

[16] “SKB 3 Menteri No. 3 Tahun 2008”, ahmadiyah.org

[17] Siaran Pers “Penghargaan Komunitas Anggota Pendonor Kornea Mata Terbanyak di Indonesia oleh Museum Rekor Indonesia (MURI)”, ahmadiyah.id, 22 Juli 2017

[18] “Ahmadiyah dan Khilafah Spiritual” Ulil Abshar-Abdalla, 30 September 2015

[19] Draft Constituion of the Khalifah State, artikel 173, tahun 2013.

[20] Poin 2 dalam 10 Syarat Baiat Ahmadiyah.

 

Sumber Gambar: https://www.youtube.com/watch?v=Jjqr6BXZQrk

Tentang Penulis

Ahmad Mustafa

2 komentar

  • Kalimat “Ironisnya, cara-cara yang mereka pakai justru dengan menggunakan kekuatan dan kekerasaan, yang sering kali berakhir anarkis sehingga bertentangan dengan ajaran Islam dan Alquran itu sendiri”, Pak mungkin yang ini perlu ada data tambahan, apa betul HT anarkis? (hanya saran, biar ga jadi fitnah)

Tinggalkan komentar