Qureta Terorisme

Dua Macam Abu Bakar

Ghassan Massoud memerankan Khalifah Ar-Rasyidin Pertama Ḥaḍrat Abu Bakar Aṣ-Ṣiddīq r.a. dalam serial Omar.
Penulis Akhmad Reza

MENGAITKAN sesuatu atau meminjam nama seseorang tidak lantas otomatis mewarisi segala sifat dan kebesaran orang yang dimaksud, tidak juga mencederainya.

Sebab, seperti pepatah bilang, “Loyang tetaplah loyang meski ditemukan dalam tumpukkan emas, sementara emas tetaplah emas meski ditemukan di dalam lumpur.” Hal ini berlaku bagi Abu Bakar al-Baghdadi, Khalifah (Islamic State of Iraq and Syria) yang mendaku sebagai pemimpin Umat Islam. Mungkin harapannya, dengan meminjam nama “Abu Bakar” yang merujuk pada nama sahabat Muhammad saw., Khalifah pertama Islam, maka kaum muslim akan serta merta mengikutinya.

Setelah vakum hampir selama 92 tahun semenjak runtuhnya Khilafah Utsmani (1924), pendirian lembaga khilafah mungkin masih menjadi magnet bagi sebagian kalangan. Beragam upaya mendirikan lembaga khilafah berakhir nihil dan sebagiannya tragis.

Setragis usulan Idi Amin, dalam Konferensi Tingkat Tinggi - di Lahore Pakistan, pada 1974 lalu agar mengangkat Raja Faisal dari Saudi sebagai khalifah. Baik pengusul maupun yang diusulkan berakhir tragis. Tidak berselang lama, Idi Amin digulingkan dari kedudukannya sebagai Presiden Uganda, sementara Raja Faisal tewas ditembak keponakannya sendiri, Faisal bin Musaid pada 25 Maret 1975.

Maka, ketika Abu Bakar al-Baghdadi pada medio lalu memproklamasikan dirinya sebagai Khalifah tidak sedikit kaum muslim yang menyambutnya. Namun, jangan seperti menebak “kucing dalam karung.” Proses pembandingan layak dilakukan, mengingat selain kesamaan nama di antara Abu Bakar yang hidup di abad ke-7 masehi dengan Abu Bakar lainnya yang hidup di abad ke-21, keduanya adalah khalifah atau paling tidak mendaku khalifah seperti pada kasus Abu Bakar di abad ke-21. Namun, tidak semua dibahas. Yang menjadi titik perhatian dalam artikel ini adalah penyikapan mereka tentang adab atau etika peperangan.

Abu Bakar, atau nama lengkapnya Abdullah bin Utsman bin Amir bi Amru bin Ka’ab bin Saa’ad bin Tayyim bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Quraisy. Jika merujuk teorinya Thomas Carlyle tentang “The Great Man”, Abu Bakar adalah tokoh sejarah yang berperan besar.

Abu Bakar termasuk assābiqūnalawwalūn atau orang paling awal memeluk agama Islam. Sepeninggal Rasul, Abu Bakar adalah Khalifah Pertama Islam. Ia termasuk “Khulafā’u’r-Rāsyidīn” (Pemimpin yang diberi petunjuk) yang berhasil merapatkan barisan dan meneguhkan kesetiaan bangsa Arab pada ajaran yang dibawa .

Sehari setelah pelantikan sebagai Khalifah, Abu Bakar mengirimkan ekspedisi Usamah bin Zaid. Sebelumnya, pasukan ini dikirim Rasulullah untuk mengatasi provokasi Romawi di wilayah Suriah. Berita kewafatan Rasul membuat pasukan ini kembali ke pos-nya di Madinah.

Sebelum keberangkatan, Abu Bakar menyampaikan “last minute briefing” kepada pasukannya, “Saudara-saudaraku ikuti seluruh pesanku ini, dan perhatikan baik-baik: jangan berkhianat, jangan mencuri, jangan menjarah, jangan memperdaya, jangan menganiaya, jangan membunuh anak-anak, orang lanjut usia, dan perempuan, jangan menebang atau membakar kebun kurma, jangan menebang pohon yang sedang berbuah, jangan menyembelih kambing, sapi dan unta kecuali untuk dimakan. Kalian akan melewati golongan manusia yang mengabdikan diri dan tinggal dalam biara-biara, biarkan mereka, jangan diganggu. Kalian akan singgah pada suatu golongan yang akan menghidangkan berbagai macam makanan. Jika di antaranya ada yang kalian makan, maka sebutlah nama Allah.” (Effendi, 2015).

