Akhlaq Faḍi'l-Lāh

Dijodohin, kenapa tidak?

KALAU di Siti Nurbaya mah bukan perjodohan, tetapi _pemaksaan_. Dalam Islam, pemaksaan untuk perjodohan adalah haram.

HUBUNGAN kasihsayang sesama manusia adalah salah satu hak asasi manusia yang harus kita jaga bersama. Saling menyayangi, melindungi, dan mengasihi diantara dua pasang manusia akan mewarnai sekaligus membantu melewati jalan berliku dalam kehidupan mereka. Tentu membutuhkan suatu proses agar kedua insan itu bisa berjanji sehidup semati dalam pernikahan. Berbagai kebudayaan atau kepercayaan memiliki masing-masing proses yang berbeda.

Salah satu proses yang paling terkenal di zaman sekarang ini adalah . Menurut KBBI, berasal dari kata pacar yang artinya teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cintakasih. Sedangkan sendiri berarti melakukan kegiatan cintakasih berdua berdasarkan status pacar tersebut. Kegiatannya bisa bermacam-macam, mulai dari nonton bareng, makan malam bareng, atau bahkan masak bareng. Keliatan seru dan romantis yah? Eits, dibalik semua ini ada resiko-resiko berbahaya dalam berpacaran. Kegiatan yang terbiasa berdua ini dapat memancing ke arah yang kelewatan, misalnya seperti kekerasan dalam berpacaran atau hubungan intim layaknya pasutri. Karena tidak ada pengawasan pada kegiatan pacaran ini.

Untuk kekerasan, memang sungguh keterlaluan. Bayangkan, belum nikah saja sudah terdapat kekerasan dalam berpacaran. Komnas Perempuan menyatakan bahwa kekerasan kerap terjadi pada masa pacaran. “Kekerasan dalam pacaran justru dapat mengakibatkan perubahan hidup seseorang, seperti perubahan mental yang buruk, ketidakpercayaan diri, ketakutan, trauma, bahkan bunuh diri atau dibunuh,” tegas Komisioner Komnas Perempuan, Mariana Amiruddin. (Bisnis.com)

Untuk hubungan intim, siapa yang tahu atau bisa menjamin bahwa kedua sepasang kekasih ini tidak akan mencoba-coba? Pertama-tama mungkin hanya sebatas rabaan atau pegangan tangan. Setelah terbiasa dan merasa kurang, mereka akan mencoba yang ‘lebih’. Akhirnya mereka berani untuk melakukan hubungan layaknya pasutri. Biasanya, si cowok akan merayu dengan janji-janji manis. Akhirnya, terjadilah hamil di luar nikah. Sepanjang 2015 saja, Dinas Kesehatan DIY mencatat ada 1.078 remaja usia di Yogyakarta yang melakukan persalinan. Dari jumlah itu, 976 diantaranya hamil di luar pernikahan. (merdeka.com)

Ini baru di . Sementara di luar sana, budaya seks bebas sudah menjadi hal lumrah pada masyarakatnya, seperti lumrahnya memakan nasi pada orang asia. Sampai-sampai, jika seorang remaja masih perawan itu adalah hal yang aneh. Biasanya mereka hubungan pacaran dengan seks sebelum salah seorang diantara mereka memutuskan untuk melamar pasangannya.  Semua untuk tujuan yang satu, menemukan suami/istri sehidup semati. Lantas bagaimana proses yang terbaik bagi umat manusia untuk menemukan pasangan hidupnya?

Untungnya, Islam sudah memberikan solusinya sejak 1500 tahun yang lalu. Proses ini dimakan perjodohan. Eits, perjodohan ini bukan seperti kisah Siti Nurbaya yah. Kalau di Siti Nurbaya mah bukan perjodohan, tetapi pemaksaan. Dalam Islam, pemaksaan untuk perjodohan adalah haram (Al-Qur’ān Sūrah ayat 19). Orangtua hanya membantu mengenalkan atau mencarikan pasangan hidup yang sekiranya cocok dengan latarbelakang dan karakter sang anak. Keputusan terakhir tentu berada di tangan sang anak.

Proses perjodohan ini akan menghilangkan resiko negatif dari proses pacaran seperti kekerasan dan hamil di luar nikah ini. Karena kalau salah satu pihak merasa tidak cocok, mereka bisa membatalkan perjodohannya. Tidak akan ada kasus kekerasan atau hamil di luar nikah, karena tidak terjalin hubungan apa-apa diantara keduanya. Jika kedua pihak setuju untuk dijodohkan, mereka bisa mengikatnya dengan pernikahan. Karena pernikahan dalam Islam sendiri berarti mengikat kontrak karena Ta‘ālā untuk berusaha saling melindungi, menjaga, dan menyelimuti dari bahaya apapun (QS 2:188; 4:35). Kegiatan pacaran tadi menjadi suatu keharusan karena terikat kontrak pernikahan tadi. Sekarang timbul pertanyaan, bagaimana mungkin menikah tanpa ada rasa cinta. Jawabannya adalah cinta itu bisa timbul dengan sendirinya melalui kegiatan pacaran tadi.

Di dalam Islam Ahmadiyah sendiri, sistem perjodohan ini sudah diterapkan sejak Islam Ahmadiyah didirikan. Pendiri Islam Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad dari awal sudah memerintahkan untuk membentuk departemen perjodohan dan membuat list pemuda pemudi Ahmadi yang siap nikah untuk segera dipasang-pasangkan. Sistem ini dikenal dengan nama Rishthanata. Hingga kini, kepengurusan Islam Ahmadiyah di semua tingkat mulai dari pusat hingga tingkat cabang selalu ada pengurus yang bertanggung jawab mengurusi Rishtanata anggota.

Jadi masih menolak untuk dijodohkan? Buat kita yang masih single, segeralah berdoa kepada Allāh swt. agar segera dipertemukan jodohnya. Buat para orang tua, mulailah semangat mencari jodoh untuk anaknya ya!

Tentang Penulis

Fariz Abdussalam