Opini

Euforia Ramadan Hanya Teatrikal Belaka ?

ramadan

tiba,, Keimanan mulai terjaga…

Akankah terus tertata atau hanya teatrikal belaka..?

Menjelang sebelum bulan Ramadan menyapa, banyak orang mulai disibukan dengan segala persiapannya. Dari persiapan jasmani hingga persiapan rohani tak ketinggalan menyemarakkan kehadiran bulan suci. Unik memang, faktanya memang setiap tahun menjelang Ramadan itulah hal yang terjadi.

Sebut saja di tanah Jawa, kultur keislaman yang kental menambah unik persiapan Ramadan secara jasmani. Banyak masyarakat yang sengaja membuat kue apem sebelum puasa. Namun, menurut mereka, tak hanya sekedar kue, apem ternyata berasal dari kata bahasa arab yaitu afwan yang artinya adalah maaf. Jadi, dengan adanya kue apem tersebut, masyarakat dirasa harus saling memaafkan satu sama lain.

Tak ketinggalan dari segi rohani, tentunya ada serentetan persiapan. Tak sedikit orang yang mulai mengupdate lagi keimanannya untuk menyambut bulan suci. Permohonan maaf dan saling memaafkan satu sama lain pun sudah menjadi tradisi.

Untuk generasi milenial saat ini pun begitu. Tradisi saling memaafkan masih dipertahankan. Tentunya beda generasi, beda pula cara untuk melakukan tradisi. Update status di laman Instagram, Twitter, hingga facebook mulai disemarakan dengan tradisi permohonan maaf hingga kata – kata suci menyambut bulan Suci.

Sejuknya sesaat menjelang bulan Ramadan, atmosfer yang kuat mengenai bulan suci memancing banyak para manusia untuk senantiasa memaksimalkan keimanan di bulan ini.  Dari shalat Tarawih, Tahajud, ibadah puasa, hingga tadarus, menyemarakan rutinitas kegiatan di bulan Ramadan. Masjid – masjid yang biasanya sepi tanpa keramaian para makmum, di malam perdana tarawih mulai penuh bahkan memenuhi teras masjid di luar. Sesibuk apa pun para manusia dengan rutinitas hariannya, mereka mulai menyempatkan diri untuk mengupdate hati agar lebih suci. Tak heran, jika dengan datangnya Ramadan tak sedikit keimanan manusia mulai terjaga.

Namun, tak berhenti sampai di sini saja, ada hal – hal yang mulai menyayat hati kala Ramadan terus berjalan seiring dengan waktu. Minggu pertama dapat dikatakan kekentalan ibadah di bulan suci masih terjaga. Di permulaan minggu kedua bulan Ramadan, saf – saf di masjid mulai berkurang, tak seramai biasanya dan tak sesemangat malam – malam sebelumnya. Bahkan tak sedikit pusat perbelanjaan mulai dipenuhi keramaian orang – orang yang berburu persiapan Idul Fitri. Euforia Ramadan yang menyejukan mulai terkikis untuk fokus persiapan Jasmani di hari Ied nanti. Entahlah, faktanya memang itu yang sudah sering terjadi. Teatrikal persiapan Ramadan di awal hingga lunturnya kegiatan rohani karena menitikberatkan persiapan jasmani.

Belum lagi pasca Idul Fitri nanti. Masjid – masjid yang ramai riuh karena makmum datang berduyun – duyun untuk melaksanakan shalat isya dan tarawih, sebulan kemudian ada pemandangan yang sangat berbeda, jangankan keramaian, untuk mendapatkan 1 saf full saja dirasa sulit. Kemanakah para makmum yang dulu menyemarakkan Masjid di Bulan Suci. Keimanan yang dahulu terjaga di bulan suci, haruskah terkikis seiring dengan habisnya masa waktu bulan suci di bulan ini?

Padahal, Allah SWT lebih menyukai ibadah yang terus dilakukan secara continue, sekecil apa pun namun terus dilakukan Allah Taala lebih menyukainya, selaras dengan sabda Rasulullah SAW:

Tahanlah, hendaknya kalian melakukan apa yang kalian mampu. Demi Allah, Allah tidak akan merasa bosan hingga kalian merasa bosan. Dan (ibadah) yang paling Allah cintai dari agama ini adalah yang dilakukan oleh pelakunya secara terus menerus.”

  1. Nasa’i

Jika saja pasca bulan suci nanti, masjid masih dipenuhi para makmum yang senantiasa melaksanakan shalat Isya berjamaah, pastinya Allah SWT akan tersenyum bangga melihat para umat-Nya yang senantiasa menjaga keimanannya.

Gumamku, kuharap ini hanya kekhawatiranku belaka. Kekhawatiran yang sejatinya terjadi tahun demi tahun di bulan Ramadan sebelumnya. Yang hanya sekedar teatrikal yang habis ditelan waktu seiring dengan masa habisnya bulan suci. Semoga di tahun ini, euphoria Ramadan tak lagi sekedar teatrikal namun menjadikan keimanan dapat terus terjaga dan tertata tanpa mengikuti masa habisnya bulan suci.

Sumber gambar: http://www.lensaremaja.com/wp-content/uploads/2015/06/Ucapan-Kata-Mutiara-DP-BBM-Selamat-Puasa-1436-H-2015.jpeg

 

Tentang Penulis

Mutia Siddiqa Muhsin

Tinggalkan komentar