Opini

Eksistensi Ahmadiyah di Negara Bhinneka Tunggal Ika

ahmadiyah

Sore hari yang sangat indah. Burung mulai berkicau di atas langit, mengeluarkan suara merdu yang mewarnai keharmonisan senja di ufuk barat. Matahari yang bersinar mulai masuk kembali ke dalam peraduannya. Perlahan-lahan, langit mulai gelap.

Bintang mulai menampakkan sosoknya dan mewarnai indahnya dunia di malam hari. Aku mulai naik ke atas atap seraya menatap bintang di langit. Mengucapkan rasa syukur kepada Sang Maha Pencipta yang masih memberikan aku kesempatan hidup di tengah misteri sisa hidup ku.

Aku mulai menatapnya satu per satu bintang yang ada di atas langit. Dari yang paling cerah hingga yang paling redup. Menciptakan sebuah keberagaman dengan ribuan notasi bintang di tengah kesyahduan alam semesta. Kemudian, aku mulai menghubungkan semua bintang yang ada dari yang jumlahnya satu hingga beberapa bintang dan membentuk gugusan bintang.

Semua gugusan bintang yang terbentuk mencerminkan kehidupan masyarakat yang bersatu di atas perbedaan yang dimiliki nya, tanpa memandang apapun status yang dimilikinya. saat ini sudah memasuki usia yang ke 73 tahun. Tentu, umur tersebut bukanlah umur jagung lagi.

Sudah banyak catatan sejarah yang terbentuk, dari Indonesia hanyalah tempat singgah penjajah hingga era demokrasi yang menyuarakan hak kebebasan. Sudah banyak pula yang diperjuangkan bangsa Indonesia, mulai dari penjajahan, terorisme, bahkan hak untuk kebebasan beragama. Tetapi tetap saja, kasus yang ada masih tetap terjadi di dunia ini. Mulai dari korupsi hingga di negara Bhinneka Tunggal Ika.

Kasus intoleransi yang ada di Indonesia sudah bukan merupakan hal yang baru. Pada umumnya, intoleransi tidak selamanya buruk. Semisal contohnya kita intoleransi terhadap pola hidup masyarakat yang merokok, berpakaian yang tidak semestinya, melanggar norma sosial, dsb. Permasalahan yang ada saat ini adalah semakin meningkatnya kasus intoleransi atas keberagaman keyakinan yang ada, baik Yahudi, Syiah, maupun

Ingatkah kalian terhadap kasus jemaat Ahmadiyah yang ada di Lombok? Yang mendapatkan persekusi di masyarakat dari tahun ke tahun. Pernahkah kalian terbesit bagaiman kehidupan mereka? Yang merasakan tempat tinggal yang sangat jauh untuk dibilang layak.

Apakah kalian sanggup untuk bisa bertahan seperti mereka? Yang tetap berpengang teguh terhadap Iman diatas badai intoleransi. Mungkin tidak hanya Ahmadiyah Lombok saja, tetapi di beberapa daerah atau mungkin beberapa negara yang merasakan hal serupa

Aku mulai mencoba memenjamkan mata dan menghela nafas secara perlahan di tengah dinginnya malam. Aku menangis di dalam batin atas semua kebencian yang ada. Melihat semua kenyataan yang terjadi di depan mata.

Mari kita berfikir sejenak dan menelusuri sejarah bagaimana negara Indonesia bisa merdeka. Indonesia sesungguhnya bukan hanya dimiliki oleh maupun Hatta sahaja, tetapi semua masyarakat Indonesia, atas nama bangsa Indonesia.

Pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan bukan hanya dari satu latar belakang belaka, tetapi terdapat ribuan latar belakang suku, bangsa maupun . Adapun salah satu contoh pahlawan yang berasal dari Ahmadiyah yaitu Arief Rahman Hakim yang turun tangan untuk memperjuangkan kemerdekaan

Perjuangan yang dilakukan oleh jemaat Ahmadiyah tidak berhenti sampai disitu. Sudah banyak program yang dilakukan oleh kami, mulai dari clean the city, donor darah, donor mata, give blood, dan yang lainnya dengan maksud dan tujuan yang sama, yaitu untuk menyebarkan kesejahteraan dan cinta kasih untuk sesama.

Melakukan semua program yang ada tentu bukanlah hal yang mudah. Di balik semua program yang ada, kami memiliki motto yang selalu dipegang teguh oleh setiap Ahmadi di seluruh dunia, yaitu Love for All, Hatred for None. Sebuah motto yang berasal dari Hz. Mirza Nasir Ahmad  yang selalu membangkitkan semangat Ahmadi untuk menyebarkan kesejahteraan dan perdamaian yang hakiki.

Walaupun kasus intoleransi atas nama agama kian mencuat, bukan berarti kita tinggal diam terhadap kenyataan yang ada. Bukan berarti pula kita duduk dan bersantai ria dengan gadget di genggaman kita dunia akan berubah.

Bukan berarti kita mengeluh dan bersua ria di media sosial dunia akan berubah. Negeri kita adalah negeri haha hihi, sebuah lelucon yang tercipta di tengah kerusakan penegak keadilan. Perlu adanya upaya yang dilakukan untuk menciptakan perdamaian, khususnya oleh future leader yang akan mengemban peran penting di masyarakat. Sebagai pemuda, tentunya kita harus bersatu untuk melawan intoleransi.

Sebagaimana pesan Hz. Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad (RA) yaitu A nation cannot be reformed without the reformation of its youth, yang menunjukkan kita harus bersatu dan selalu berada di garda terdepan untuk menghilangkan intoleransi dan menciptakan perdamaian

Intoleransi memang bukanlah sebuah hal yang baru. Setiap harinya, kita dapat merasakan kasus tersebut di sekitar kita. Sebuah kekerasan atas nama agama dengan berbalut menegakkan agama, bukanlah cara yang baik di dalam negara yang ber Bhinneka Tunggal Ika.

Kita hidup di negara yang memiliki keberagaman unik di setiap insan manusia. Berusaha meluangkan waktu sejenak dan berkontribusi untuk menciptkan perdamaian, merupakan salah salah satu langkah yang dapat ditempuh untuk mengakhiri kesakitan ini. Menciptakan irama perdamaian untuk Indonesia yang lebih baik

Dirgahayu Indonesia!

Sumber gambar:

http://ahmadiyah.org/wp-content/uploads/2015/08/demo-ahmadiyah-50.jpg

Tentang Penulis

Nabilah Hurul Aini