Opini

Era Pilpres, Hoaks “Kriminalisasi Ulama” Mulai Didengungkan

hoaks

Menurut Kamus Besar Bahasa (KBBI), ‘’ adalah ‘berita bohong”. Menurut KBBI, ‘bohong’ adalah ‘tidak sesuai dengan hal (keadaan dan sebagainya) yang sebenarnya; dusta’. Sehingga dapat diartikan sebagai berita yang tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. muncul saat keadaan tertentu saja, misalkan saat dimana banyak tentang Pak Jokowi. Ada lagi yang diajarkan oleh orang tua ke anaknya dari generasi ke generasi, seperti cerita Malin Kundang.

Hoaks Sementara

Tahun depan rakyat Indonesia akan mengikuti proses pemilihan presiden (pilpres). Bersiap-siaplah menerima segala macam hoaks yang ditujukan kepada presiden saat ini yakni Pak Jokowi. Kampanye hitam ini bertujuan untuk membentuk persepsi buruk di masyarakat terhadap sosok Jokowi, dengan harapan masyarakat tidak memilih Pak Jokowi lagi.

Felix Siauw, menulis di laman FB nya pada 8 Januari “Mereka lupa bahwa umat masih ingat, partai mana yang paling getol melakukan kriminalisasi , memberi stigma buruk agama Islam, bahkan menganggap agama sebagai ideologi tertutup yang berbahaya”.  Dan “Yang lebih aneh lagi, perlakuan dari pihak berwenang yang sangat berbeda, misalnya dengan kasus fake chat mesum. Bila urusannya dengan ulama, super cepat prosesnya”.

Mantan Presiden RI ke 6 pak SBY berkata, “Pemerintah jangan sedikit-sedikit, dengan mudah mengkriminalisasi, memanggil, seolah-olah dianggap kejahatan. Saya kira bisa dengan saling mengingatkan agar tidak jadi kasus itu. Kalau dianggap ucapan Anda (ulama dan kiai) bisa dikriminalkan, menurut saya, pendakwah, ulama, tentu tahu batasnya. Selama tidak melanggar konstitusi, maka tidak boleh terlalu cepat (dianggap) melanggar hukum,” ucap dia. (CNN, “.SBY: Pemerintah Jangan Sedikit-sedikit Kriminalisasi Ulama”).

Mengapa kriminilasasi ulama adalah hoaks? Tanyakan kepada kedua tokoh ini apakah mereka sudah melakukan penelitian akademis yang dapat dipertanggungjawabkan, untuk mencari bukti-bukti atau fakta-fakta atau data-data yang mendukung bahwa Jokowi melakukan kriminilisasi ulama? Jika tidak ada, jelas kriminalisasi ulama adalah hoaks.

“Apa yang disampaikan ulama, seringkali didengar, diikuti dan dicerna oleh publik. Oleh karena itu, publik harus diberikan data yang akurat dan kredibel. Kalau datanya tidak akurat, kredibel, sedangkan figurnya diikuti dan didengar publik, ini bahaya. Nanti missleading,” kata Jenderal Polisi Pak Tito (Kompas, “ Tegaskan Kasus Zulkifli Muhammad Bukan Kriminalisasi Ulama”).

Melindungi Diri dari Hoaks

Hoaks akan terus bermunculan, setidaknya sampai pilpres 2019 berakhir. Masyarakat harus belajar melindungi diri dari serangan hoaks yang dapat muncul di berbagai media dengan melakukan penelitian langsung kepada sumbernya.

Dalam hoaks kriminalisasi ulama, kepolisian bisa jadi sumber utama karena mereka yang berwenang untuk menangkap para pelaku kriminal. Sumber kedua dapat kita telaah dari berbagai sumber yang melaporkan apa saja tindakan atau usaha Jokowi untuk menjunjung tinggi derajat dan martabat para Ulama.

Mungkin pernyataan dari Kiai Ma’aruf ketua MUI bisa jadi rujukan. “Kita bersyukur punya presiden cinta ulama. Doakan sehat, panjang umur, sukses, melaksanakan tugas dengan baik,” kata Kiai Ma’ruf (Republika, “Kiai Ma’ruf: Kita Bersyukur Punya Presiden Cinta Ulama”).

Jika tidak mempunyai waktu untuk melakukan penelitian langsung kita bisa membaca hasil penelitian orang yang sudah dibukukan. Siapapun yang melakukan penelitian langsung ke lapangan atau membaca buku hasil penelitian seseorang dapat dengan mudah menghilangkan pengaruh atau kepercayaan terhadap hoaks “kriminalisasi ulama”.

Hoaks Yang Diajarkan Turun-temurun

Selain Malin Kundang, ada lagi satu cerita yang sudah diajarkan secara turun-temurun, generasi ke generasi. Cerita tersebut adalah “Diangkatnya Nabi Isa as./Yesus as. Ke langit kemudian hidup di langit/surga”. Hal ini mungkin dipercaya oleh mayoritas 97% rakyat Indonesia yang terdiri dari 87% umat Muslim, 7% umat Protestan, dan 3% umat Katolik (Wikipedia, Sensus Penduduk BPS tahun 2010 : Penduduk Menurut Wilayah dan Agama yang Dianut).

