Kebebasan Beragama

Duka dari Singkil | Bukti Islam bukan ajaran primitif | Revolusi Mental akhlak

Oleh Murtiono Yusuf | Kompasiana

 

Duka dari Singkil Bukti Islam bukan ajaran primitif Revolusi Mental akhlak bbc tribunnews Pembakaran gereja di Kabupaten Singkil, Aceh, Selasa (13/10) siang. (BBC/TribunNews)

Pembakaran gereja di Kabupaten , Aceh, Selasa (13/10) siang. (BBC/TribunNews)

SAYA masih merasa berhutang tulisan kelanjutan dari apa yang pernah saya tulis—“Duka dari Singkil | Tingkatan akhlak dalam Al-Qur’ān | Bukti Islam bukan ajaran primitif”. Alḥamdu lil-Lāh, saya baru ada kesempatan untuk menyusun sambungan dari tulisan tersebut. Barangkali ini tidak terlalu banyak, akan tetapi ini kondisi yang sangat mendasari banyaknya permasalahan yang muncul di masyarakat dan saya pikir kita semua perlu pahami. Harapan saya tidak muluk-muluk terutama dari diri kita masing-masing, saya Anda, keluarga Anda orang terdekat Anda dapat mengadakan perubahan ke arah yang lebih baik lagi.

Dalam tulisan yang lalu, sedikit saya singgung tentang tiga keadaan manusia yang dijelaskan dalam yaitu: Nafs Amarah, Nafs Lawwaamah, dan Nafs Muthmainnah. Coba kita perhatikan awal mula sekali kejadian manusia terbentuk dan berkembang dalam dinding rahim ibunya.

Tahapan perkembangan organ tubuh dan bentuknya selaras dengan bertambahnya usia hari perhari minggu perminggu dan bulan perbulan sekitar 1—40 minggu usia kandungan hingga menghantarkannya lahir ke dunia. Ketika bayi dalam usia kandungan 5 bulan mata bayi mulai sensitif terhadap cahaya dan ia sudah bisa merespon dengan berkedip, mengerutkan dahi serta menunjukkan berbagai eksperesi lainnya. Ia juga sudah bisa meninju, mulai bisa menelan, dan syaraf di otaknya juga sudah tersambung ke telinga yang mana sudah mencapai posisi akhir di tengkorak. Bayi juga sudah bisa mendengar detak jantung dan bunyi perut ibunya yang keroncongan. Ia juga bereaksi pada suara gaduh di luar lingkungannya dengan cara melompat atau bergerak ke sana kemari si ibu bisa merasakannya.

Di usia ini perkembangan sumsum tulang belakang bayi mulai memproduksi sel darah dan ia mulai mencerna gula dari cairan amniotik Anda. Indera perasa dan indera pengecapnya juga sudah berkembang, alat kelamin sudah sempurna. Dia juga mulai belajar bernafas dengan cara menggerakkan cairan amniotic masuk dan keluar dari paru-parunya. Bagian dalam telinganya sudah berkembang sampai tahap di mana ia bisa merasakan posisinya di dalam rahim apakah terbalik atau tidak. Dalam masa ini juga ia sudah mulai memilki jadwal atau siklus tidur dan bangun. Jari tangan dan tangannya sudah terbentuk sempurna walaupun ia belum bisa mengontrolnya. Si Ibu akan merasakan lebih banyak gerakan saat bayi Anda menjelajah dunianya yang terbatas di dalam kandungan.

Tahapan perkembangan pada janin di atas, refleksi atau respon yang muncul pada bayi dari sejak awal sekali di luar kesadaran dirinya sudah mulai direcord ke dalam otak yang pertama kali berkembang yang dalam bahasa neurosience disebut limbic atau old mammalian brain yang juga dapat kita jumpai pada binatang bertulang belakang dan menyusui mamalia. Di dalam limbic ada pusat memori penyimpanan yang bernama hippocampus. Hasil rekaman tersebut tumbuh menjadi habbit/kebiasaan, refleksi spontan dan keyakinan yang menentukan respon dia terhadap sesuatu menurut pengalamannya ini disebut sifat thabi‘i, hal ini terus berkembang hingga proses kelahirannya.

Begitu juga ketika dia lahir, dia mulai belajar dan merespon dari indera pengelihatannya, pengecapnya yang mulai mencari puting susu ibunya, dari tangan, serta telinganya. Dia juga sudah mulai menangis saat merasa tidak nyaman yang diakibatkan oleh kencing, pup, atau mungkin juga lapar, dan bisa jadi ketika merasakan sakit saat dicubit. Tangisan itu juga dapat berarti cara komunikasi atau marah karena apa yang menjadi keinginannya tidak segera mendapat penanganan.

