Opini

Di Mesir, Nama Tuhan Berlumuran Darah

teror mesir

Sebelum Qabil menumpahkan darah saudaranya sendirinya, para malaikat sudah memperingatkan Tuhan “Mengapa Engkau mau menciptakan manusia di muka bumi, yang mereka akan menumpahkan darah?”

Dan benar saja, sejarah perjalanan kehidupan manusia telah menapaki pekatnya darah dan air mata. Bahkan di zaman moderen seperti sekarang ini, ketika konsep kemanusian telah berkembang pesat, tetap saja pertumpahan darah terjadi di mana-mana.

Di , di sebuah Rumah Tuhan, 300 nyawa lebih dihabisi tanpa ampun. Lumuran darah berceceran di atas tempat-tempat manusia bersimpuh-bersujud mengemis sedikit kasih Tuhan.

Entah, setan jenis apa yang masuk ke Rumah Tuhan lalu membantai ratusan nyawa, dengan sebuah “niatan akbar” untuk membawa ratusan orang tadi ke neraka. Tapi begitulah kenyataannya jati diri setan. Ia sendiri penghuni neraka dan tidak mau hidup di neraka sendirian.

Atas nama jihad, atas nama pengkudusan Wujud Tuhan dari kemusykiran, iblis durjana tersebut beramal, yang katanya itu bagian dari amal shaleh. Tuhan pun dipaksa meng-amin-i perbuatan durjana mereka. Bahkan, Tuhan juga dipaksa untuk menyiapkan 72 bidadari di alam barzah sana untuk para “mujahid” pemberani mereka.

Sekali lagi, nama Tuhan berlumuran darah. Sekali lagi, agama Tuhan akan dihujat habis-habisan disebabkan ulah sekelompok umat yang kejahilannya mampu mengalahkan keledai.

Rasul Karim Mustafa SAW beliau pernah bersabda bahwa asing pada awalnya dan akan kembali asing (sepeninggal beliau). Sebelum beliau SAW diutus, betapa jahilnya masyarakat Arab, dan sepeninggal beliau, betapa jahilnya umat beliau, bahkan hingga kini.

Tak butuh waktu lama keter-“asing”-an Islam muncul. Bahkan peristiwa terbunuhnya Khalifah Ustman bin Affan ra adalah titik awal penyempurnaan “kabar ghaib” yang memilukan tersebut.

Islam memiliki makna “keselamatan”, yakni membuat manusia selamat dari segala hal buruk. Menyelamatkan manusia dari kemiskinan, itulah spirit keislaman. Menyelamatkan manusia dari kebodohan, itu juga bagian dari spirit keislaman.

Tapi jika Islam lebih dekat kepada kerusakan bahkan jadi sumber malapetaka umat manusia, itu artinya umat Islam telah menyelewengkan hakikat terdalam dari terma “Islam” itu sendiri.

Islam adalah sumber rahmat bagi seluruh alam. Apakah dengan adanya demo-demo atas nama Islam yang membuat kemacetan di mana-mana, lalu ceramah-ceramah yang menghujat agama lain yang hal itu menambah daya gesek hubungan antar manusia, bahkan sampai aksi-aksi bela agama dengan cara membunuhi manusia, apakah semua itu tak mencederai spirit “rahmat untuk seluruh alam”?

Kita tahu setiap kita punya perbedaan yang tak bisa dihindari. Bahkan setiap golongan dalam Islam pun punya titik-titik perbedaan tersebut. Perbedaan tersebut ibarat “kelamin”. Tapi apakah kita suka untuk memperlihatkannya di depan umum?

Hanya orang gila yang mau melakukan hal memalukan seperti itu.

Saya tidak ingin mengatakan kepada mereka yang fanatik yang selalu bermasalah dengan perbedaan sebagai orang gila. Tapi kenyataannya, orang yang waras tidak akan mau menunjukkan kelaminnya, seperti apapun bentuknya.

Terakhir, saya ingin sampaikan bahwa TIDAK ADA ajaran Islam yang memerintahkan untuk membunuh orang. Membunuh orang hanya ada pada perang. Dan perang pun adalah perang untuk mempertahankan keimanan bukan tanah warisan. Apakah perang seperti itu masih ada? Kalau masih ada, silahkan salurkan bakat membunuh anda di tempat tersebut.

Sumber gambar:

https://kumparan.com/agritama-prasetyanto1510931345686/mengapa-teroris-serang-jemaah-mesir-yang-tengah-salat-jumat

Tentang Penulis

Muhammad Nurdin

Tinggalkan komentar