Perlu diketahui, terdapat lima buah buku yang merupakan hasil penelitian terhadap jejak-jejak Yesus/Nabi Isa as. selamat atau lolos dari kematian diatas salib, kemudian hijrah ke Kashmir, India sebagai tempat peristirahatannya terakhirnya.

Buku pertama adalah Jesus in Kashmir The Lost Tomb  hasil penilitian Suzanne Olsson. Dikutip dari Amazon, Suzanne Olsson adalah seorang ahli sejarah. Dengan keahliannya, dia menghabiskan sepuluh tahun di India, Pakistan, dan daerah perang di Afganistan untuk membuktikan bahwa Yesus tidak diangkat ke langit, melainkan hijrah ke India untuk melanjutkan misinya yakni mengumpulkan domba-domba bani Israel yang tersesat. Menjelang akhirnya, Suzanne menyimpulkan Yesus as. Dikuburkan di Kashmir, India.  

Buku yang kedua adalah Jesus Lived in India: His Unknown Life Before and After the Crucifixion hasil penilitian dari Holger Kersten. Beliau menceritakan kehidupan Yesus as di India sebelum dan sesudah penyaliban. Dikutip dari Amazon, sinopsis dari buku ini adalah “…Jesus survived the crucifixion. After the resurrection Jesus returned to India to die in old age. Jesus was buried in Srinagar, the capital of Jammu and Kashmir, where he continues to be revered as a saintly man. The tomb of Jesus still exists in Kashmir.” kurang lebih artinya Yesus selamat dari penyaliban, setelah “hidup kembali” Yesus kembali ke India, lalu meninggal karena usia yang sudah tua dan dikuburkan di Srinagar, Kashmir, India.

Buku ketiga adalah Jesus in Heaven on Earth: Journey of Jesus to Kashmir, His Preaching to the Lost Tribes of Israel, and Death and Burial in Srinagar hasil penelitian dari Khwaja Nazir Ahmad. Dikutip dari Amazon, sinopsis buku ini adalah “This is a detailed research work, based on scriptural, historical and archeological evidence, showing that the people of Afghanistan and Kashmir belong to the ten lost tribes of Israel, and that the Prophet Jesus, having survived death on the cross, came to this area to continue his mission among the “lost sheep ” of Israel and died in Kashmir. The book offers proof that the tomb of the Prophet Jesus is in Srinagar, the capital of Kashmir”.

Buku keempat adalah The Jesus Papers: Exposing the Greatest Cover-Up in History. Buku tidak menceritakan tentang kuburan Yesus as. Di Kashmir, hanya saja di dalam bab ke 7, Penyelamatan Dari Penyaliban, diceritakan bagaimana kemungkinan Yesus bisa selamat diatas salib. Buku ini dapat diunduh di http://projectavalon.net/The_Jesus_Papers_Michael_Baigent.pdf.

Buku kelima adalah Jesus Died In Kashmir: Jesus, Moses And The Ten Lost Tribes Of Israel hasil penelitian Andreas Faber Kaiser seorang ahli filosofi dan studi perbandingan agama. Dalam bukunya, Andreas Faber Kaiser menulis surat kepada Pope John XXIII: “From a medical point of view, it has been proved that the body that lay in the shroud was not dead, as the heart was then still beating. The traces of blood fluid, its position and nature, give positive scientific proof that the so-called execution was not legally complete. This discovery suggests that the present and past teachings of Christianity are incorrect. Your Holiness, this is how the case stands scientifically” (Faber-Kaiser, p. 31).

Kelima buku tersebut memiliki kesimpulan yang sama, yakni “yang disalib adalah benar Yesus/Nabi Isa as, bukan orang lain, tetapi berhasil lolos dari kematian diatas salib”. Para pembaca umat Muslim dan Kristiani akan sangat sulit menerima fakta ini. Karena umat Muslim percaya bahwa yang disalib bukan Yesus as, sedangkan umat Kristiani percaya bahwa Yesus as. Wafat diatas salib, namun keduanya yakin Nabi Isa as./Yesus masih hidup di langit. Apakah kepercayaan ini yang bisa dibilang hoaks karena tidak sesuai dengan fakta dari hasil penelitian diatas?

Stephen Hawking berkata, “There is a fundamental difference between religion, which is based on authority, and science, which is based on observation and reason. Science will win because it works”. Jika ada ajaran agama yang bertentangan dengan ilmu pengetahuan, bisa jadi memang agamanya yang salah atau terdapat pemahaman yang salah terhadap ajaran agama tersebut.

 Sumber Gambar: http://pusam.umm.ac.id/-dan-lunturnya-moderatisme-islam/

Tentang Penulis

Fariz Abdussalam