Singkatnya semua pengalaman indera dengan paket respon terhadap hal-hal yang ada di dalam maupun di luar dirinya dan sedikit perkembangan koknitifnya di simpan dalam memori limbic yaitu Hippocampus.

Kita mendapati apa yang terjadi pada masa awal kejadian manusia itu tidak ada bedanya dengan apa yang dialami oleh kebanyakan binatang. Mereka melakukan tindakan mengikuti apa yang dalam bahasa disebut thabi‘i. Thabi‘i atau insting adalah sifat bawaan, baik bawaan secara hukum kudrat atau pun sifat bawaan yang tersimpan laten dan menitis dalam sel pembawa sifat manusia () dan terefleksi dalam bentuk tindakan.

Seperti yang sudah pernah saya sampaikan dalam tulisan sebelumnya, setiap kali manusia menerima satu instruksi dan tidak melalui proses bertanya kritis maka saat itu bagian otak limbiclah yang akan mengalami berkembang. Kita dapat melihat bagaiaman manusia-manusia primitive pra-sejarah, hidup berkoloni, mengikuti insting merespon lingkungannya dan tidak memiliki kemampuan berdiskusi dan kecuriagaan terhadap ras lain di luar kelompoknya. Ketika manusia berkembang dan besar hanya melakukan apa yang diperintahkannya tanpa mendapatkan penjelasan atau muncul pertanyaan dalam dirinya untuk apa dia melakukan ini dan itu, dan apa pula manfaat bagi dirinya, maka dia besar oleh dogma.

Dogma adalah keyakinan yang hanya ditelan mentah dan tidak mampu untuk dijelasakan atau menerima penjelasan, kemudian terbentuk keyakinan inti core beliefs yang melekat embedded. Saya terpikir apa ada hubungannya dengan seorang anak kecil yang cerdas selalu mengikuti apa kata gurunya dengan anak kecil yang selalu melawan gurunya karena banyaknya pertanyaan yang tidak dia dapatkan keterangan yang memuaskan dari sang Guru? Insyallah lain waktu saya akan mencoba membahas itu. Saya lanjutkan. Kita bisa melihat ketika anak kita banyak bertanya artinya otak tengah dia sedang dibesarkan keluar dari limbic karena bertanya, membantah adalah bukan domain limbic. Dengan kata lain anak kita sedang dalam proses menjadi manusia, keluar dari proses binatang yang hanya menerima dan menjalankan sebagaimana kerja limbic.

Namun ketika kita melihat antara manusia berkelahi, membakar rumah ibadah, membuat policy berdampak kepada masyarakat mengesampingkan hak dasar mereka dan tidak diajak berbicara duduk bersama. Ketika kita melihat pembiyaran terhadap ungkapan kebencian diruang publik, penghinaan dan ancaman. Ketika kita melihat masing-masing orang, partai, lembaga apapun itu memperebutkan sesuatu dan tidak dapat melakukan proses musyawarah, sebenarnya mereka sedang menggunakan limbic mereka untuk menyelesaikan masalah. Mereka sedang memposisikan diri mereka sejajar dengan binatang. Sungguh ironi.

Penulis melihat bagaimana, disebuah rapat menentukan kebijakan masyarakat harus menggunakan jalan voting, dan tidak mampu musyawarah guna mencapai mufakat. Barang kali ini yang dimaksud Tuhan mengajarkan kepada kita dalam setiap perselisihan beda pendapat agar menempuh jalan Mu’asyara bil ma’ruf? Musyawarah untuk mencapai kesepakatan yang baik. Di situ ada proses, berfikir rasionil sesuai dengan norma etitute, etika masyarakat, susila, disiplin ilmu, dan saling mengikhlaskan.

Ada proses menekan pribadi golongan demi kemajuan bersama. Itu semua dimaksudkan agar kita dapat meninggalkan limbic, dan berfikir pada tempat duduk manusia yang lebih terhormat, berakal dan berkhlak. Sedikit saya simpulkan, agama melalui / mengajarkan kita norma dan adap hidup untuk membentuk menjadikan manusia yang berbeda dengan makhluk lainnya. Menjadikan mereka dapat membaur di luar kelompoknya, menjalin persaudaraan dan hubungan yang bermanfaat. Agama harus bisa menjadikan setiap kita “Kudu andhap asor” Tawadu’ rendah hati dan “Wani ngalah dhuwur wekasane” yaitu berani mengalah untuk kemuliaan pada akhirnya. Karena musuh sejatinya adalah hawa nafsu diri sendiri.

Semoga revolusi mental ini berada pada landasan penjelasan di atas, agar generasi kita boleh berbangga mereka tidak melihat ini menjadi KARBIT—“Kebun Raya Binatang Indonesia”.

Tentang Penulis

Murtiyono Yusuf

Tinggalkan komentar