Lebih dari satu millennium sebelum konvensi Jenewa mengatur etika berperang, Abu Bakar sudah memberlakukannya bagi pasukan kaum Muslim. Etika atau adab berperang yang dicontohkan Abu Bakar adalah kelanjutan dari Rasulullah saw..

Rasululah senantiasa berpesan agar pasukannya menjaga kenyamanan hidup tawanan. Bahkan, kaum Muslim harus lebih memerhatikan kenyamanan tawanan mereka daripada kenyamanan mereka sendiri (HR Tirmīdzī). Atau pelarangan pasukan muslim mencacati jenazah musuhnya (HR Muslim) dan banyak lagi.

Karena seperti dituturkan Karen Armstrong dalam “Islam: A Short History”, Al-Qur’ān (Al-Qur’an) tidak menguduskan peperangan. Al-Qur’an mengemukakan gagasan perang yang adil untuk pembelaan diri demi melindungi nilai-nilai yang layak, tetapi mengutuk pembunuhan dan agresi (2014).

Oleh karenanya peperangan dalam Islam bersifat “membela  diri.” Perilaku jahiliyah seperti penganiayaan tawanan, pembunuhan terhadap masyarakat sipil, pendeta atau tokoh agama dilarang. Begitu pula dengan perusakan tempat ibadah mereka. Hal ini terekam dengan baik dalam benak Abu Bakar sebagai Penerus Rasul.

Namun, sayangnya etika ini tidak dicontoh oleh pasukan ISIS di bawah kendali Abu Bakar al-Baghdadi yang mendaku sebagai Khalifah. ISIS belakangan merubah namanya menjadi Islam State dengan tujuan untuk menjangkau daerah kekuasaan yang luas.

Tujuan mereka adalah meruntuhkan negara-negara yang sudah ada dan membentuk negara dengan penafsiran mereka. ISIS mengangkat Ibrahim bin Awwad bin Ibrahim bin Ali bin Muhammad al-Badri al-Samarrai alias Abu Bakar Al-Baghdadi sebagai khalifah pada Ramadhan 2014 lalu. ISIS sendiri merupakan organisasi gabungan dari bekas tentara loyalis Saddam Hussein, eks Partai Ba’ath, dan berbagai kelompok teroris (Sinar Islam, Oktober 2014).

ISIS mengklaim sebagai kelompok muslim yang ingin menegakkan syariah Allah di muka bumi. Ironisnya, mereka memilih cara-cara kekerasan yang sangat tidak islami. Praktek eksekusi massal dan penyiksaan terhadap tawanan direkam dan ditayangkan ke seluruh penjuru dunia melalui media sosial.

Pembakaran hidup-hidup pilot Jordania, Muath Kasassbeh dan eksekusi warga Mesir penganut Koptik adalah contohnya. Situs sejarah pun tak luput dari sasaran mereka. Makam Nabi Yunus hingga situs kota kuno Palmyra dihancurluluhkan tak tersisa.

Hingga detik ini, ribuan masyarakat sipil tak berdosa yang terdiri dari kelompok Syiah, etnis Kurdi, Yazidi, Shabaks, Turkomen dan suku-suku lainnya menjadi korban keganasan ISIS. Kepada kaum Muslim yang tidak sejalan, mereka mengobral fatwa kafir. Entah sampai kapan kekejaman mereka berakhir. Namun kemarahan dan kutukan dunia internasional terhadap ISIS sudah tak tertahankan lagi.

Dus, nama boleh saja sama. Membandingkan Abu Bakar al-Baghdadi sebagai pengejawantahan Khalifah Islam, apalagi mensejajarkannya dengan ketokohan Abu Bakar yang dijuluki “aṣ-Ṣiddīq” (yang berkata benar) adalah ibarat “bumi dengan langit.” Jadi, hendaknya kaum muslimin jangan kagetan atau silau dengan pangkat atau derajat Khalifah. Siapapun dapat mengaku sebagai Khalifah atau sekali pun, namun seperti peribahasa di awal, “loyang tetaplah loyang, bukan emas” semuanya akan terang-benderang pada waktunya.

_
Qureta.com

Tentang Penulis

Akhmad Reza

Tinggalkan komentar